Covid-19 E-learning dan Kesiapan Pendidikan Kita

Oleh: Mustabsyiratul Ailah (Ketua Bidang Immawati PC IMM Kabupaten Gowa)

Bugiswarta.com, Gowa — Sebelum 2019 menggenapkan rotasinya di akhir Desember kemarin, salah satu makhluk Tuhan dengan ukuran 20 mm menampakkan diri di Provinsi Wuhan, China.


Dalam waktu singkat ia berhasil menginvasi berbagai negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Ia kemudian dikenal dengan Virus Corona karena sekitaran tubuhnya menyerupai mahkota (Corona).

Keberadaannya sebenarnya telah diprediksi oleh beberapa peneliti dari Research Center For Infection and Immunology Hongkong menyebutkan bahwa ia ibarat bom waktu yang berhak memilih situasi dan kondisi untuk menimbulkan efek yang signifikan. Dan itu adalah di awal tahun 2020 ini.

Dampak sangat signifikan yang ditimbulkan adalah pada aspek kesehatan, bahkan dengan hal tersebut World Health Organization (WHO) mengumumkan penyakit yang ditimbulkan (Coronavirus Disease Covid 19) sebagai pandemi.

Berbagai asumsi bermunculan, mulai dari stigma bahwa ini adalah teori konspirasi, senjata biomedik untuk pertikaian politik dan lain sebagainya. Apapun itu, faktanya bahwa Covid 19 telah membuat seluruh dunia gusar.

Pemerintah di seluruh dunia memberlakukan physical/social distancing sesuai arahan WHO untuk mengurangi atau memutus penyebaran Covid 19. Kebijakan itu berdampak di hampir seluruh aspek kehidupan bil khusus pendidikan.

Bagaimana tidak, wadah ilmu pengetahuan yang selama ini rutin dikunjungi oleh ramai orang yaitu sekolah dan kampus harus ditutup. Segala bentuk proses belajar mengajar harus dilakukan via daring (online). Tentu hal ini harus memaksa siapapun pelajar maupun pengajar beradaptasi dengan wadah baru itu.

Adaptasi tersebut akan mudah, ketika kita selalu ingat perkataan Roem Topatimasang dalam ‘Sekolah itu Candu’ bahwa setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru. Teori pendidikan yang paling mendasar namun paling sering pula dimarjinalkan.

Walhasil kita betul-betul candu terhadap fasilitas gedung besar dan menjadikannya satu-satunya sumber akses ilmu pengetahuan sehingga menimbulkan kesulitan adaptasi terhadap wadah akses ilmu pengetahuan yang lain termasuk e-learning.
Kedatangan Covid 19 rasanya semakin menegaskan ketertinggalan pendidikan kita. Seketika makhluk kecil ini mencoba mempertontonkan fakta bahwa proses pendidikan di Indonesia masih sangat terbelakang dengan integrasi teknologi.

Saat negara lain sudah berlomba-lomba menciptakan teknologi baru, menjemput revolusi industri 4.0 dalam proses pendidikan, kita masih harus merangkak dan terbata-bata menggunakan wadah pendidikan berbasis IT yang lama nan jadul. Bahkan mungkin belum mampu menggunakannya. E-learning misalnya.

Rata-rata pelajar kita mengeluhkan proses pembelajaran e-learning yang diberlakukan dalam kurun waktu semester genap ini sebagai efek pandemi Covid 19. Bukan kegagapan menggunakan aplikasi daringnya melainkan biaya akses internet yang tidak ramah kantong.

Belum lagi ketersediaan jaringan untuk mengakses internet dan penggunaan aplikasi. Fakta ini akan semakin menyulitkan akses terhadap referensi buku, artikel ataupun jurnal terkait penugasan akademik.

Jangan salahkan pelajar kita ketika budaya copy paste masih saja diwariskan turun temurun, boleh jadi inilah salah satu penyebabnya. Walhasil lulusan kita miskin independensi intelektual, sebab dikepalanya hanya ada kepala orang lain.

Jangankan ketersediaan jaringan internet, ketersediaan jaringan seluler saja masih susah diakses di beberapa tempat di Indonesia. Tentu hal itu akan sangat mengganggu proses belajar mengajar via daring. Sebab hampir semua pelajar harus memilih mudik ke kampung halaman sebagai dampak Covid 19, yang boleh jadi wilayahnya masuk dalam kategori no internet access.

Sangat disayangkan. Cita-cita negara perihal kesejahteraan umum dalam aspek pendidikan berbanding terbalik dengan atmosfer internet access yang lambat, kurang bahkan no access.

Pemberlakukan wilayah free wifi dirasa masih sangat tabu dan mubazir belum lagi pertimbangan kultur psikososial masyarakat Indonesia yang selalu menjadi pertimbangan utama. Dalam kepungan revolusi industri 4.0 bilkhsus pada aspek pendidikan kita ternyata masih saja belum siap. Perihal ketertinggalan demi ketertinggalan tentulah bisa kita prediksikan. Dan pandemi Covid 19 semakin menegaskan itu.
Kita mungkin bisa belajar dari pengorganisasian wilayah internet access ala Boov dalam Film animasi Home. Wilayah free access dengan kecepatan high speed dengan radius yang sangat luas.

Jangankan mencapai pelosok Sabang dan Merauke, bahkan radius jangkauannya mencapai seluruh galaksi. Itulah salah satu pendukung kemajuan teknologi dan kecerdasan inovasi rakyat Boov termasuk dalam bidang pendidikan.

Lah itukan film animasi? Bukankah keberadaan motor patroli terbang kepolisian Dubai hari ini juga adalah replika dari film animasi Doraemon Stand by Me? Kita masih akan terus tertinggal dalam segala bidang jika pemerataan akses internet di seluruh Indonesia masih dianggap tabu, sebab ketersediaan akses internet yang merata dapat memudahkan pelajar-pelajar kita di seluruh pelosok negeri mengakses ribuan referensi, bahan bacaan dari berbagai perpustakaan di istana Google.

Namun sekali lagi, pandemi Covid 19 menegaskan ketertinggalan pendidikan kita.

Bulukumba, 17 Sya’ban 1441

10 April 2020
Share on Google Plus

About bugis warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment