Muhammadiyah, HW, dan PSSI Kembali Ke Rumah

M. Nigara, Wartawan Sepakbola Senior, Staf khusus Menpora

Bugiswarta.com, Jakarta -- Setelah lama berada di luar, Muhammadiyah, organisasi yang selama ini dikenal berada di jalur agama, pendidikan, kesehatan, dan sosial, kini resmi pulang ke rumah lamanya, PSSI. Lho? 

Tak banyak orang tahu, Muhammadiyah ternyata bukan organisasi asing di dunia sepakbola nasional.

Adalah Hizbul Wathan (HW), klub sepakbola yang berada di lingkungan organisasi tersebut, merupakan salah satu motor pendiri PSSI. Dan, Ir Soeratin Sosrosoegondo, pendiri yang sekaligus Ketua Umum PSSI pertama itu, ternyata juga
penggiat sekaligus anggota Muhammadiyah, Yogyakarta.

Akuisisi
Jumat (28/2/2020) Ketua PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Jawa Timur (Jatim), M Saad Ibrahim, menegaskan pihaknya telah siap berdakwah di orbit sepakbola.

Langkah konkrit yang dilakukan adalah mengakuisisi klub Liga-2, Persigo Semeru FC. Nah
HW yang sebelumnya tidak dalam lingkup kompetisi PSSI, akan menggantikan klub liga 2 itu berkompetisi dalam orbitnya.

Jauh sebelum itu, di awal tahun 2000an, Muhammadiyah, sesungguhnya sudah hadir dalam orbit Galatama, tetapi hanya sebagai sponsor klub.

Adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, yang melakukannya. Klub Arema Malang, milik mantan Gubernur Papua yang saat itu menjadi administrator Liga, Acub Zainal yang dipilihnya.

UMM menjadi universitas kedua yang hadir sebagai sponsor klub sepakbola. Sebelumnya di era 1980 an, Universitas Darma Agung (UDA) Medan, milik TD. Pardede menjadi sponsor tunggal klub legendaris Pardedetex.

Selain itu, Muhajir yang saat ini menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), pernah bercita-cita ingin membangun stadion sepakbola di Malang.

"Waktu itu saya rektor UMM, " katanya. "Ada 10 hektar tanah milik UMM. Saya sempat tergoda untuk membangun stadion. Tapi tidak jadi karena saya takut dipecat," katanya lagi sambil tertawa.

Pulang
Langkah ini, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru bagi Muhammadiyah. Saya tak ragu menyebutnya, pulang kembali. HW adalah klub yang sama tuanya dengan organisasi Muhammadiyah, 1912. Dengan fakta itu, tidak sedikit yang percaya bahwa usia HW jauh lebih tua dari PSSI.

Jika kita membuka-buka lembaran sejarah, HW sudah ada seiring Belanda membawa olahraga sepakbola, (dulu sepak raga), ke Indonesia 1906.

Seperti diketahui, Penjajah Belanda membawa enam cabor ke Nusantara (tanah Jawa): Berkuda, Berenang, Senam, Bola Keranjang, Tenis Lapangan, dan Sepak Raga.

Lima cabor dianggap 'haram' dimainkan inlander. Tapi, sepak raga justru didorong untuk bisa dimainkan kaum pribumi.

Belanda sengaja membuka hal itu agar anak-anak muda dan orang-orang lelaki sibuk dengan permainan itu. Tujuannya agar semua orang lelaki lupa akan perjuangan utama mereka yakni memerdekakan bangsa.

Nah, HW sudah ikut bersepak raga jauh sebelum Ir. Soeratin mendeklarasikan PSSI, 19 April 1930. Soeratin sendiri termasuk tokoh muda Muhammadiyah. 

Jangan heran, kakak ipar Soeratin adalah Boedi Oetomo, tokoh gerakan nasionalis yang sangat lekat dan kental dengan Muhammadiyah. Artinya, klaim bahwa Soeratin adalah Muhammadiyah, insyaa Allah tidak keliru.

Jadi, jika kemudian organisasi yang satu ini mengambil alih Liga 2 untuk terjun langsung, di lingkup PSSI, juga bukan hal yang aneh. Malah sudah sepantasnya Muhammadiyah masuk kembali ke dalam.

Jejak
Jejak Muhammadiyah dalam sepakbola Indonesia telah diawali oleh Abdul Hamid, salah satu santri K. H. Ahmad Dahlan. Kita tahu, Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah.

Hamid juga tercatat sebagai salah satu pendiri PSIM )Perserikatan Sepakbola Indonesia Mataram) dan pernah menjadi ketuanya.

Kiprah emasnya dalam sepakbola Indonesia adalah ketika bahu-membahu bersama Ir. Soeratin Sosrosoegondo dan para perintis awal sepakbola Indonesia, mendirikan  Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI), 15 tahun sebelum Indonesia merdeka.

Selain itu, Abdul Hamid juga menjadi pemain PS HW. Tidak puas hanya di Yogya, Muhammadiyah juga melahirkan PS HW- PS HW di kota-kota lain. Selain sepakbola, HW juga identik dengan kepanduan.

Tak berlebihan jika saya dan kita semua berharap HW bisa menjadi besar. Kita tahu, semua kegiatan dan keorganisasian di bawah Muhammadiyah, telah menjadi besar.

Selain organisasi keagamaannya, pendidikan dari TK hingga Universitas, sangat besar. Begitu pula rumah sakit yang berdiri hampir di 34 provinsi.

Semoga saja Muhammadiyah menjadi pembersih sepakbola kita. Menko PMK sendiri bersama Kemenpora dan beberapa kementerian serta lembaga, menjadi garda terdepan dari Inpres no.3 tahun 2019, terkait percepatan, pembangunan persepakbolaan nasional. Aamiin.....

Share on Google Plus

About bugis warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment