Pendidikan ARN Calon Walikota Makassar, Dari Bisnis Ke Panggung Politik (2)




Pendidikan

Abdul Rachmat Noer mulai menikmati pendidikan melalui pendidikan anak usia dini yaitu TK. Aisyiyah Busthanul Athfal Cabang Ujung Pandang di Jl. Durian Makassar.

“Umur 3 tahun saya mulai menikmati lingkungan Taman Kanak-kanak. Saya bersekolah dan menikmati kehidupan di TK ini selama 2 tahun,” terangnya.

Dia menceritakan, di bangku TK ini dirinya termasuk anak yang cengeng dan sulit beradaptasi dengan lingkungan. Ketika TK Aisyiyah tampil di RRI sekitar tahun 1970 an, dia menangis terus dan terdengar oleh Ibu dan keluarga di rumah.

“Mereka tertawa mendengar tangisan saya sepanjang acara. Kenapa saya menangis, karena merasa gugup dan takut melihat Mic,” kenang ARN.

Selesai di TK. Aisyiyah, Baso demikian Rachmat dipanggil oleh ayahnya di masa kecilnya melanjutkan di SD PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) IKIP Ujung Pandang dan menyelesaikan masa belajar selama 5 tahun hingga tamat tahun 1979.

Kemudian melanjutkan sekolah di SMP PPSP IKIP Ujung Pandang dan tamat tahun 1982. Selepas dari SMP, melanjutkan sekolah di SMA Negeri 2 Makassar, selesai tahun 1985.

Setelah tamat SMA, dia melanjutkan pendidikan masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin pada tahun 1985 melalui jalur bebas test yang dikenal dengan program Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK).

Kemampuan akademik Rachmat sejak SD dan SMP biasa saja, tidak pernah meraih prestasi akademik. Kemampuan akademik mulai tampak ketika di bangku SMAN 2 Makassar, dia sering masuk ranking 3 besar di kelas sejak kelas 1 hingga kelas 3.

Prestasi ini kemudian mengantarkan ARN sebagai siswa yang mendapatkan program PMDK Depdidkbud RI. Kalau ditanya nilai rapor selama di SMA, Rachmat hanya tertawa mengenang betap sulitnya memperoleh nilai ditinggi di SMAN 2 kala itu.

“10 itu angka Tuhan, 9 angka malaikat, 8 angka guru, 7 baru angka siswa. Tidak ada nilai 8 di rapor kami waktu itu, jelasnya sambil tertawa.

Abdul Rachmat Noer mulai mengenal organisasi sejak masa SMA, saat aktif di OSIS SMAN 2 Ujung Pandang, Remaja Mesjid Sekolah dan Palang Merah Remaja (PMR) PMI.

Selain di organisasi intra sekolah, dia juga mulai mengenal organisasi ekstra yaitu Ikatan Pelajar Muhammadiyah, bahkan sempat menjadi pimpinan dan instruktur di IPM Cabang Sambung Jawa.

“Perkenalannya terhadap organisasi di SMA menjadi pintu dan membukakan jalan untuk selalu saya aktif di organisasi ketika memasuki dunia kampus hingga hari ini,” terangnya.

Bersambung

Share on Google Plus

About bugis warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment