Prabowo Memiliki Institut Teknologi Adityawarman

Oleh: Rochmanijar Setiady-UKRI
Bugiswarta.com, Kisah -- Perjalanan kampus ini mulai terasa bergairah setelah sekian waktu sempoyongan sekarang mulai berjalan tegap.Kegiatan kemahasiswaan kembali hidup dan seolah kembali memiliki ruh yang menjiwai kehidupannya.

Puncak pembinaan kemahasiswaan dirasakan pada saat PMB(Penerimaan Mahasiswa Baru) 1992, Ketua Yayasan (Pak Prabowo) memerintahkan pelaksanaan OPSPEK yang berbeda dari sebelumnya. Kepanitiaan segera dibentuk, dipimpin oleh alm. Abdul Mufid.

Kegiatan pertama panitia adalah konsultasi dgn Dinas Psikologi AD di Cisitu, Bandung. Kami panitia dibimbing cara melakukan pendekatan dan mengorganisir sebuah kegiatan pendadaran, apa yang boleh dilakukan apa yang tidak boleh dilakukan.

Kemampuan panitia dalam persiapan Opspek semakin mumpuni, selain dengan Dinas Psikologi AD, kegiatan dilapangan dibantu oleh Wanadri dan PPS - Satria Muda Indonesia.

Sepertinyanya, semua potensi yang dimiliki oleh pak Prabowo, dikeluarkan untuk membentuk mahasiswa ITA menjadi mahasiswa yang unggul. Pembentukan mahasiswa yg berkarakter menjadi salah satu target beliau dalam membangun ITA seutuhnya.

Pindah Kampus
Tahun 1993, setelah melalui proses yang panjang, akhirnya ITA pindah ke kampus baru milik sendiri, di jl. Terusan Halimun No. 37, Bandung. Sebuah mimpi yang terwujud, memiliki kampus yang layak dan berwujud adalah kebanggaan bagi kami semua.

Peresmian kampus baru ternyata tidak main-main, konon akan resmikan langsung oleh pak Prabowo Subianto, bersamaan dengan acara Dies Natalis dan Wisuda tahun 1993.

Selain itu orasi ilmiah akan disampaikan oleh Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, akan hadir pula pak Hasim Sujono Djojohadikusumo.

Persiapan dilakukan, renovasi kampus yang sedang dilakukan, dipercepat. Penataan lingkungan kampus menjadi prioritas.

Tata upacara wisuda diperbaiki, dibuat standar. Baru pertamakali wisuda saat itu, pedel diperankan sebagai bagian dari upacara wisuda. Sehari sebelum hari H, persiapan periksa oleh sepri pak Soemitro, alm. Pak Hadiwijaya.

Saya yg kebagian peran sebagai Pedel, mendapat treatmen khusus dari beliau, susunan acara harus hapal diluar kepala, setiap kalimat harus diucapkan secara fasih.

Dari siang sampe malam, bolak-balik latihan, bahkan jam 9 malem sebelum pulang, saya harus mengulangi seluruh kegiatan pedel dihadapan pak Hadiwijaya.

Kegiatan wisuda dilaksanakan, kebanggaan tersendiri bagi saya menjadi Pedel pertama di ITA. Selama prosesi berlangsung, saya melihat 2 sosok besar kakak beradik duduk berdampingan begitu akrab, bahkan sempat terlihat pak Prabowo dan pak Hasim tukeran jepitan dasi.

Hal yg paling menarik dalam prosesi kali ini adalah orasi ilmiah Prof. Soemitro berlangsung selama hampir 2,5 jam dan panitia lupa menyediakan kursi untuk pedel.

Kerjasama ITA dan ITB
Dengan ditempatinya kampus baru, maka kehidupan kampus semakin bergairah. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan juga terlihat digenjot. Hal ini terlihat dengan rencana kerjasama pendidikan dengan ITB.

Hal yang menarik buat saya adalah sikap pak Prabowo saat penandatanganan MoU, saat itu beliau sudah duduk di Aula menunggu jajaran pimpinan dari ITB.

Saat beliau mendengar yg akan hadir Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, pak Prabowo berdiri dan berjalan ke pintu Aula, beliau ingin menyambut sendiri kedatangan Rektor ITB. Sikap Ajen ngajeni pada orang yg lebih tua, begitu melekat pada sosok pak Prabowo.

Pertemuan Tidak Disengaja
Gonjang-nganjing 98 membuat pertemuan dengan ketua Yayasan sulit dilakukan. Sampai akhirnya beliau ditugaskan menjadi Danseskogab di Bandung.

Kala itu, adik saya PKL di BP Ciumbuleuit, kalo pulang malam tugas saya menjemputnya. Sampe suatu malam.

"Mas, didalem ada pak Prabowo lagi berenang.." kata adikku.
"Dengan siapa..?" Tanyaku
"Ngak tahu... orangnya botak yang nemenin.." Pasti bah Iwan Abdurahman, pikir ku.
Adik ku balik kedalam beresin tugasnya, sementara aku duduk nunggu dilobi. Tak berapa lama dari pintu muncul sosok yang sudah ku duga, bah Iwan.
"Keur naon didieu.." sapanya
(Lagi apa disini)
Saat melihatku
"Jemput pun adi, bah..."
(Jemput adik saya, bah)
"Aya pak Prabowo didalem..., jug tepungan." Katanya
(Ada pak Prabowo didalam, sana temuin..)
“Alim ah isin..." jawabku
(Ngak mau ah malu)
Dalam percakapan selanjutnya, bah Iwan menanyakan kondisi kampus, karena kebetulan beliau juga pengurus Yayasan sbg Ketua 1.
Tak berapa terdengar tawa ceria dari dalam, sosok pak Prabowo muncul dari pintu, didampingi Ajudan beliau, saat melihat bah Iwan sdg ngobrol dgn saya, beliau menghampiri.
"Lagi apa disini..?" Tanyanya
"Jemput adik pak.." jawabku
" Adik apa pacar..?" Tanyanya lagi
"Adik pak..." jawabku
Percakapan berlanjut sambil berjalan kearah mobil Defender putih long casis.
"Dimana kamu sekarang..?" Tanyanya padaku.
"Siap... masih di ITA pak" jawabku
"Kamu belum lulus...? Lama sekali.."
"Sekarang saya jadi dosen di ITA pak.." jawabku, bangga...
Mendengar jawabanku, tiba-tiba beliau menghentikan langkahnya dan menatapku yg berjalan disamping kanan beliau...
"Emang kamu bisa jadi Dosen..." dengan tatapan yg sukar ditebak, aku terdiam dan hanya berkata "Siap..."
Kembali beliau melangkah... "Jadi dosen apa di ITA..?"
"Dosen Informatika.., pak" Jawabku
Langkah terhenti disisi Defender...
Dikutif dari FB : Boyke Ambo Setiawan
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.