Bugiswarta.com, Bone — Pergantian tahun kerap diwarnai dengan deretan resolusi dan harapan. Namun bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Bone, tahun 2026 dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan. Resolusi diposisikan sebagai komitmen kolektif yang siap diterjemahkan menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat.
Ketua Umum PC IMM Bone, Asriadi, menegaskan bahwa tahun baru tidak boleh hanya diisi dengan narasi indah tanpa arah. Menurutnya, IMM Bone harus keluar dari jebakan formalitas dan mulai membangun langkah yang terukur serta berdampak langsung.
“Resolusi 2026 adalah momentum pembuktian. Setiap gagasan harus berujung pada kerja nyata,” ujarnya.
IMM Bone mengusung semangat akselerasi gerakan sebagai roh utama resolusi tahun ini. Akselerasi tersebut dimaknai sebagai kesadaran bersama bahwa gerakan organisasi tidak boleh berjalan lambat atau terjebak pada pola lama. Seluruh kader, dari tingkat cabang hingga komisariat, diharapkan bergerak dalam satu irama dengan menjunjung nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge sebagai kearifan lokal Bone.
Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam menjalankan Tri Kompetensi IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Ketiganya dipandang tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus saling menguatkan dalam setiap gerakan organisasi.
Untuk memastikan resolusi tidak berhenti sebagai wacana, IMM Bone menetapkan empat pilar akselerasi gerakan di tahun 2026. Pilar pertama adalah transformasi intelektual berdampak. Kader didorong tidak hanya piawai berdiskusi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi konkret atas persoalan sosial di Bumi Arung Palakka.
Pilar kedua menitikberatkan pada kemandirian organisasi. IMM Bone mulai mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif sebagai penopang perkaderan. Kemandirian finansial dinilai penting untuk menjaga marwah organisasi sekaligus memperluas ruang gerak perjuangan.
Pilar ketiga adalah humanitas yang membumi. Kehadiran IMM harus dirasakan langsung oleh masyarakat melalui aksi sosial berkelanjutan, pendampingan pendidikan di wilayah pelosok, hingga pengawalan kebijakan publik agar lebih berpihak kepada rakyat.
Sementara itu, pilar keempat menegaskan sikap IMM Bone dalam menolak stagnasi. Di tengah arus digitalisasi dan derasnya disrupsi informasi, organisasi dituntut berani berinovasi tanpa kehilangan akar ideologi Muhammadiyah.
Asriadi mengajak seluruh kader untuk mengakhiri perdebatan yang tidak produktif dan mulai menyatukan langkah.
“Di bawah langit Bone, IMM harus membuktikan diri bukan hanya pandai berteori, tetapi hadir sebagai rumah bagi para pejuang yang mengubah komitmen menjadi kenyataan,” tegasnya.
Dengan resolusi tersebut, IMM Bone menatap 2026 sebagai tahun kerja, tahun pengabdian, dan tahun pembuktian bahwa gerakan mahasiswa mampu memberi arti bagi umat dan masyarakat luas.

