Eligi Hari Esok

Penulis : Rikky
“Menaruh harapan pada mereka yang masih menyandang gelar Mahasiswa”.
Perlu kita ketahui bahwa pemikir, pendidik, birokrat, politisi, dan para guru besar saat ini adalah mahasiswa jaman dahulu. Yang perlu juga kita ketahui bahwa kita memang bebas-sebebasnya untuk jadi apapun, kecuali mengaku sebagai Nabi, bahkan menjelma menjadi Tuhan.

Dinamika berkuliah, berorganisasi, menyusun laporan, ngopi sambil berdiskusi bersama kawan mungkin menyisakan kenangan manis dan pahit di relung hati setiap kawan-kawan Mahasiswa.

Bahasa tentang keadilan sepertinya tak asing lagi ditelinga kawan-kawan Mahasiswa.
Pasca mendengar percakapan kawanku yang meminta uang pada orang tuanya yang cukup lumayan banyak untuk memenuhi kebutuhan kegiatan lembaga kemahasiswaan di kampus, dan pada akhirnya orang tuanya tak sanggup. 

Hari itu saya benar-benar menyesal  terkadang masa bodoh terhadap apapun selain kesenangan pribadi, pun juga hari itu saya sudah kurang percaya pada sebagian kakak-kakak senior di lembaga kemahasiswaan yang mengatasnamakan keadilan sebagai batu tapal perjuangan tapi malah memeras adik-adiknya.
            
Tipe-tipe Mahasiswa yang apatis, hedon, atau mengaku idealis tapi menindas saat berkuasa, mementingkan golongan, kelompoknya dan teman seideologinya masih tetap ada, bahkan tipe-tipe mahasiswa yang munafik, berbicara lantang soal tanah air tanpa penindasan di parlemen jalanan, tapi kelakuan di kampus selalu mencecoki adik-adiknya dan meminta untuk dibelikan rokok sambil mengiming-imingi pertanyaan logika ! Misal, “kalau kau mau tau apa bedanya monyet dan dirimu, piko dulu beli rokok”, ini sering terjadi di kalangan Mahasiswa baru. Kadang saya berpikir, senior semacam ini tau tidak ? mungkin saja yang diperasnya orang yang berlatar belakang kurang mampu atau mungkin orang tuanya hanya kelas menengah kebawah”.

Terlepas dari cerita kakak-kakak senior yang membawa kita pada negeri dongeng dan kisah heroiknya. Dalam kehidupan dunia kampus yang dinamis, Ada yang tak kalah menarik ! juga tentang kelakuan-kelakuan beberapa dosen. Contoh yang sering terjadi, ia akan menegur Mahasiswanya yang sering terlambat, bahkan tak mengizinkan Mahasiswanya masuk ketika sudah melewati batas kontrak perkuliahan, Oke ! itu mungkin wajar. karena sebelumnya sudah ada kontrak perkuliahan ! tapi pernahkah kawan-kawan juga merasa seperti saya, bahwa ini tidak adil. Mengapa kontrak itu Cuma berlaku pada Mahasiswa bukan untuk dosen yang bersangkutan juga ? Padahal disiplin belajar harus juga berlaku pada kalangan pendidik.

Dan masih banyak kampus yang pendidiknya demikian sama dengan kampus kita yang dosennya sering bolos. Bahkan juga melewati batas kontrak perkuliahan, harusnya sebagai pendidik ia harus mampu memberikan contoh yang baik untuk Mahasiswanya ! ada juga yang tak kalah menarik, di kampus kita yang negeri ini khususnya FIK UNM. 

Sarana dan prasarana tidak terpenuhi, mungkin hanya soal rupa tembok bangunan yang direnovasi(misalnya lantai yang sudah retak) dan bahkan hanya temboknya yang di cat-cat saja,  padahal uang kuliah setiap tahunnya semakin naik, harusnya sarana dan prasarana juga mesti terpenuhi dan selaras dengan uang pembayaran Mahasiswa. Ini adalah gambaran realitas kecil dari sekian banyaknya problem yang tidak bisa di pungkiri. 

Bayangkan, setiap tahunnya penerimaan kuota untuk calon mahasiswa baru terus bertambah(Setiap tahunnya). Ruangan perkuliahan di fakultas ilmu keolahragaan begitu sedikit. “Hanya FIK UNM yang mungkin Masih lantai 1 ruangan perkuliahannya”. 

Pernahkah kawan-kawan harus menunggu berjam-jam di depan ruangan untuk mendapatkan giliran, karna tak ada ruangan yang kosong. Bahkan kemarin saya mendapatkan kabar di gedung basket disana ada 3 jurusan yang belajar dari mata kuliah yang berbeda-beda ! coba bayangkan. Harusnya kita sudah masuk belajar jam 07.30, tapi karena tak ada ruangan yang kosong, akhirnya kita harus menunggu sampai jam 9 atau jam 10 hingga ada ruangan yang kosong. Miris ! mengapa ? Sebab kampus ini Universitas Negeri.

Nah !  disinilah juga terkadang terjadi perubahan jadwal atau dosen bersangkutan tak jadi masuk, karena dosen bersangkutan juga punya jatah mata kuliah di kelas lain, jadi ? “Bertabrakanki Ces”. Sangat miris ! harusnya kawan-kawan sudah masuk untuk memenuhi kebutuhan ilmu, tapi karena tak ada ruangan yang kosong, alih-alih pertemuan selanjutnya minggu depan ! Jadi saya berharap agar pihak birokrat FIK UNM atau Universitas merealisasikan sarana dan prasarana yang layak bagi Mahasiswa. 

”Bukan hanya cat-cat tembok dan menambah parkiran kendaraan”, mengingat Mahasiswa setiap tahunnya bertambah. Bahkan pihak birokrat FIK UNM juga menambah 2 prodi baru yaitu Administrasi kesehatan dan ilmu gizi.  

Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari kenyamanan Mahasiswa untuk belajar dan tidak ruginya kawan-kawan Mahasiswa membayar UKT untuk menambah wawasan yang diharapkan orang tua mereka di kampung.

Saya juga akan bercerita sedikit mengenai Universitas atau Instansi pendidikan. Kiranya tahun 1950’an awal, dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno, sekolah-sekolah dibuka dan dicecoki dengan masa depan indonesia yang akan gemilang, pasca penyerahan kedaulatan kemerdekaan indonesia. Misal pulau sumatera yang dijuluki pulau harapan, sebab mempunyai nikel, intan, minyak, dan sumber daya lainnya, buktinya pribumi sendiri susah untuk bekerja di tanah airnya.

Nah ! hampir mirip dengan cara pendidik di universitas mencecoki mahasiswanya atau mengiming-imingi pekerjaan setelah lulus dari universitas atau Instansi pendidikan. tidak sesuai dengan realita ! bahkan setiap tahunnya universitas memproduksi wisudawan-wisudawan tapi hanya beberapa persen dari sarjana itu yang dipersiapkan untuk memenuhi kuota tenaga kerja di instansi pemerintah misalnya.

Ini sedikit gila, dipikiran saya pernah terlintas bahwa universitas baknya toko baju atau bahkan saya pikir warung makan ! Kenapa demikian ? Jadi begini ! saya merasa bahwa jika ingin mengenakan sebuah baju kita harus membayar, jika kita ingin makan kita harus bayar.

“Mauki beli baju ? mana uangta”
“Mauki makan ? mana uangta”

Nah ! setelah membayar, hubungan antara pedagang dan pembeli telah usai, pun juga universitas ! setelah diwisuda hubungan antara Mahasiswa dengan universitas telah usai. Persoalan pekerjaan, silahkan kalian cari sendiri ! “hahahaha”

Dan jika pada dasarnya masuk dalam perguruan tinggi  untuk menimbah ilmu kita harus membayar, untuk apa ada UU Pasal 31 ayat 1 (setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan). Lucunya dalam tes wawancara untuk penentuan tarif pembayaran UKT kita kadang menjumpai pertanyaan yang seperti ini,
“apa nakerja orang tuata ?
 berapa gajinya ?
ada mobil ?
motor?
 hp?
Bukankah yang kuliah saya, kenapa na orang tuaku ditanyakan penghasilannya pak? Hahaha”

Saya yakin kawan-kawan dalam satu kelas/angkatan, ada beberapa temannya yang orang tuanya kurang mampu, tapi karena cita-cita orang tua untuk menyekolahkan anaknya ia tak pernah menyerah.

Nah, terkadang demi menyambung pendidikan orang tua kita tak mau tau berapapun yang akan dibayar, jalur apapun yang ditempuh “kamu harus kuliah nak” maka dari itu demi membanggakan orang tua, terkadang saya harus mempertanyakan UKT kita kemana ? salahkah saya jika menulis kritikan untuk solusi penambahan gedung  perkuliahan demi terciptanya keselarasan antara UKT saya dengan fasilitas kampus, mungkin bagi orang-orang yang berlatar belakang orang tua BERADA mungkin biasa saja, atau bahkan tak peduli. 

Tapi bagi saya ? No ! Sebab, sebagai instansi pendidikan, Perguruan Tinggi wajib menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Saya hanya berharap tak ada lagi Mahasiswa yan harus menunggu bergiliran untuk mendapatkan ruang perkuliahan yang kosong, dan tentunya berikan kesempatan bagi mereka dari kalangan manapun yang ingin menyampaikan aspirasi. STOP ! menganggap bahwa Mahasiswa hanya bisa berteriak tidak jelas.

 Untukmu yang menyandang gelar Mahasiswa, saya tau soal mengkritik birokrat atau pihak kampus maupun pimpinan kampus, dosen-dosen kita, kakanda-kakanda kita, terkadang harus menimbang sebelum mengkritik, sebab bisa jadi ada konsekuensi yang berbahaya, tapi perlu kawan-kawan ketahui bahwa memang sudah esensinya bahkan sudah sejatinya seorang Mahasiswa untuk mengkritik. Pun juga kawan-kawan perlu ketahui bahwa “Sebagai Mahasiswa kita juga harus berani mengatakan benar karena kebenaran dan berani mengakui kesalahan karena salah”

Akhir kalimat “Saya tidak pernah memaksa kawan-kawan untuk membenarkan kritikan yang saya tulis, salahkan cari tau kebenarannya dan analisis sendiri”   
Share on Google Plus

About bugis warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Post a Comment