Ketika Panggung Menjadi Rumah, FESTASI VII Siap Kembali Satukan Kreativitas Mahasiswa Tari Se-Sulselbar -->
Cari Berita

Ketika Panggung Menjadi Rumah, FESTASI VII Siap Kembali Satukan Kreativitas Mahasiswa Tari Se-Sulselbar


Penulis : Tasyaa

Bugiswarta.com, Bone – Setiap gerak memiliki cerita. Setiap hentakan kaki menyimpan makna. Di atas panggung, tarian bukan sekadar rangkaian koreografi, melainkan bahasa yang menyatukan budaya, kreativitas, dan semangat anak muda.


Semangat itulah yang akan kembali dihadirkan dalam Festival Tari Kreasi Mahasiswa (FESTASI) VII, agenda seni tahunan yang digagas Unit Kegiatan Mahasiswa Sanggar Seni Budaya Mahasiswa (SSBM) To Warani Universitas Muhammadiyah Bone (UNIM Bone). Festival yang telah memasuki penyelenggaraan ketujuh ini siap kembali menjadi ruang pertemuan mahasiswa pecinta tari dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.


Kabar penyelenggaraan FESTASI VII mulai mengundang perhatian setelah panitia merilis poster bertajuk "Coming Soon FESTASI VII". Meski baru berupa pengumuman awal, antusiasme mulai terasa di kalangan komunitas seni kampus yang selama ini menjadikan festival tersebut sebagai panggung bergengsi untuk menampilkan karya terbaik mereka.


Jika tidak ada perubahan, FESTASI VII akan digelar pada September 2026 di Kabupaten Bone.


Bagi para penari mahasiswa, festival ini bukan sekadar kompetisi. Lebih dari itu, FESTASI menjadi ruang untuk mengekspresikan gagasan melalui tubuh, gerak, musik, dan budaya. Berbagai karya tari kreasi akan dipentaskan, memadukan kekayaan tradisi Nusantara dengan sentuhan koreografi modern yang lahir dari imajinasi generasi muda.


Setiap penampilan membawa identitas daerah masing-masing. Ada yang mengangkat kisah masyarakat pesisir, ada yang menggali filosofi adat, hingga mengemas persoalan sosial menjadi sebuah pertunjukan yang memikat penonton.


Ketua Panitia FESTASI VII, Muh. Arham Jasyada, mengatakan penyelenggaraan festival ini merupakan komitmen UKM SSBM To Warani untuk terus menjaga denyut kehidupan seni tari di lingkungan perguruan tinggi.


"Melalui penyelenggaraan FESTASI VII, kami berharap dapat terus mendorong lahirnya karya-karya kreatif mahasiswa sekaligus memperkuat upaya pelestarian budaya daerah melalui seni tari," ujarnya.

 

Tidak hanya menjadi tempat unjuk kemampuan, FESTASI juga menghadirkan ruang perjumpaan bagi mahasiswa dari berbagai daerah. Mereka datang membawa latar budaya yang berbeda, lalu bertemu dalam satu panggung untuk saling mengenal, bertukar pengalaman, dan membangun jejaring yang kelak akan memperkuat ekosistem seni pertunjukan di kawasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.


Suasana itulah yang membuat FESTASI selalu memiliki cerita berbeda setiap tahunnya. Di balik sorotan lampu panggung dan gemuruh tepuk tangan, lahir persahabatan baru, kolaborasi lintas kampus, hingga inspirasi yang terus tumbuh setelah festival berakhir.


Poster resmi yang telah dipublikasikan juga menampilkan ikon Gerbang Kota Watampone sebagai latar utama. Pilihan visual tersebut bukan tanpa alasan. Gerbang itu menjadi simbol bahwa Bone kembali membuka pintunya bagi para seniman muda untuk datang, berkarya, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.


Bagi Kabupaten Bone, penyelenggaraan FESTASI bukan hanya agenda seni mahasiswa. Festival ini menjadi bagian dari upaya memperkuat citra daerah sebagai ruang tumbuhnya kreativitas generasi muda sekaligus destinasi kegiatan seni dan budaya.


Panitia pun mengajak mahasiswa, komunitas seni, serta masyarakat untuk menantikan informasi resmi mengenai jadwal pelaksanaan, pendaftaran peserta, hingga rangkaian kegiatan melalui media sosial UKM SSBM To Warani UNIM Bone dan akun resmi FESTASI VII.


September memang masih beberapa bulan lagi. Namun bagi para penari, prosesnya telah dimulai sejak hari ini. Di berbagai sudut kampus, ruang latihan perlahan akan kembali hidup. Musik akan diputar berulang kali. Gerak akan terus diasah hingga sempurna.


Sebab ketika tirai panggung kembali terbuka di FESTASI VII nanti, yang tampil bukan hanya sebuah tarian. Yang hadir adalah cerita, identitas, dan semangat generasi muda untuk menjaga budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.