Kesaksian Purnawirawan Kopassus Terjun Payung Bersama Prabowo



Tenga Prabowo Subianto, kanan:Alm.Imam, kiri: Boyke Ambo Setiawan, belakang kanan: Kusnadu Sukarya  dan belakang kiri:Alm.Imam Rusmono dan Photografer: Nandang Hermansyah  
Kisah ini diurai oleh Purnawirawan Kopasus Boyke Ambo Setiawan dikolom status FB-nya, Boyke menjadi bagian dari kehidupan dan karir Prabowo saat masih aktiv di TNI.

Sarung Tangan Kanan nya Hilang Ditelan Langit Biru?

Begini kisahnya

Pada tahun 1981, saat saya bergabung di Kopassus TNI-AD, dan menginjakan kaki pertama di Markas Komando Pasukan Khusus, tidak tampak suasana keangkeran layaknya Markas Pasukan Khusus TNI-AD.

Saya, bersama 2(dua) sejawat dokter, diterima oleh Komandan Detasemen Markas Passus(saat itu masih Kopasandha: Komando Pasukan Sandi Yudha).

Dokter Dally, menyampaikan kepada Dandenma, bahwa saya “Penerjun” dan oleh Wa Dan Denma Mayor Nurdin, saya diantar ke Team Mobile Training(MTT), dari US Airborne Special Forces, yang sedang melatih para Prajurit Kopassus dalam kemmpuan Terjun HALO(=High Altitude Low Opening), atau terjun dari ketinggian diatas 30.000 kaki(+/- 10 km), Diatas Permukaan Laut) dan mencabut payung diketinggian sekitar 600 m DPL.

Saya, di tes Ground Training diatas tanah dalam berbagai posisi Terjun dan dilakukan tes terjun bersama Sersan Kepala Bill(lupa nama lengkapnya?)

Saya, saat itu baru terjun sekitar 48 kali dan saat di tes oleh Pelatih dari Amerika: Saya ditangkap diudara 3X atau dikenal degan sebutan: Kerja Sama Diudara(Relative Works).

Saya, langsung diangkat menjadi Asisten Pelatih dan bertugas mengawal dua siswa penerjun. Kami terjun setiap hari 2-3 kali, dan setelah 3 minggu latihan: Saya diperintah untuk mengawal ketika itu Kapten Inf. Prabowo dan jumlah terjun saya sudah mencapai 80 an kali Terjun Bebas.

Sebelum terjun, tugas kami adalah memeriksa kesiapan dan kenyamanan payung, ransel tempur dan senjata laras panjang yg dibawa terjun tempur.
Saya dan Bapak Prabowo, mendarat selalu berdekatan karena kami saling check dan re-check parasut kami masing2.

Bapak Prabowo, yang saya kenal saat latihan terjun, penuh canda ria, ramah dan selalu tersenyum baik didarat maupun di pesawat.

Suatu hari terjun diakhir pekan, kami tidak membawa peralatan termpur:Ransel, Senjata dsb.Saya memberanikan diri, menyampaikan usul kepada Pak Prabowo:”Ijin Pak, Boleh saya menangkap Bapak di udara?”

Pak Prabowo menjawab:”Boleh Dok...boleh...silahkan. Saya harus gimana?”
Boyke:”Pak, saya exit dari pesawat C-130(Hercules), menempel dipunggung Bapak dan nanti saya kedepan Bapak utk menangkap tangan Bapak dan kita Break Off(Berpisah 3500 kaki).

Kita latihan kering/Ground Training dulu, disaksikan Pelatih Amerika: Sergant Bill Matheus. Sersan Bill, ngangguk-ngangguk tanda bahwa: Loud n Clear, menangkap Kap.Prabowo diudara bisa dilaksanakan.

Kala itu, jumlah terjun saya sudah 99 kali, dan seperti biasa, saya duduk berdampingan degan Bpk.Prabowo sampai ketinggian pesawat C-130 Hercules diatas 13.000 kaki atau sekitar 4,3 km diatas permukaan laut.

Saat Door Open, atau pintu pesawat dibuka, kami semua para penerjun berdiri dan saling periksa peralatan terjun.

Ketika 6(enam) detik sebelum perintah Exit/Loncat Keluar: Saya dan Bpk Prabowo, sudah ada dibibir Pintu Hercules, degan kecepatan terbang sekitar 200 km/jam.

Ketika perintah Exit dikeluarkan: Ready Set Go.....
Saya dan Kap.Inf.Prabowo, loncat keluar hampir bersamaan dan saya pegang sedikit celana loreng Kopassusnya.

Saya liat Pak Prabowo, ada sekitar 20(dua puluh) meter dibawah saya, dan saya lakukan ‘Dive’(menukik), agar lebih dekat kepada Pak Prabowo. Saya berhasil mendekat Bapak Prabowo dari belakang, dan ketika akan akan masuk dari depan, agak kesulitan, akhirnya saya pegang kaki pak Prabowo, dan merayap kedepan sampai dapat menangkap tangan Bapak PS dari depan.

Saya meluapan kegembiraan sambil mengguncang tangan Bapak PS dan kami tertawa dan teriak bersama. Tentu gembira karena terjun ke 100 inilah pertama kali saya bisa menangkap penerjun lain dan penerjun nya bernama Prabowo Subianto.

Ketika sudah saat nya berpisah, saya Altimeter Pak PS sudah menunjukan ketinggian 400O kaki dpl, saya guncangkan tangan dan anggukan kepala, tanda untuk berpisah dan siap membuka parachute.

Ketika kami mendarat hampir bersamaan degan jarak sekitar 20 m, tiba-tiba Pak Prabowo teriak:”Dok, sarung tangan kanan saya ilang?!”
Saya bingung sekejap? Kok Sarung Tangan bisa hilang?

Astagfirullah, Sarung Tangan Pak PS ada ditangan Kiri saya? Dan saya langsung berkata:”Siap pak, saya ada cadangan Sarung Tangan, dikasih Mayor PNB.Cheppy Hakim(KSAU)”

Saya berikan Sarung Tangan, jenis yang sama yang biasa dipakai Penerbang Amerika kepad Pak PS.

Itu lah sepenggal cerita, “Terjun Bareng Prabowo”, dan sampai hari ini Bpk. Prabowo tidak pernah tahu, kalau Sarung Tangan nya ada ditangan kiri saya dan waktu berpisah(Break Off), sarung tangan kanan nya tercabut/terlepas terbawa saya?

Saya, saat itu tidak lapor ada ditangan saya, khawatir tidak mau ditangkap diudara lagi oleh saya?

Mohon maaf Jenderal, saya baru cerita hari ini.
Tulisan ini diambil dari FB Boyke Ambo Setiawan


Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.