Sistem Pendidikan yang Membingungkan

Musfira, Aktivis Pembebasan Kol-Kot Sinjai
Bercerita mengenai dunia pendidikan, hampir sama seperti memperebutkan mutiara palsu yang dibeli di pinggir jalan. Itu bila melihat realita yang terjadi saat ini. Banyak orang yang tidak bisa mengakses apalagi menikmatinya. Bukan hanya karena mahalnya biaya pendidikan yang harus dibayar bagi orang yang hidup di bawah garis kemiskinan, tapi juga akses untuk ke tempat pendidikan. Bagi orang yang di pelosok untuk mengenyam pendidikan, tak semudah minum kopi lalu mengkhayal.

Meskipun kita ketahui bersama bahwa pendidikan sangatlah penting untuk semua orang apalagi bagi generasi. Tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Lewat pendidikan berkualitas lah kita memiliki wawasan luas, pengetahuan banyak, pemahaman yang dalam dan karakter yang matang sera mampu bersaing dengan masyarakat dunia. Bukan hanya itu, tapi dengan pendidikan juga kita mampu mengangkat derajat bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, dan mengharumkan nama Indonesia tercinta di mata dunia.

Namun bila melihat kondisi saat ini, ada banyak keganjilan yang terjadi. Banyak yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ada yang hanya sampai Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menegah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Kalau di desa-desa dan kampung terpencil sendiri, hanyalah orang-orang tertentu yang bisa sampai ke tingkat perguruan tinggi atau universitas.

Itu terjadi bukan karena kurangnya semangat, atau dukungan dari masyarakat, melainkan tidak mampu karena berbagai kendala. Ada yang terkendala karena biaya, akses transportasi dan ada juga yang berhenti karena harus bekerja kebun dan bertani untuk menghidupi keluarganya.

Sekalipun ada berbagai kebijakan mengenai pendidikan yang katanya gratis. Tapi tidak bisa diakses secara maksimal oleh semua kalangan di negeri ini. Bagi mereka yang memiliki banyak uang atau hidup mewah, tidak jadi masalah jika pendidikan  mahal. Namun, bagaimana rakyat kecil, tentu hanya mampu bermimpi dan menghayal tentang indahnya dunia pendidikan.

Kalaupun kita masuk dalam sistem pendidikan itu, bukan berarti telah lepas dari persoalan. Tapi di dalam sistem pendidikan juga terdapat beragam menu karakter persoalan. Tenaga pendidik, ada yang mendidik secara polos, ada karena keharusan (formalitas) yang tampak arogan, dan ada yang memang betul-betul ingin mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tidak bisa terbantahkan bahwa permasalahan dalam dunia pendidikan yang berlangsung hingga hari ini. Kadang pula sistem itu berubah menjadi komoditas, diperebutkan untuk individu atau golongan. Bila demikian, kasarnya adalah peserta didik bisa dikata cacat sejak dalam kandungan.

Untuk melihat keganjilan. Dampak dari kealpaan pendidikan  seperti yang saya maksud di atas, kita tidak mesti jauh-jauh. Hanya perlu berpaling dan akan kita temui seperti gelandangan di kota-kota, pencuri dimana-mana dan pengangguran. Terkhusus generasi muda atau anak bangsa yang kebanyakan tidak sempat memikirkan hari esok atau fobia memikirkan masa depannya.

Sebagai seorang pemudi, perempuan sederhana dari pelosok desa terpencil. Saya sendiri masih dilema mengamati sistem pendidikan formal di negeri ini. Karena itu, apakah kita hanya akan tinggal diam, sambil menghirup kopi panas menyaksikan kondisi negeri ini, melihat sistem pendidikan yang semakin jauh dari esensinya. Yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, memuliakan manusia? Tentunya bila kita masih berpikir dengan akal sehat, maka kita tidak akan membiarkan hal itu berlarut.

Saya tidak akan menulis banyak soal itu. Tapi satu hal yang sangat saya harapkan. semoga pemerintah kedepannya memperbaiki sistem pendidikan yang ada. Memberikan pengawasan penuh agar pendidikan gratis bisa dinikmati oleh semua orang. Membangun sekolah-sekolah khususnya di desa-desa dan tempat terpencil supaya tercipta pendidikan berkualitas secara universal.

Dari sekian banyak problem yang dialami negeri ini, terutama dalam ranah pendidikan. Maka yang terlintas dibenak saya adalah perlunya menanamkan benih-benih kesadaran kepada semua orang. Bahwa lewat pendidikan yang baik, kita mampu menjadi orang baik. Tanpa memperdulikan latar belakang, karena kita semuanya memiliki potensi untuk maju, hebat dan untuk menjadi orang besar.

Tanpa adanya pendidikan, kita bukanlah apa-apa. Olehnya itu, semoga ke depannya lewat sistem pendidikan yang baik. Kita terbangun dengan intelek yang berkualitas untuk meraih mimpi-mimpi indah dan merangkul masa depan yang cerah.
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.