Framing Kohesivitas untuk membangun Generasi Sumber Daya Olahraga (Refleksi HAORNAS 2018)

DR.Fahrizal, S.Pd. M.Pd
Salam Olahraga....!!! Jaya...!!! Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mempersiapkan dan menjaga kualitas generasinya, bukan generasi emas (gold generation) karena emas bernilai hanya karena kilauannya namun tak tahan ditempa, melainkan Iron Generation (generasi Kuat) sekuat baja yang dapat ditempa menjadi senjata apa saja untuk menjadi cadangan kekuatan bangsa di masa depan.
  
Pesta olahraga terbesar ke-dua Dunia (Asian Games) telah usai terhelat dan sukses menorehkan prestasi yang luar biasa bagi bangsa ini sebagai tuan rumah penyelenggara. Tentunya rasa takjub dan syukur atas raihan ini harus menjadi Inspirasi dan motivasi bagi kita sebagai bangsa yang besar untuk tetap berbenah dalam meningkatkan kualitas dan manajemen pembinaan prestasi olahraga Nasional.Mengukuhkan diri di peringkat  ke-4 dengan total perolehan  medali 31 emas, 24 perak, dan 43 perungguTentunya memberi ekspektasi yang sangat besar untuk masa depan olahraga di Indonesia, peran dan partisipasi seluruh pihak yang terkait adalah tonggak dari euforia kesuksesan tersebut. 

Pemerintah, swasta, masyarakat, dan praktisi serta tehnokrat menjadi kolaborator hebat dalam membangun integritas kerja yang solid. Namun tentunya kita tidak perlu larut dalam rasa bangga yang berlebihan terhadap capaian tersebut. Masih banyak tugas dan tantangan selanjutnya yang akan kita lalui.Diperlukan karya untuk membangun sumber daya olahraga yang berdaya saing, tentunya dengan pendekatan pendidikan, sains tehnologi serta riset pengembangan dinantikan untuk mengikuti ritme perkembangan negara negara pesaing. sebuah gerakan yang terstruktur untuk mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi olahraga nasional diperlukan untuk mempersiapkan Generasi Sumber daya Olahraga yang handal. 

Momentum Hari Olahraga Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 September harus menjadi pemantik untuk menciptakan konsep framing kohesivitas. Istilah framing kohesivitas sengaja di buat untuk membuat sebuah bingkai dalam kemajemukan karakter dalam sebuah kelompok untuk dijadikan sebagai satu kekuatan menjaga ketersediaan cadangan generasi (stock generation) yang akan menjelma menjadi generasi yang kuat (Iron generation) dalam bidang olahraga.Konsep kohesivitas kelompok pertama kali diungkapkan pada penelitian psikologi pada tahun 1940. 

Lewin pada tahun 1943, menggunakan istilah cohesive untuk menggambarkan sebuah kekuatan yang menjaga kelompok agar tetap utuh dengan cara menjaga kesatuan anggota-anggotanya. Konsep kohesivitas berkembang menjadi sebuah konsep yang multidimensional pada tahun 1980 dan 1990.  Seiring berkembangnya dinamika kelompok pada tahun 2006 seorang peneliti yang bernama Forsyth mengungkapkan bahwa kohesivitas terdiri dari cohesion is attraction, cohesion is unity, cohesion as teamwork. 

Kohesivitas merupakan suatu hal yang penting bagi kelompok karena kohesivitas dapat menjadi sebuah alat pemersatu anggota kelompok agar dapat terbentuknya sebuah kelompok yang efektif.(Lewin, 1943), menggunakan istilah cohesive untuk menggambarkan sebuah kekuatan yang menjaga kelompok agar tetap utuh dengan cara menjaga kesatuan anggota-aggotanya.Forsyth (1999), Kohesivitas adalah Kesatuan yang terjalin dalam kelompok, menikmati interaksi satu sama lain, dan memiliki waktu tertentu untuk bersama dan didalamnya terdapat semangat yang tinggi. 

Dalam konsep tersebut kohesi dipandang sebagai sejumlah tenaga yang menyebabkan anggotanya betah tetap tinggal dalam kelompoknya. Gross dan Martin (1951) mengemukakan kohesi merupakan kebalikan dari definsi sebelumnya: “cohesiveness dipandang sebagai sesuatu penolakan terhadap kekuatan yang akan mengganggu/mengacaukan kelompok atau tim.Lebih lanjut Carron (1982) mengatakan: “cohesiveness is the dynamic process which is reflected in the tendency for a group to stick together and remain united in the pursuit of its goals and objectives”. 

