Bugiswarta.com,Bone — Dosen IAIN Bone, Aksi Hamzah, mengingatkan bahwa ibadah kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan simbol penyucian jiwa dan pengendalian hawa nafsu manusia di hadapan Allah SWT.
Hal itu disampaikan Aksi Hamzah dalam tulisan reflektif bertajuk “Penyembelihan dan Pappaseng Toriolo” yang menjadi bagian dari serial kurban 005.
Menurutnya, Allah SWT menjadikan penyembelihan sebagai syiar karena di dalam diri manusia terdapat hawa nafsu yang jauh lebih liar daripada hewan. Nafsu itu, kata dia, hadir dalam bentuk kesombongan, kerakusan, iri hati, hingga kecintaan berlebihan terhadap dunia.
“Karena dalam diri manusia ada sesuatu yang lebih liar daripada hewan: hawa nafsu. Kesombongan, kerakusan, iri hati, dan cinta dunia tidak cukup hanya dinasihati — ia harus ‘disembelih’ dengan iman dan ketundukan kepada Allah,” tulisnya.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syams ayat 9–10:
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Aksi Hamzah menegaskan bahwa kurban sejatinya adalah jalan menuju penyucian hati. Pisau kurban, menurutnya, tidak hanya diarahkan kepada hewan, tetapi juga kepada ego dan keakuan manusia.
“Kurban bukan sekadar darah yang mengalir, tetapi jalan penyucian jiwa. Pisau kurban sejatinya diarahkan kepada ego dan keakuan dalam hati manusia,” lanjutnya.
Dalam refleksinya, ia juga mengangkat kearifan lokal Bugis melalui nilai pappaseng toriolo atau pesan leluhur sebagai pengingat pentingnya pengendalian diri.
Ia mengutip pesan Bugis:
ᨕᨍ ᨆᨘᨄᨉᨗᨕᨚᨒᨚᨕᨗ ᨊᨄ ᨆᨘᨄᨚᨁᨕᨘ
“Aja’ mupaddioloi nappa mupogau.”
“Jangan engkau mendahului sebelum menimbang dengan baik.”
Menurutnya, pesan tersebut mengajarkan agar manusia tidak dikuasai sifat tergesa-gesa yang lahir dari hawa nafsu, seperti keinginan untuk dipuji, menang sendiri, dan menguasai segala hal.
Selain itu, ia juga mengutip pappaseng lain tentang pentingnya menjaga siri’ atau harga diri manusia.
ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨉᨙᨊᨁᨁ ᨔᨗᨑᨗᨆᨘ ᨉᨙᨈᨚᨊᨁᨁ ᨈᨕᨘᨆᨘ
“Narekko de’nagaga siri’mu, de’tonagaga tauwamu.”
“Jika engkau sudah kehilangan siri’, maka hilang pula nilai kemanusiaanmu.”
Aksi Hamzah menilai siri’ terbesar seorang mukmin bukanlah ketika kehilangan harta, melainkan ketika hati diperbudak oleh dunia dan semakin jauh dari Allah SWT.
“Maka siri’ terbesar seorang mukmin bukan ketika miskin harta, tetapi ketika hatinya diperbudak dunia dan jauh dari Allah,” tulisnya.
Ia menutup refleksinya dengan pesan bahwa takbir Iduladha sejatinya merupakan seruan pembebasan manusia dari ego dan ambisi duniawi.
“Allahu Akbar… Allah lebih besar daripada ego kita. Lebih besar daripada ambisi kita. Lebih besar daripada segala yang selama ini menguasai hati kita,” ujarnya.
Menurutnya, kemenangan terbesar dalam hidup bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan keberhasilan menundukkan hawa nafsu dalam diri sendiri.

