Bugiswarta.com, JAKARTA – Perdebatan mengenai masa depan pendidikan Indonesia selama ini kerap berfokus pada kurikulum, teknologi pembelajaran, hingga daya saing global. Namun, ada satu fondasi yang kerap luput dari perhatian, yakni kondisi kesehatan dan gizi pelajar.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Dany Rahmat Muharram, menilai bahwa kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kondisi biologis siswa. Ia menyoroti pentingnya pemenuhan gizi sebagai dasar bagi tumbuhnya kecerdasan dan kemampuan belajar generasi muda.
“Sebab sebelum berbicara tentang kecerdasan, inovasi, atau kepemimpinan masa depan, ada pertanyaan sederhana yang perlu dijawab terlebih dahulu, apakah pelajar Indonesia tumbuh dalam kondisi gizi yang memadai?” tulis Dany dalam opininya.
Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dapat dilihat sebagai langkah strategis yang tidak sekadar menyediakan makanan bagi siswa, tetapi juga memastikan kondisi dasar yang memungkinkan pelajar belajar secara optimal.
“Program ini tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bagi siswa, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar dan sederhana yaitu bagaimana memastikan pelajar memiliki kondisi biologis yang memungkinkan mereka belajar secara optimal,” ujarnya.
Selama ini, pembangunan pendidikan lebih banyak dipahami melalui pendekatan struktural seperti pembaruan kurikulum, pembangunan infrastruktur sekolah, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran. Padahal, menurut Dany, proses belajar pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan tubuh dan otak pelajar dalam menerima serta mengolah pengetahuan.
Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan erat antara nutrisi dan perkembangan kognitif. Studi dari Johns Hopkins University melalui Bloomberg School of Public Health menyebutkan bahwa pemenuhan gizi pada usia sekolah memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan fungsi otak.
Kekurangan nutrisi pada masa pertumbuhan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan belajar dan potensi intelektual anak dalam jangka panjang.
Dalam praktiknya, kondisi pelajar yang datang ke sekolah tanpa asupan gizi yang cukup dapat memengaruhi proses belajar sejak awal. Konsentrasi menurun, daya tangkap melemah, dan energi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran menjadi tidak optimal.
Di berbagai negara, program penyediaan makanan di sekolah telah menjadi kebijakan penting untuk mengurangi kesenjangan tersebut. Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kondisi material yang menopang kehidupan siswa sehari-hari.
Dalam konteks Indonesia, realitas kekurangan gizi masih ditemukan di sejumlah daerah. Bagi sebagian pelajar, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang bertahan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Karena itu, penyediaan makanan bergizi di sekolah dinilai dapat membantu menciptakan kondisi dasar yang lebih setara bagi setiap siswa untuk mengikuti proses pembelajaran.
Meski demikian, Dany menegaskan bahwa keberhasilan program seperti MBG sangat bergantung pada pelaksanaan di lapangan. Distribusi yang merata, kualitas gizi yang terjaga, serta sistem pengelolaan yang transparan menjadi faktor penting agar manfaatnya benar-benar dirasakan pelajar di berbagai daerah.
“Program yang dirancang dengan baik tetap membutuhkan pengawasan agar berjalan secara efektif dan tepat sasaran,” tulisnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dan pelajar dalam mengawal kebijakan tersebut. Menurutnya, pelajar tidak seharusnya hanya menjadi penerima manfaat kebijakan, tetapi juga bagian dari komunitas pendidikan yang ikut membangun kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan pemenuhan gizi.
Melalui organisasi pelajar, diskusi di sekolah, hingga kegiatan literasi, isu gizi dapat menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas tentang kualitas pendidikan dan masa depan generasi muda.
Dany menilai gerakan pelajar memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sosial tersebut. Organisasi pelajar bukan sekadar ruang aktivitas struktural, tetapi juga tempat pembentukan kesadaran kolektif tentang berbagai persoalan pendidikan.
“Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum atau fasilitas belajar, tetapi juga oleh kondisi kesejahteraan yang menopang kehidupan pelajar sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman belajar sehari-hari memberi pelajar perspektif unik mengenai tantangan pendidikan di tingkat akar rumput. Perspektif itu dapat memperkaya diskusi publik dalam merumuskan sistem pendidikan yang lebih adil dan inklusif.
Pada akhirnya, Dany menegaskan bahwa masa depan pendidikan tidak hanya bergantung pada kebijakan besar atau indikator akademik semata. Fondasi paling dasar tetap terletak pada kondisi kesehatan pelajar itu sendiri.
“Masa depan bangsa tidak hanya dibentuk oleh ide-ide besar, tetapi juga oleh hal-hal sederhana yang mendasar: apakah pelajar Indonesia memiliki kondisi tubuh yang cukup sehat untuk belajar, berpikir, dan mengembangkan potensi mereka,” tulisnya.
Jika dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, program Makan Bergizi Gratis diyakini dapat memperkuat fondasi tersebut. Bukan hanya membuka akses terhadap pemenuhan gizi, tetapi juga membantu memastikan proses pendidikan berlangsung dalam kondisi yang lebih layak dan setara bagi seluruh pelajar Indonesia.

