Suci Amaliah, S.Pd., M.Pd, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar
OPINI L, Bayangkan seorang anak berdiri di depan kelas. Ia diminta memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. Ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan, tetapi ragu mengucapkannya. Bagaimana kalau salah? Bagaimana kalau teman-temannya tertawa?
Lalu bayangkan anak lain mendapat tugas yang sama. Sebelum tampil, ia boleh berlatih bersama teman. Ketika salah mengucapkan kata, guru membantunya. Ia mencoba lagi. Saat maju ke depan kelas, ia sudah pernah melewati bagian yang sulit.
Anak kedua mungkin terlihat lebih percaya diri. Kita pun mudah berkata, “Dia memang lebih pintar bahasa Inggris.” Padahal, ada hal yang belum kita lihat: ia mendapat kesempatan untuk salah sebelum harus tampil benar.
Dari ilustrasi sederhana ini, saya ingin mengajak kita melihat pendidikan melalui pertanyaan yang berbeda. Apakah setiap anak mendapat kesempatan mencoba lagi setelah melakukan kesalahan?
Selama ini, pembicaraan tentang pemerataan pendidikan sering berpusat pada sekolah, biaya, buku, dan internet. Semua itu penting. Namun, pengalaman belajar di dalam kelas juga perlu diperhatikan. Dua anak bisa duduk di ruangan yang sama, tetapi belum tentu mendapat waktu latihan dan bantuan yang sama.
Dalam belajar bahasa, kesempatan mencoba sangat berarti. Anak harus mengucapkan kata yang belum biasa digunakan. Ia perlu menyusun kalimat sendiri, meskipun belum tepat. Jika setiap percobaan langsung diberi nilai atau mengundang ejekan, diam bisa terasa lebih aman.
Karena itu, sebelum mengatakan seorang anak kurang percaya diri, kita perlu melihat bagaimana ia belajar. Apakah ia boleh menyiapkan jawaban? Apakah ia mendapat penjelasan ketika keliru? Apakah ia boleh mengulang setelah dibantu?
Pertanyaan ini terasa dekat dengan pengabdian FEM-MATES yang kami lakukan di AIMSKILFUL Makassar pada April–Mei 2026. Program bahasa Inggris gratis ini berlangsung selama 14 pertemuan, melibatkan 20 anak, enam mahasiswa fasilitator. Anak-anak belajar melalui permainan bahasa dan kegiatan sederhana. Berdasarkan pengamatan yang kami laporkan, mereka semakin aktif mengikuti instruksi, menyebutkan kosakata, dan ikut dalam permainan. Hasil pengamatan ini belum menjelaskan secara pasti penyebab perubahan tersebut. Namun, kegiatan itu memberi bahan renungan: kemajuan belajar juga terlihat ketika anak mulai mau mencoba.
Hal serupa dapat kita perhatikan pada mahasiswa calon guru.
Dalam penelitian bersama tentang pembelajaran berbicara, kami menemukan bahwa mahasiswa menghadapi kesulitan bahasa, rasa cemas, dan tantangan mengajar. Mereka terbantu oleh persiapan tertulis, kerja sama dengan teman, serta masukan dosen. Kemampuan berbicara berkembang melalui latihan yang disertai bantuan.
Sekarang, kesempatan belajar dari kesalahan menghadapi persoalan baru. Dengan kecerdasan buatan atau AI, tulisan yang belum rapi bisa diperbaiki dalam hitungan detik. Kalimat menjadi lebih lancar. Tugas terlihat selesai. Tetapi, apakah penulisnya memahami apa yang berubah?
Bayangkan seorang mahasiswa ditugaskan menulis paragraf, lalu meminta AI “membantunya”. Ia menerima seluruh hasilnya tanpa membaca perbedaan dengan tulisan awal. Besok, ketika harus menulis sendiri, ia mungkin menghadapi kesulitan yang sama. Bagian yang salah sudah hilang dari tugasnya, tetapi belum tentu sudah dipahami.
Penelitian saya tentang penggunaan AI untuk membimbing proses bertanya dan mencari bukti memberi pelajaran yang relevan. Selama delapan minggu, 68 mahasiswa mengikuti dua pendekatan penggunaan AI. Kelompok yang dibimbing untuk bertanya, memeriksa informasi, dan mempertimbangkan jawaban AI menunjukkan peningkatan lebih besar dalam penilaian proses belajar tersebut dibandingkan kelompok yang memakai AI untuk menyelesaikan tugas seperti biasa.
Dari sini, saya melihat pentingnya memberi siswa waktu untuk memahami kesalahannya. Sebelum menerima perbaikan dari AI, mereka dapat membaca tulisan sendiri dan menandai bagian yang diragukan. Setelah menerima saran, mereka menjelaskan mengapa saran itu digunakan. Guru pun bisa melihat apa yang sudah dipahami dan apa yang masih perlu dibantu.
Kesempatan salah dapat hilang dalam dua keadaan. Anak takut mencoba karena khawatir dipermalukan. Atau, kesalahannya terlalu cepat dibereskan sehingga ia tidak sempat belajar memperbaikinya.
Guru dan orang tua dapat memulai dari hal kecil. Beri waktu berlatih sebelum tampil. Jelaskan bagian yang perlu diperbaiki dengan bahasa yang jelas. Setelah itu, beri kesempatan mengulang. Dalam kelas besar, latihan berpasangan dapat membantu lebih banyak siswa mencoba berbicara sebelum maju ke depan kelas.
Kesalahan tetap perlu diperbaiki. Anak perlu tahu mana yang tepat dan mengapa. Yang perlu kita jaga adalah kesempatan untuk sampai pada pemahaman itu, tanpa membuatnya takut memperlihatkan hal yang belum ia kuasai.
Kembali kepada dua anak di awal tulisan. Sebelum membandingkan hasil mereka, ada baiknya kita bertanya: apakah keduanya mendapat kesempatan berlatih yang cukup?
Pendidikan yang adil perlu memberi setiap anak kesempatan belajar setelah keliru. Anak yang hari ini belum tepat seharusnya mendapat bantuan untuk menjadi lebih tepat esok hari. Kesempatan mencoba lagi itu jangan sampai menjadi kemewahan yang hanya dinikmati sebagian anak.
Referensi Pendukung:
1. Amaliah, S., Ariyani, A., Radhiyani, F., Affandi, A., & Prananda, G. (2026). FEM-MATES: Pendampingan Mahasiswa Calon Guru dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Gratis Berbasis Fun Learning bagi Anak Prasejahtera. Omni Pengabdian Masyarakat, 3(2). https://doi.org/10.65277/opm.v3i2.251
2. Ariyani, A., Aeni, N., & Amaliah, S. (2026). Indonesian EFL Pre-Service Teachers’ Experiences in Developing Speaking Skills in the Pedagogy of Speaking Course. LETS: Journal of Linguistics and English Teaching Studies, 7(2). https://doi.org/10.46870/lets.v7i2.2253
3. Amaliah, S. (2026). Beyond Instant Answers: AI-Guided Inquiry in English Language Learning. ELT Worldwide: Journal of English Language Teaching, 13(1). https://doi.org/10.26858/eltww.v13i1.83972

