Dana Konser Didi Kempot Sebelum Wafat Diserahkan ke Lazismu

Bugiswarta.com, Jakarta -- Didi Kempot (53), penyanyi campursari ngetop meninggal dunia di RS Kasih Ibu Solo, Selasa (5/5/2020) pagi. Penyebab kematian disebutkan karena serangan jantung. Jenazah dimakamkan ke pemakaman keluarga di Ngawi.

April lalu Didi Kempot mengadakan konser musik amal  #dirumahaja yang digalang Kompas TV dalam acara TV Rosi menghasilkan dana Rp 7 miliar untuk membantu pencegahan wabah Corona.  Konser amal juga disiarkan di kanal YouTube Narasi dan Najwa Shihab.

Sebagian dana konser amal dari Sobat Ambyar fans Didi Kempot ini diserahkan ke Lazismu senilai Rp 2,122 miliar. Dana diserahkan oleh GM Legal dan PR Kompas Gramedia Group Deddy Risnanto kepada Direktur Lazismu Edi Suryanto, Rabu (22/4/2020) yang lalu.

Dikutip dari suaramuhammadiyah.id, acara penyerahan ini disiarkan live dari Yogyakarta dan Jakarta bersamaan kegiatan peluncuran program Ketahanan Pangan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Yogyakarta.

Direktur Lazismu Edi Suryanto menjelaskan, dana itu disalurkan dalam bentuk paket sembako dan suplemen lainnya. ”Rinciannya untuk penerima manfaat berupa 3.400 paket sembako masing-masing senilai Rp 330 ribu dan 2.000 paket uang tunai masing-masing senilai Rp 500 ribu,” jelasnya.

Edi mengucapkan terima kasih kepada Kompas Gramedia Group atas kepercayaan dan kolaborasinya sehingga bisa bersinergi bersama. Dana tersebut disalurkan kepada penerima manfaat di wilayah Jabodetabek.

Perjalanan Karier


Sebelum populer, penyanyi bernama asli Didi Prasetyo yang lahir di Solo, 31 Desember 1966 ini mengamen di keramaian kota kelahirannya. Nama grup pengamennya Kelompok Penyanyi Trotoar yang disingkat Kempot. Nama grup musiknya ini yang kemudian membuat tenar dengan nama Didi Kempot.

Banyak sekali lagunya yang populer di antara ratusan karyanya seperti Pamer Bojo, Sewu Kutho, Stasiun Balapan dan lainnya. Lagu terakhir yang diciptakan Ojo Mudik berkaitan dengan seruan pemerintah yang melarang mudik selama wabah Corona.

Dia juga dijuluki Godfather of Broken Heart  karena lagu-lagu campursari bahasa Jawa itu semuanya bercerita tentang patah hati. Anehnya, lagu-lagu Jawa ini sangat digemari anak-anak muda milenial yang berkelompok menamakan diri Sobat Ambyar.

Saking populernya lagu campursari ini, bahkan ada orang yang mengatakan, tak bisa menyanyikan lagu Didi Kempot dianggap kurang gaul. Lagu-lagu patah hati memang sangat digemari masyarakat biar pun itu tembang Jawa. Didi Kempot membuktikannya.

Darah seni mengalir dari keluarganya. Ayahnya, Ranto Edi Gudel, pelawak populer Srimulat tahun 1980-an. Kakaknya Mamiek Prakoso juga pemain Srimulat. (*)


Penulis/Editor Sugeng Purwanto

Share on Google Plus

About bugis warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment