Dari Sebuah Gagasan Buku hingga Menjadi Media: Kisah dan Perjalanan 11 Tahun Bugis Warta -->
Cari Berita

Dari Sebuah Gagasan Buku hingga Menjadi Media: Kisah dan Perjalanan 11 Tahun Bugis Warta


Bugiswarta.com, Bone – Sebelas tahun mungkin bukan usia yang terlalu panjang bagi sebuah perusahaan media. Namun, bagi Bugis Warta, perjalanan lebih dari satu dekade menyimpan cerita tentang idealisme, pertemanan, kegigihan, perpindahan kota, keterbatasan sumber daya, hingga sebuah cita-cita sederhana agar tulisan dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.


Di balik perjalanan itu ada sejumlah nama yang ikut merintisnya. Salah satunya Usman, S.Pd., M.H. Ia menjadi bagian dari sekelompok anak muda asal Kabupaten Bone yang pada mulanya bahkan tidak sedang bercita-cita membangun sebuah perusahaan media.


Bugis Warta justru lahir dari sebuah rencana menulis buku.


Ketika mengenang kembali perjalanan tersebut, Usman terlebih dahulu menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang selama ini membaca dan membersamai Bugis Warta. Baginya, kemampuan sebuah media bertahan melewati satu dekade merupakan pencapaian tersendiri.


“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, masyarakat Bugis yang telah setia membersamai kami sehingga perjalanan kami bisa sampai ke satu dekade lebih,” kata Usman.

 

Menurutnya, perjalanan panjang itu tidak harus dinilai dari seberapa besar pencapaian yang berhasil dikumpulkan. Bisa terus bertahan, menulis, dan hadir di tengah pembaca sudah memiliki arti tersendiri.


“Walaupun secara prestise itu bukanlah hal yang besar, akan tetapi bisa bertahan sampai sejauh ini adalah hal yang luar biasa bagi kami,” tuturnya.

 

Semuanya Bermula dari Buku 101 Tokoh Bone Tersukses


Cerita Bugis Warta membawa ingatan Usman kembali ke 2013.


Ketika itu, ia bersama sejumlah anak muda terlibat dalam sebuah gagasan yang dimotori senior jurnalis di Kabupaten Bone, Anwar Marjan. Anwar ketika itu disebut masih bekerja sebagai wartawan Tempo.


Mereka tidak sedang merancang portal berita. Mereka ingin menulis buku yang dalam penuturan Usman diberi judul “101 Tokoh Bone Tersukses.”


“Jadi yang pertama pada tahun 2013 yang lalu, kami bersama beberapa tim yang dimotori oleh salah satu senior jurnalis di Kabupaten Bone, namanya Pak Anwar Marjan. Waktu itu beliau masih sebagai wartawan Tempo. Kita berinisiatif untuk menulis sebuah buku,” kenang Usman.

 

Buku itu dirancang bukan sekadar sebagai kumpulan profil orang sukses.


Tim ingin merekam perjalanan orang-orang Bugis Bone yang dinilai telah memberikan bakti kepada daerah. Ukuran keberhasilan yang hendak mereka ceritakan pun luas, mulai dari bidang ekonomi, politik hingga pendidikan.


Yang paling penting, kisah tersebut diharapkan tidak berhenti pada sosok yang ditulis. Mereka ingin generasi muda membacanya, kemudian menemukan keberanian untuk mempunyai mimpi yang sama besarnya.


“Kisah-kisah ini kita mau angkat sebagai sebuah harapan bahwa ini bisa memberikan semangat motivasi kepada anak-anak muda Kabupaten Bone, kepada anak-anak muda Sulawesi Selatan,” kata Usman.

 

Dari titik itulah benih Bugis Warta sebenarnya mulai tumbuh. Belum ada kantor besar. Belum ada struktur perusahaan media seperti sekarang. Bugis Warta bahkan belum mempunyai bentuk yang jelas. Yang tersedia baru proposal buku, daftar calon tokoh, semangat melakukan wawancara, dan keinginan mengumpulkan kisah-kisah inspiratif dari tanah Bugis.


Menunggu Dua Hari demi Sebuah Wawancara


Membangun sebuah karya dari nol membuat Usman dan kawan-kawan harus menjalani pekerjaan lapangan yang tidak selalu mudah.


Salah satu pengalaman yang masih ia ingat adalah ketika mendapat tugas dari Anwar Marjan untuk mewawancarai Prof. Andi Mualim, yang ketika itu disebut menjabat Sekretaris Provinsi Sulawesi Selatan.


Usman berangkat ke Makassar bersama Aspikal, yang saat itu masih mahasiswa Universitas Negeri Makassar dan dalam perkembangannya menjadi dosen di perguruan tinggi di Bone.


Wawancara tidak langsung didapatkan. Mereka harus berulang kali meminta waktu. Dua hari melakukan pendekatan hingga akhirnya kesempatan itu terbuka.


“Datang, berangkatlah saya ke Makassar. Beberapa kali kita minta audiens. Akhirnya dua hari, karena kita melakukan pendekatan sebagai orang Bone, akhirnya beliau welcome menerima kami untuk melakukan wawancara,” kenangnya.

 

Pertemuan tersebut bahkan menghasilkan dukungan yang lebih besar dari perkiraan. Menurut Usman, Prof. Andi Mualim ketika itu menyatakan kesiapan membantu sebagian biaya pencetakan apabila buku tersebut berhasil diterbitkan.


Pengalaman serupa kembali dialami ketika tim hendak menemui Haji Padindang, sosok yang oleh Usman dikenang sebagai tokoh, seniman dan budayawan Bone.


Lagi-lagi mereka harus menunggu.


“Saya melakukan audiensi dua hari juga. Hari berikutnya baru diterima di ruangannya. Kami bertemu dengan Pak Ajip Padindang untuk melakukan wawancara terkait dengan penulisan buku 101 Tokoh Bone Tersukses,” ujarnya.

 

Di situlah kerja jurnalistik itu ditempa. Menunggu narasumber, bepergian antarkota, melakukan riset, mewawancarai tokoh dan mencatat cerita kehidupan mereka.


Namun, perjalanan mempunyai jalannya sendiri. Buku yang menjadi cita-cita awal tersebut tidak pernah berhasil dirampungkan secara keseluruhan.


Usman tidak menutupinya. Ia justru menyampaikan permohonan maaf kepada orang-orang yang pernah ditemui dan mengetahui rencana penerbitan buku tersebut.


“Kami harus mengakui, kami meminta maaf kepada seluruh masyarakat yang pernah kami temui, yang pernah mendengar penggagasan buku ini, sampai hari ini buku itu belum berhasil kami rangkum secara keseluruhan,” katanya.

 

Tetapi kegagalan menyelesaikan buku itu ternyata bukan akhir. Dari sanalah sebuah media lahir.


1 Agustus, Bugis Warta Mulai Menemukan Bentuk


Dalam proses mengembangkan proyek buku, tim kemudian memikirkan sebuah website. Awalnya, website tersebut dirancang untuk mendukung penulisan dan menghimpun bahan mengenai 101 tokoh Bone.


Diskusi demi diskusi berlangsung. Gagasan berkembang. Sampai akhirnya muncul kesepakatan membuat wadah yang lebih luas. Bukan hanya menjadi tempat mengumpulkan bahan sebuah buku, melainkan ruang yang membawa cerita, spirit dan inspirasi masyarakat Bugis kepada publik.


“Ada berbagai perkembangan, berbagai diskusi, kajian dan lain sebagainya. Akhirnya proses-proses ini melahirkan Bugis Warta,” kata Usman.

 

Nama itu akhirnya menemukan maknanya. Bugis Warta diharapkan menjadi wadah bagi semangat orang-orang Bugis, tempat kisah perjuangan seseorang dapat dibaca dan kemudian menginspirasi orang lainnya.


“Bugis Warta sebuah wadah yang akan mewadahi semangat, spirit orang-orang Bugis sehingga kisahnya nanti bisa memberikan inspirasi kepada banyak kalangan,” ujarnya.

 

Tanggal 1 Agustus kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan Bugis Warta. Pada fase awal tersebut, media itu belum berbentuk perusahaan. Perkembangannya berlangsung bertahap. Website lahir, disusul kehadiran di Facebook dan Twitter, yang kini berubah nama menjadi X.


Dibangun Bersama Anak-anak Muda Bone


Usman tidak pernah menempatkan kelahiran Bugis Warta sebagai pekerjaan seorang diri. Ia menyebut sejumlah nama yang ikut berada dalam lingkaran awal pendirian dan perjalanan media tersebut, di antaranya Anwar Marjan, Aspikal, Andi Subhan, Saimuldin dan almarhum Sudirman Mappiare, serta sejumlah anak muda lainnya di Kabupaten Bone.


“Waktu itu saya juga sebagai salah satu bagian dari ikut mendirikan Bugis Warta ini bersama Kak Anwar Marjan, Aspikal, Andi Subhan, Saimuldin, almarhum Sudirman Maftiare dan beberapa anak muda waktu itu dari Kabupaten Bone,” kenangnya.

 

Perjalanan mereka penuh dinamika. Pertemuan berganti pertemuan. Diskusi memunculkan diskusi berikutnya. Proyek buku perlahan bergeser menjadi media daring yang mulai menjalankan aktivitas jurnalistik di Kabupaten Bone.


Struktur redaksi ketika itu masih sangat terbatas. Sejumlah wartawan kemudian diajak terlibat. Usman menyebut Abdul Waris Hasrat, Anwar, Aspikal dan Rinjan sebagai bagian dari perjalanan tersebut. Sementara dirinya ketika itu masih bekerja sebagai reporter di sebuah surat kabar harian di Bone.


Di tengah segala keterbatasan itu, ada satu gagasan yang ingin dipertahankan. Tulisan harus mempunyai manfaat.


“Jadi kita menulis, harapannya adalah inspirasi-inspirasi yang bisa memberikan penyejuk, pelipur lara bagi para pembaca,” ujar Usman.

 

Soppeng, Babak Baru Perjalanan


Perjalanan profesi kemudian membawa Usman meninggalkan tempat kerjanya dan bergeser ke Kabupaten Soppeng. Ia sempat bekerja sebagai biro sebuah surat kabar harian. Namun masa kerjanya hanya sekitar tiga hingga empat bulan karena koran tersebut kemudian berhenti terbit. Situasi itu justru menjadi titik balik.


“Karena korannya keburu tutup. Akhirnya saya fokus untuk menulis di Bugis Warta,” kenangnya.

 

Dari Soppeng, Bugis Warta semakin aktif. Jaringan pemberitaan mulai bergerak di Soppeng, Bone hingga Sinjai. Salah satu kekuatan pemberitaan ketika itu adalah kebudayaan.

Soppeng menyediakan ruang yang kaya bagi seorang jurnalis untuk menemukan cerita tentang masyarakat Bugis, tradisi, upacara adat, seni hingga jejak kerajaan.


Usman dan tim mendatangi berbagai kegiatan budaya. Mereka juga melakukan peliputan khusus mengenai jejak sejarah di Umpung yang, dalam penuturannya, pernah menjadi saksi pertemuan serta pelantikan raja-raja Bugis di Soppeng.


Bagi media yang lahir dengan membawa nama Bugis, liputan seperti itu memiliki arti lebih dari sekadar memenuhi halaman berita. Ada identitas yang ingin dirawat. Ada ingatan yang ingin disimpan. Dan ada cerita lokal yang ingin dibawa melewati batas kampung tempat cerita itu berasal.


Dari Bone, Soppeng, hingga Jakarta


Bugis Warta kemudian tumbuh bersama berbagai peristiwa. Pada Pilkada 2015 di Soppeng, media tersebut ikut menjalankan fungsi jurnalistik dalam mengawal pesta demokrasi. Aktivitas pemberitaan juga berlangsung di Sinjai dan Bone.


Perjalanan Usman kemudian membawanya lebih jauh. Sekitar 2016–2017, ia berpindah dari Soppeng menuju Jakarta. Sejak saat itu, fokus aktivitasnya semakin banyak berada di ibu kota.


Namun perpindahan geografis tersebut tidak berarti Bugis Warta meninggalkan akarnya. Laporan dari Sulawesi Selatan, Bone dan wilayah Bugis tetap mendapat tempat.


“Walaupun pada dasarnya kita masih tetap mengakomodir laporan-laporan dari Sulawesi Selatan, dari Bugis, dari Bone, tulisan-tulisan yang pokoknya memberikan inspirasi, memberikan masukan, memberikan penyemangat,” kata Usman.

 

Dari sebuah website sederhana, Bugis Warta kemudian mengikuti perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi. YouTube menjadi bagian dari perjalanan. Begitu pula TikTok, Instagram dan X. Menurut Usman, kanal YouTube Bugis Warta kemudian berhasil menghimpun pengikut dalam jumlah yang cukup banyak.


Perubahan platform itu penting, tetapi bagi Usman ada sesuatu yang lebih mendasar yang tidak boleh ikut berubah, yakni alasan mengapa Bugis Warta dahulu didirikan.


Tulisan yang Diharapkan Menjadi Pelipur Lara


Pada bagian inilah kisah perjalanan Bugis Warta terasa paling personal. Usman mengatakan, semangat para pendiri sejak awal berkaitan dengan keinginan agar sesuatu yang mereka kerjakan dapat meninggalkan manfaat.


Dalam penuturannya, ia menyebut filosofi mengenai amal yang terus memberikan manfaat. Dari sanalah ia mengaitkan pekerjaan menulis dengan harapan agar tulisan menjadi penyejuk dan pelipur lara bagi orang yang membacanya.


Bagi para perintis Bugis Warta, media dengan demikian tidak semata-mata dipandang sebagai tempat berita diproduksi setiap hari. Media adalah ruang untuk menyebarkan semangat.


“Ada spirit untuk menjadi bagian daripada yang memberikan semangat dan inspirasi kepada siapa pun yang melakukan interaksi dengan Bugis Warta,” ujar Usman.

 

Spirit itu kemudian dirangkum dalam sebuah gagasan sederhana: dari Bugis untuk bangsaKalimat itu seolah menjelaskan perjalanan Bugis Warta. Identitas Bugis menjadi akar, tetapi pembacanya tidak dibatasi oleh identitas tersebut. Cerita dari Bone, Soppeng, Sinjai dan Sulawesi Selatan diharapkan dapat berbicara kepada masyarakat yang lebih luas.


Kini, setelah perjalanan mencapai usia 11 tahun, tantangannya tentu berbeda dengan masa ketika sejumlah anak muda berkumpul membicarakan sebuah buku pada 2013.


Dunia media berubah cepat. Platform berganti. Cara orang membaca berita berubah. Persaingan informasi semakin padat. Media sosial membuat siapa saja dapat memproduksi informasi dalam hitungan detik.


Namun Usman berharap satu hal tetap dijaga, yakni keberpihakan pada pendidikan publik serta kepentingan bangsa dan negara.

 

“Semoga di umurnya ini yang ke-11 tahun ini bisa terus membuktikan bakti, memberikan pendidikan yang baik kepada publik, tidak terjebak dalam kepentingan-kepentingan politik praktis selain daripada kepentingan bangsa dan negara,” tuturnya.

 

Sebelas tahun kemudian, buku 101 Tokoh Bone Tersukses yang menjadi awal perjalanan itu memang belum terwujud sebagaimana dicita-citakan. Namun dari rencana buku yang belum selesai tersebut lahir sesuatu yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Sebuah media.


Media yang bergerak dari Bone, tumbuh bersama cerita-cerita Soppeng dan daerah Bugis lainnya, lalu ikut menjejak Jakarta. Media yang beradaptasi dari website menuju berbagai platform digital. Dan media yang sampai hari ini masih membawa jejak gagasan sekelompok anak muda yang dahulu hanya ingin mengumpulkan cerita orang-orang Bugis agar dapat menjadi inspirasi bagi generasi setelah mereka. Bagi Usman, perjalanan itu belum selesai.


Sebab usia 11 tahun bukan semata-mata alasan untuk melihat ke belakang. Ia menjadi kesempatan untuk kembali mengingat mengapa semuanya dimulai.


Dari sebuah rencana menulis buku, dari perjalanan mencari narasumber, dari penantian berhari-hari untuk mendapatkan wawancara, hingga akhirnya sebuah nama lahir: Bugis WartaDan dari sana, sebuah cita-cita terus dibawa hingga hari ini: dari Bugis untuk bangsa.