Resesi Ekonomi, Dilema Mempertahankan Citra Dan Menjaga Kedaulatan Bangsa

Penulis : Munadi Marpa Direktur Yayasan Bina Insan Bangsa

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindari. Pepatah itu mungkin bisa disematkan pada bangsa ini. Betapa tidak, di jelang perhelatan moment perayaan Kemerdekaan yg ke-75 tahun,  bangsa ini ketiban beragam masalah. 

Dimulai dari Pandemi Covid-19 yang melanda sejak Maret hingga saat ini belum nampak tanda-tanda usainya hingga terdampaknya perekonomian akibat pandemi yang berakibat pada resesi ekonomi yang kemarin telah diumumkan. 

Sebuah kado pahit tentunya bagi bangsa yang harusnya gempita merayakan moment kemerdekaannya. Resesi ekonomi ini bukanlah hal yang baru bagi bangsa ini. Moment seperti ini telah beberapa kali terjadi dan mampu terlewati. Sebagian beranggapan bahwa kita bisa melawatinya. 

Beberapa teman pengusaha menghubungi untuk sekedar sharing atas kondisi ini. Ada hal yang sedikit berbeda secara konteks antara resesi ini dengan yang sebelum-sebelumnya. Jika resesi sebelumnya muncul akibat tekanan politis atau kebijakan yang tidak pro-pelaku usaha besar, maka dengan ganti rezim, biasanya akan kembali stabil tuh kondisi ekonomi. 

Nah ini beda, resesi ini berlangsung secara global dan diakibatkan pandemi wabah yang berakhirnya juga belum jelas kapan. Sudah tentu implikasi ekonominya juga akan terasa dalam kurun waktu yang tidak jelas. 

Lalu, siapa yang akan merasakan dampak resesi ini. Jawabnya, secara simultan, yang akan merasakan langsung adalah para golongan ekonomi atas dan menengah. Bagi kalangan bawah, memang tidak akan secara langsung merasakan, terlebih buat mereka yang domisilinya tidak berada di perkotaan. 

Namun, jika efek pandemik berlangsung lama, maka semua akan terlibas. 

Resesi memang akan sulit terhindarkan. Cash flow secara makro bangsa ini, hampir 30% masih terpusat di ibukota negara (maksud saya Jakarta nih yaa). Kondisi pandemi yang mengharuskan Jakarta memberlakukan kebijakan PSBB sudah tentu membuat cash flow negara turut tersendat. 

Saat ini, sudah tentu pemerintah harus kembali mengamankan posisi citranya bagi publik. Salah satu solusi handalnya adalah program stimulan. Untuk ini, saya gak usah bahas detail, karena sejak awal emang sulit bicarakan hasil positif dari stimulan itu  dalam konteks pembangunan kualitas kemandirian ekonomi masyarakat. 

Mempertahankan citra bagi pemerintah adalah hal yang wajar buat mereka. Namun, menstimulus publik dengan program yang kurang tepat akan menjadikan perekonomian negara kita akan terus terguncang. Apalagi dengan efek pandemi yang belum ketahuan kapan berakhirnya.

Lalu harus bagaimana?.

Pemerintah tak usah terlalu menjaga citra. Karena resesi ini adalah akibat pandemi, bukan akibat situasi politik. Takhta tak serta-merta akan digoyang oposisi karena gabti rezim, juga gak mutlak menjadi solusi. 

Untuk bisa bertahan di tengah resesi yang harusnya dilakukan adalah program tepat sasaran dengan pemberdayaan ekonomi mikro masyarakat. kan gitu, 

Iyaa gak?, 

Nah, biar gak keliatan susah, yuk siap-siap pasang Bendera. Minimal kibarannya bisa nyemangatin kita untuk terus Berjuang. 

Salam.... 

Share on Google Plus

About Bugiswarta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment