Ketika UMKM Pujon Lor Masuk Peta Digital, Mahasiswa KKN MAs Buka Jalan Pembeli Menemukan Sasaji -->
Cari Berita

Ketika UMKM Pujon Lor Masuk Peta Digital, Mahasiswa KKN MAs Buka Jalan Pembeli Menemukan Sasaji


BUGISWARTA.com, PUJON, MALANG
– Selama ini Rest Area Sasaji telah berdiri di Dusun Krajan, Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Di dalamnya, pelaku UMKM menawarkan beragam jajanan, dari dimsum, risol, cireng, pancong hingga minuman hangat STMJ. Namun, ada satu persoalan sederhana yang membuat tempat tersebut belum mudah ditemukan: lokasinya belum tercantum di Google Maps.


Persoalan itulah yang kemudian disentuh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MAs (Muhammadiyah ‘Aisyiyah) Kelompok 32. Gabungan mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia itu membantu membawa Rest Area Sasaji, BUMDes Bumi Desa, masuk ke peta digital sekaligus memperkenalkan produk UMKM melalui konten promosi.


Minggu (23/8/2026), enam mahasiswa KKN bersama empat pelaku UMKM dan seorang perwakilan BUMDes terlibat dalam program digitalisasi tersebut. Mereka tidak membawa pembangunan fisik berskala besar. Yang dilakukan justru sederhana, mendaftarkan lokasi, membuat akun bisnis Google, memasang titik Rest Area Sasaji di Google Maps, lalu membantu UMKM membuat konten untuk menjangkau calon pembeli.


Ketua Kelompok 32 KKN MAs, Rakha Kenang Ariutma, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan yang disampaikan langsung oleh pengurus BUMDes Bumi Desa.


“Sebelumnya sudah ada tempatnya, tetapi belum ada di [Google] Maps. Hal ini juga atas permintaan pengurus BUMDes,” ujar Rakha.

 

Dari persoalan itu, mahasiswa melihat ada ruang yang bisa mereka isi. Rest Area Sasaji sebenarnya berada di kawasan yang berpotensi dikunjungi masyarakat, termasuk mereka yang melintas di Jalan Raya Pujon Lor. Namun tanpa jejak digital yang mudah ditemukan, keberadaannya belum sepenuhnya terhubung dengan calon pengunjung.


Mahasiswa kemudian membantu membuat akun bisnis Google dan mendaftarkan titik lokasi Rest Area Sasaji. Harapannya sederhana, ketika seseorang mencari tempat tersebut melalui telepon genggam, petunjuk menuju lokasi kini bisa ditemukan.


Tak berhenti pada peta digital, mahasiswa juga menyasar persoalan promosi.

Kamera telepon genggam menjadi salah satu alat untuk memperkenalkan dagangan pelaku usaha. Beragam produk yang berada di area “Jajanan’s” mulai dibuatkan konten, mulai dari dimsum, risol, cireng, pancong, es campur, STMJ hingga jasa cuci kendaraan.


Bagi pelaku usaha kecil, konten semacam itu menjadi etalase baru. Produk yang sebelumnya lebih banyak menunggu orang datang kini memiliki kesempatan untuk lebih dahulu hadir di layar calon pembeli.


Dari Google Maps, Pengunjung Mulai Menemukan Sasaji


Perwakilan pengurus BUMDes Bumi Desa, Ahmad Deny Aminuddin, mengaku pendampingan mahasiswa memberikan manfaat yang langsung dirasakan.


“Kita merasa sangat terbantu, dari yang sebelumnya belum terdaftar di Google Maps, dan dibantu membuat konten promosi,” ujarnya.

 

Deny menyebut perubahan mulai terasa setelah Rest Area Sasaji memiliki jejak digital dan konten promosi mulai disebarkan. Masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak mengetahui keberadaan tempat tersebut kini memiliki informasi sekaligus petunjuk untuk datang.


“Ramai pengunjung yang datang setelah melihat konten promosi dari mahasiswa KKN, dan lokasi jadi bisa dengan mudah dicari melalui Google Maps,” katanya.

 

Cerita itu memperlihatkan bagaimana persoalan UMKM di tingkat desa terkadang bukan semata-mata soal produk. Produk telah tersedia, pedagang telah berjualan, dan tempat pun telah ada. Tantangannya adalah bagaimana membuat semuanya lebih mudah ditemukan.


Di titik itulah digitalisasi mendapatkan makna yang lebih dekat dengan keseharian pelaku usaha.


Bukan sekadar istilah teknologi, tetapi bagaimana sebuah titik muncul ketika dicari di Google Maps, bagaimana foto makanan bisa menjangkau orang yang belum pernah datang, dan bagaimana calon pembeli akhirnya mengetahui ada UMKM yang bisa mereka singgahi.


Tak Ingin Berhenti Setelah KKN Usai


Program mahasiswa tentu memiliki batas waktu. Karena itu, akun media sosial dan Google Maps yang telah dibuat kemudian diserahterimakan kepada pengelola BUMDes agar tetap dapat digunakan dan dikembangkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.


Deny berharap langkah kecil tersebut tidak berhenti ketika mahasiswa KKN meninggalkan Pujon Lor.

“Semoga ke depannya bisa terus mengembangkan ide-ide konten yang menarik, sehingga semakin banyak pengunjung yang datang dan membeli produk UMKM yang ada di BUMDes,” ujarnya.

 

Harapan yang lebih besar adalah Rest Area Sasaji dapat dikenal tidak hanya oleh masyarakat Desa Pujon Lor. Letaknya yang berada di kawasan Pujon membuka peluang untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama pengguna jalan yang melintas di Jalan Raya Pujon Lor.


Bagi Rakha dan mahasiswa KKN MAs Kelompok 32, keberhasilan program bukan hanya ketika lokasi berhasil muncul di layar Google Maps. Dampak yang diharapkan adalah ketika kemudahan menemukan lokasi itu berujung pada semakin banyak orang datang, mengenal produk lokal, lalu berbelanja dari pelaku UMKM setempat.


Digitalisasi akhirnya menjadi jembatan sederhana antara usaha kecil di Dusun Krajan dengan pasar yang lebih luas.


Dari sebuah titik yang sebelumnya belum muncul di peta digital, Rest Area Sasaji kini memiliki jalan baru untuk ditemukan. Dan bagi UMKM yang tumbuh di dalamnya, setiap orang yang menemukan titik itu berpotensi menjadi pengunjung, sekaligus pembeli baru.

Pewarta: Rakha Kenang Ariutama / Hemalia Putri Anggia