Gamasi Jaya FM Penjaga Peradaban dan Kearifan Lokal -->
Cari Berita

Gamasi Jaya FM Penjaga Peradaban dan Kearifan Lokal

Laporan : Nur Hikmah Mahasiswa KPI FDK UIN Alauddin
Melaporkan dari Makassar
 
MAKASSAR, Bugiswarta.com -- Mahasiswa berjas hijau jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar pada hari ini Selasa, 1 Desember 2015 bertandang di salah satu stasiun radio tertua di kota Makassar yakni di stasiun GAMASI JAYA FM dengan tampak luar yang bernuansa biru kental, dimana  sajian acaranya dapat dinikmati di frekuensi 105.9 FM.

Fakta menarik dari sejarah berdirinya Gamasi FM ialah usaha dari sekawanan anak muda kala itu pada tahun 70-an dimana H. Abdul Hamid pendiri sekaligus pemilik Gamasi FM dan teman-temannya memulai langkah pertama menuju kesuksesan. Berawal dari hobby  disertai bakat dan kerja keras sekelompok anak muda,  bambu yang dikreasikan dan dipancangkan di pohon gamasi sebagai antena dan digunakan untuk siaran cuma-cuma menjadi cikal bakal pemberian nama stasiun Gamasi yang bertahan hingga saat ini.

Hanya saja dahulunya kepanjangan dari Gamasi ialah Gabungan Manusia-manusia Sial yang telah berganti menjadi Gaya Makassar Ada Disini (Gamasi) yang lebih modern dan mengikuti alur zaman. Berkat kerja kerasnya Gamasi kini dapat dinikmati di daerah Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, Sinjai, Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, babhkan hingga Kolaka Utara oleh kalangan menegah ke bawah dalam menyuarakan aspirasi rakyat yang sesegera mungkin mendapatkan respon dari pemerintah setempat.

Salah satu bukti nyata tersampaikannya aspirasi rakyat di telinga pemerintah ialah PDAM yang sempat macet disuarakan melalui Gamasi Jaya FM, 10 menit berselang pihak PDAM sigap memperbaiki kerusakan yang ada. 

Hal ini berdasarkan penuturan salah satu penyiar Gamasi bernama Wandi yang telah melakukan survei di kompleks rumahnya sendiri.

Berbeda dengan perubahan nama, konten acara dari Gamasi sejak resmi didirikan Juni 1980 tidak banyak mengalami perubahan, alasannya tidak lain ialah mempertahankan budaya yang ada dan penjaga peraaban dan  kearifan lokal. Cita-cita mulia dari para penggerak Radio Gamasi FM sebagai penjaga peradaban dan pelestari kearifan lokal membuahkan hasil gemilang dengan sejumlah penghargaan yang diraih.

 Sebut saja acara Paccarita dan Baruga yang telah meraih prestasi sebagai acara radio terbaik oleh KPI-D Sulawesi Selatan.

Persaingan di dunia media bukanlah masalah berarti bagi Gamasi FM. Kekhawatiran pihak Gamasi lebih kepada bergesernya nilai-nilai masyarakat dalam mendengarkan radio.

 Adanya kecenderungan masyarakat mendengar radio hanya pada pagi dan petang saja sedikit banyak membuat resah pihak manajemen yang setiap harinya memutar otak demi keberlanjutan acara.

Terlebih nafas dari sebuah stasiun radio ialah iklan yang datang dan pergi sesuka hati. Untungnya Gamasi memiliki satu pengiklan tetap yang bertahan selama tiga tahun lamanya dan masih coba dipertahankan oleh Gamasi FM yakni TORABIKA.

Mahasiswa pun terlihat akrab dengan beberapa penyiar yang sangat ramah melayani pertanyaan-pertanyaan Mahasiswa mengenai stasiun radio Gamasi. Seorang dosen dan dua orang Mahasiswa pun sempat melakukan sesi wawancara dengan penyiar yang tengah bertugas menjalankan acara.

Usia 44 tahun Gamasi dalam melestarikan budaya bangsa dengan bahasa dan lagu daerah membuktikan betapa pengalaman kerja dan loyalitas dari para pekerjanya sangat tinggi. Dibuktikan dengan 80% penyiarnya masih sama dengan penyiarnya bertahun-tahun silam.

 Sungguh kesetiaan dan loyalitas yang luar biasa dalam menjalankan amanah sebagai jurnalis, penyiar dan staf yang handal. Beragam inovasi pun terus dilakukan tanpa merombak ciri khas dari Gamasi Jaya FM yang selalu menjunjung tinggi nilai budaya dan kearifan lokal.


--------------
Usman