Sosok ARN Calon Walikota Makassar, Dari Bisnis Ke Panggung Politik (1)


Abdul Rachmat Noer Calon Walikota Makassar/Istimewa
Bugiswarta.com, Makassar -- Tulisan ini memberikan sedikit informasi tentang salah satu bakal calon Walikota Makassar yang akan bertarung tahun 2020. Dialah Abdul Rachmat Noer yang diakronimkan dengan (ARN) dia adalah sosok pemimpin baru Makassar yang memahami kondisi kejiwaan warga kota Makassar.

Abdul Rachmat Noer (ARN), seorang mantan aktifis yang kemudian bertransformasi menjadi seorang professional. Jabatannya di salah satu BUMN terkenal di Kawasan Timur Indonesia cukup diperhitungkan. 

Dulu dimasa kuliah dia menghabiskan waktunya mengurusi organisasi khususnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Pernah menjabat sebagai Ketua IMM Komisariat Fakultas Ekonomi Unhas tahun 1988, kemudian diamanahkan sebagai Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Makassar tahun 1991 dan Sekretaria Korps Instruktur DPD IMM Sulselra.

Kini Rachmat menduduki posisi jabatan sebagai General Manager of Human Capital and General PT. Semen Tonasa. Sebuah posisi yang sangat strategis diperusahaan saat ini, ketika pembangunan SDM menjadi program pokok pemerintahan kedua Presiden Jokowi.

Masa Kecil 

Abdul Rachmat Noer dilahirkan di Makassar pada hari Senin 31 Juli 1967 pukul 10.35 di sebuah BKIA Maccini Baji, Jl. Kumala Makassar. Bangunan klinik ini sekarang sudah tidak ditemukan lagi karena sudah tutup sejak beberapa tahun lalu.

Lahir sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara dari pasangan H.Taufik Mandja dan Hj Sitti Nur Dewi. Ayahnya adalah seorang pengusaha becak sekitar tahun 1979 – 1984, dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Kakak perempuannya bernama Rahmatia Nur, berjarak 4 tahun dengan dirinya.

Kehidupan di masa kecilnya telah membentuk karakternya hari ini. Sekalipun hanya 2 bersaudara tetapi ayahnya yang berasal dari Jeneponto mendidiknya cukup keras dan disiplin.

“Saya tidak pernah dimanjakan oleh Bapak, bahkan sering kena rotan jika berbuat kesalahan di rumah,” ujar ARN.

Ketatnya aturan rumah tangga yang dibuat ayahnya sangat membekas dalam benaknya. Dirinya masih ingat kapan dihukum, alat yang dipakai serta ukuran yang dipakai untuk menghukum dirinya.
“Betis saya ini langganan rotan dan ikat pinggang. Biasanya setelah dihukum, selalu mengadu kepada Ibu sambil menangis dan beliau sangat peduli dengan keluhan saya. Saat dipeluk oleh Ibu, hati dan pikiran saya mulai tenang. Saya tidak pernah menangis saat dihukum karena jika menangis maka hukumannya ditambah,” katanya.

“Tapi saya bersyukur bahwa sejak kecil sudah dididik disiplin oleh orang tua, kalau tidak seperti itu mungkin saya tidak bisa seperti saat ini. Terakhir saya mendapatkan hukuman dari Bapak ketika di SD, dan sejak masuk SMP beliau tidak pernah memberi hukuman fisik lagi. Paling hanya diberi nasehat,” jelas Rachmat 
menambahkan.
Bersambung....

Share on Google Plus

About bugis warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment