Cerpen : Cinta Disinari Sunrise III -->
Cari Berita

Cerpen : Cinta Disinari Sunrise III

Penulis : Uswatun Hasanah Junaid
Mahasiswa STAIN Palopo
Sambungan , Baca Juga  Cerpen : Cinta Disinari SUNRISE (II)

“Nes, kali ini aku ingin istirahat dari segala kepenatan aktifitasku hari ini, ingin kuberteriak dihadapan air yang luas dan tak berujung ini tapi aku malu karena ada begitu banyak orang disekelilingku. Aku kecewa kenapa hingga detik ini dia belum memberikaku kabar tentang dirinya disana? 

Halwah sebenarnya tidak ingin memikirkan dia saat ini tapi aku harus bilang apa kalau orang tuaku bertanya lagi tentang Junaid yang katanya akan melamarku? Nes, bantulah aku...”

Sedih memang rasanya jika kebahagiaan yang baru saja terjalin tiba-tiba harus terpisahkan oleh jarak dan waktu. Meski raga terbentang nun jauh dipulau orang namun mata dan hati ini akan selalu terjaga hanya untuk seorang saja. 

Kebahagiaan bersama Junaid baru Halwah rasakan ketika menjelang H-5 menjelang acara wisuda, terbayang sulitnya Junaid ketika mengejar cinta Halwah yang sangat sulit untuk ditaklukkan, Junaid harus sabar menunggu jawaban halwah selama tiga bulan lamanya.

“hhhhmmmm... mungkin inilah ganjaran buat seorang Halwah pak, seorang gadis yang terlahir tinggi besar berkulit gelap dan memiliki tompel hampir memenuhi seluruh pipi sebelah kananku yang sungguh berani menerima pinangan cinta dari seorang anak khonglomerat berkulit putih salju, berparas indah, bersuara lemah lembut nan cerdas. 

Rasanya saya adalah seorang putri si buruk rupa yang sangat beruntung menerima pinangan itu untuk yang pertama kalinya pak, namun ketika kujalani hampir 2 tahun lamanya menunggu Junaid pulang dari India menyelesaikan studi S2nya rasanya terlalu banyak godaan, andai saja......”

“sssttt..sssttt...ssstt... jangan begitu nak, tidak baik berkata berandai-andai, kesannya Halwah menyesali sebuah takdir yang telah digariskan oleh Allah di lauhul mahfudz, Yang telah terjadi biarlah terjadi, jalanilah apa yang telah digariskan Allah untukmu nak”

“hiks..hiks..hiks.. aku sangat malu menampakkan diriku didepan keluarga Junaid pak, aku takut kalau nantinya mereka heran melihatku karena selama ini Junaid belum pernah mengajakku ke rumah orang tuanya dan dia selalu saja menolak ketika ingin dijodohkan dengan anak rekan satu bisnis ayahnya. Dia selalu saja bertahan pada pendiriannya untuk tetap bersamaku”.

“nah, itukan bagus. Berarti nak Junaid itu benar-benar mencnintaimu dan ingin menjadikanmu makmum pada shaf sholatnya. Kamu sekarang janganlah terlalu memikirkan yang macam-macam, cukup satu macam saja. Hehehhe”

“aaahhh bapak disaat situasi yang seperti ini masih saja sempat-sempatnya meledek Halwah (sambil mengusap air matanya)”
Satu tahun delapan bulan Halwah menantikan kedatangan Junaid untuk menjemputnya ke rumah orangtuanya. Dia menyibukkan diri dengan segala aktifitas dan rutinitas yang bisa mengalihkan perhatian dan ingatannya. Mulai menjadi pegawai disalah satu perusahaan swasta yang ada di kota tempat ia tinggal hingga bisnis sampingan yang ia bangun dari gajinya.

Perlahan namun pasti waktu itu akan datang. Ketika Halwah hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba ada seorang pemuda yang sudah nongkrong diruang tamunya yang sama sekali ia tidak kenal.
“ooohh,,, sudah rapi kamu rupanya nak. Itu ada teman kamu yang cari”
“dia siapa bu? Sambil menatap pemuda itu keheranan

“ibu juga tidak tahu, dia Cuma bilang katanya dia teman kamu waktu kuliah. Cepat kamu kesana dari tadi dia menunggumu”

“ibu koq tidak bilang kalau ada teman Halwah yang datang, kalau begini kan Halwah jadi salah tingkah jadinya mau berbuat apa. Apalagi tamunya laki-laki”
“tadi ibu sudah teriak depan pintu kamar kamu, tapi kamunya saja yang tidak dengar”
“ya udah bu, saya ke ruang tamu dulu”

Halwah memelankan jalannya untuk memastikan siapa tamu laki-laki yang masih pagi-pagi sudah bertamu di rumahnya dan ketika Halwah melihatnya menyamping ternyata...

“wwwoooiiii...ini benar-benar kamu? Burhan?”
“hahahahaha...iya, ini saya Burhan Hasanuddin. Pemuda kaya raya yang tidak pernah miskin meski berapa kali kecolongan. Hahahaha”
“hahahahaha... sumpah, tadi sempat aku tidak mengenalimu bro saking jeleknya dirimu”
“aaaahhh... kamu jangan berlebihan memujiku Wah.. nanti aku jadi GR jadinya”
“iiihhh... dicela koq malah tersanjung, kamu tuh lebih jelek dari sebelumnya Han. Meski kamu make over wajah kamu hingga berkali-kali ya kamu tetap ajha sama”
“sama apa?? Hah? Hah? Hah?? Sambil mempelototi Halwah”
“ya tetap hancur”

“ahahahahaha... biar kamu bilang apa, tetap saja aku masih menjadi lelaki yang tercakep dimatamu Wah. Iya kan?”
“iiihhh Ge-eR....”
“Em-Berrrrrr....”

Burhan adalah teman semasa kecil Halwah yang dulunya mereka selalu saja kompak bersama. Kata tetangganya mereka bagaikan gula dan semut jika akur dan bagaikan kucing dan tikus jika tidak seide. Namun mereka harus berpisah karena ayah Burhan yang berprofesi sebagai pak Camat harus dipindah tugaskan disaerah lain.

“eeehh...denger-denger katanya kamu mau menikah yah? Wah...curang kamu sist gak mau nunggu aku selesaikan magister aku!”
“hhmmm iyyah aku memang mau menikah han, tapi gak tahu mau menikah sama siapa”
“maksud kamu?”

“dua tahun yang lalu ada anak konglomerat yang telah mengkhitbahku sebelum ia berangkat ke India untuk melanjutkan magisternya, ia berjanji akan meminangku ketika ia telah menyelesaikan studinya”
“terus singkronisasinya dimana neng?”

“dua tahun saya menunggu tanpa kepastian han, sms, telepon, email bahkan secarik kertas pun tidak kunjung tiba. Aku bingung harus bersikap apa sekaran Han, karena orang tuaku hendak menjodohkanku tapi alasanku selalu sama yaitu menunggu”

“lantas perasaanmu kini ke Junaid gimana? Kalau kamu merasa sudah tidak ada kecocokan lagi ya dibubarkan saja”
“Han, ini bukan masalah cocok atau tidak cocok tapi ini persoalan kejelasan. Kalau saja Junaid memberikan ketegasan tentang hubungan ini, kalau mau lanjut saya akan menunggu tapi kalau mau dihentikan saya akan menerima lelaki yang dijodohkan ayah kepadaku. Mengingat usiaku kini tidak muda lagi Han”

“kamu sudah datang ke orang tuanya”
“belum pernah”
“keluarganya? Adik atau kakaknya?”
“sama sekali belum pernah”

“robbiiiii...kamu ini gimana sih Halwah. Bagaimana caranya kamu bisa mengenal Junaid dengan baik kalau keluarganya saja kamu tidak tahu. Setidaknya kalau kamu kenal dengan keluarganya, kan kamu bisa tanya-tanya tentang kabar Junaid”

“Junaid tidak pernah mengenalkan aku ke keluarganya Han”
“kamu yang ajak Junaid tapi Junaid nolak atau Junaid yang ngajak kamu tapi kamu nolak?”
“aku yang nolak Han”
“kenapa? Karena kamu belum PD dengan wajah tompelmu? Atau dengan postur tubuh kamu yang tinggi besar berkulit hitam kayak buto ijo gelarku padamu sewaktu SD?”

“termasuk itu Han, jujur.. ketika Junaid masih disini dia selalu saja bertemu dengan mantannya ketika aku pergi jalan keluar dan jika kubandingkan dengan mantan-mantannya, sungguh aku sangat risih berada disebelahnya”

“ketika Junaid memutuskan untuk meminangmu ketika ia kembali dari India dan mendengar ceritamu yang tadi, kedengarannya Junaid serius terhadapmu bahkan kamu sendiri yang terkadang ogah-ogahan terhadapnya”

“hhheeeemmm...karena inilah (menunjuk fisiknya) yang membuatku tidak PD kalau berdampingan dengan Junaid Han, bagaikan si Tampan dengan si Buruk rupa”

“aaahhh. Kamu jangan bicara bagitu Halwah, tidak baik jika kita selalu mencela diri sendiri seakan-akan kita kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ingatlah selalu nasehat pak Ruslan guru aqidah akhlak kita dulu waktu SMP selalu saja menjadikan QS. Ibrahim ayat 7 untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah”

“iya iya pak, saya ingat sekali... bahkan saya sampai-sampai mohon undur diri  ke kamar kecil ketika dia mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya itu dihadapan teman-teman”
“hahahahahaha...iyya yah... kamu tuh jagonya ngeles kalau diceramahin”
“hahahahahaha...aku?? kamu aja kaaleeee... pake’ bawa-bawa namaku lagi”
“aaahhh.... sesama tukang ngeles jangan saling tuduh menuduh... hahahahahha”
Suara gelak tawa terdengar meriah dipagi itu. Sambil mereka bernostalgia tentang masa-masa kebersamaan mereka waktu masih sekolah di madrasah tsanawiyah.

----------------------------------------------------------
*** Bersambung***