Oleh: Pertiwi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Universitas Muhammadiyah Bone
OPINI -- Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi. Kehadiran media sosial dengan berbagai fitur yang serba cepat membuat informasi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Kemudahan tersebut memang membawa banyak manfaat, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan baru bagi budaya literasi yang selama ini menjadi fondasi dalam membangun pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis.
Meningkatnya penggunaan media sosial membuat banyak orang lebih terbiasa mengonsumsi konten singkat dibandingkan membaca buku atau tulisan yang lebih mendalam. Video berdurasi beberapa detik, unggahan singkat, dan berbagai bentuk informasi instan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kebiasaan tersebut secara perlahan membentuk pola konsumsi informasi yang mengutamakan kecepatan dibandingkan pemahaman yang komprehensif.
Generasi muda menjadi kelompok yang paling dekat dengan perubahan tersebut. Berbagai informasi dapat diperoleh hanya melalui layar gawai tanpa harus membuka buku atau mencari referensi yang lebih lengkap. Kondisi ini menyebabkan banyak orang mengetahui berbagai isu yang sedang berkembang, tetapi belum tentu memahami latar belakang, konteks, maupun dampak dari informasi yang diterima.
Pandangan mengenai pentingnya literasi juga disampaikan oleh Najelaa Shihab yang menegaskan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, melainkan kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara kritis. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi digital yang terus mengalir setiap hari.
Kemampuan berpikir kritis tidak dapat dibangun hanya melalui konsumsi informasi yang singkat dan instan. Proses membaca yang mendalam memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memahami berbagai sudut pandang, melakukan analisis, serta menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang utuh. Kebiasaan membaca juga membantu meningkatkan kemampuan berpikir logis dan memperluas wawasan yang tidak selalu diperoleh melalui media sosial.
Pentingnya budaya membaca juga pernah ditekankan oleh Anies Baswedan yang menyebut bahwa kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap informasi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat.
Dominasi algoritma media sosial turut memengaruhi cara masyarakat menerima informasi. Algoritma bekerja dengan menampilkan konten yang dianggap menarik berdasarkan kebiasaan pengguna. Akibatnya, seseorang lebih sering menerima informasi yang sesuai dengan minatnya tanpa banyak terpapar pada sudut pandang lain. Situasi seperti ini berpotensi mempersempit ruang refleksi dan mengurangi keinginan untuk mencari informasi yang lebih mendalam melalui kegiatan membaca.
Teknologi sebenarnya tidak dapat sepenuhnya disalahkan atas menurunnya minat literasi. Kehadiran teknologi justru dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperkuat budaya membaca apabila dimanfaatkan secara tepat. Berbagai perpustakaan digital, aplikasi buku elektronik, forum diskusi, hingga komunitas literasi daring menunjukkan bahwa teknologi juga mampu membuka akses yang lebih luas terhadap pengetahuan.
Kesadaran untuk menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan kebiasaan membaca menjadi hal yang sangat penting. Kemudahan memperoleh informasi seharusnya tidak membuat masyarakat meninggalkan budaya literasi yang telah lama menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan. Membaca buku, artikel, dan sumber referensi yang kredibel tetap diperlukan agar kemampuan berpikir kritis dan analitis dapat terus terjaga.
Tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan kemampuan memahami informasi secara mendalam. Dominasi algoritma yang tidak diimbangi dengan budaya literasi berpotensi melahirkan generasi yang cepat menerima informasi, tetapi kurang mampu menganalisis dan memaknainya. Karena itu, literasi harus tetap mendapat ruang yang kuat di tengah perkembangan teknologi agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, melainkan juga mampu menjadi pemikir yang kritis dan bijaksana.