Kohesi merupakan proses dinamis yang direfleksikan dalam kecenderungan kelompok untuk tetap bersama dan menyatu dalam mencapai tujuan. Dalam definisi tersebut, ada dua aspek yang perlu digarisbawahi: Pertama, dinamis merupakan sebuah pengakuan terhadap cara anggota kelompok secara individu yang merasakan orang lain dan kelompok beserta tujuannya yang berubah-ubah sepanjang waktu. Umumnya semakin lama tinggal bersama dalam kelompok, semakin kuat pertalian yang terjalin. 

Tetapi cohesiveness tidak  statis, ia berkembang dan menurun sedikit-sedikit, kemudian memperbaharui diri kembali dan meningkat lagi, dan menurun kembali sedikit-demi sedikit. Pola ini berulang-ulang sepanjang arah keberadaan kelompok. Kedua, tujuan kelompok, tujuan ini sangat kompleks dan beragam, sehingga kohesi mempunyai banyak dimensi.Kohesivitas merupakan kekuatan interaksi dari anggota suatu kelompok. Kohesivitas ditunjukkan dalam bentuk keramahtamahan antar anggota kelompok, mereka biasanya senang untuk bersama-sama. Masing-masing anggota merasa bebas untuk mengemukakan pendapat dan sarannya. 

Anggota kelompok biasanya juga antusias terhadap apa yang ia kerjakan dan mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompoknya. Merasa rela menerima tanggung jawab atas aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kewajibannya. Semua itu menunjukan adanya kesatuan, kereratan, dan saling menarik dari anggota kelompok.

faktor yang mempengaruhi timbulnya Kohesivitas :

Interpersonal Attraction (daya tarik interpersonal) Kelompok sering terbentuk ketika individu mengembangkan perasaan ketertarikan terhadap individu yang lain. Tetapi hanya seperti faktor seperti kedekatan terhadap interaksi, kesamaan, saling melengkapi, timbal balik, dan penukaran yang menguntungkan dapat mendorong untuk terbentuknya kelompok, demikian juga mereka bisa berpaling dari kelompok dasar menjadi salah satu kelompok yang sangat kohesif.  

Dalam konsep tallent scouting hal ini membuka ruang minat pada seseorang untuk melibatkan diri pada salah satu club, perkumpulan, atau kelompok minat dan hoby. Stability of Membership (stabilitas terhadap keanggotaan) Perbedaan antara kelompok terbuka dan kelompok tertutup. Perbedaan kelompok berdasarkan sejauh mana batas-batas mereka dapat masuk dalam daftar keanggotaan yang bersifat terbuka dan berfluktuasi dibandingkan tertutup dan tetap. Kelompok terbuka khususnya untuk mencapai keadaan keseimbangan, karena anggota menyadari bahwa mereka mungkin kehilangan atau melepaskan tempat mereka dalam kelompok setiap saat. 

Pada kelompok tertutup, individu cenderung berfokus pada sifat kolektif kelompok dan lebih mungkin untuk mengidentifikasi dengan kelompok mereka saat mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok terbuka adalah kelompok yang kohesifnya rendah. Peran dan tanggungjawab mesti diberikan kepada setiap pelaku olahraga dengan membuka kesempatan yang sama bagi mereka, pengurus cabang olahraga mesti memberi kesempatan yang sama terhadap anggotanya untuk berperan, pelatih terhadap atletnya, begitupun induk organisasi terhadap anggotanya. 

Hal ini tentunya akan mendorong motif berprestasi. Group Size (ukuran kelompok) Kelompok yang berukuran kecil akan lebih kohesif daripada kelompok yang berukuran besar karena akan lebih mudah untuk beberapa orang untuk mendapatkan satu tujuan dan lebih mudah untuk melakukan aktifitas kerja. Sejatinya ukuran kelompok diperlukan untuk mengkoordinasi kinerja dan tugas sehingga lebih efektif, kondusif dan terkontrol. Serta memudahkan dalam melakukan evaluasi.

Structural Features (bentuk struktur) Kohesif itu mempunyai hubungan kepada struktur kelompok dalam dua titik dasar. Pertama, kelompok kohesif cenderung untuk relatif lebih terstruktur. Kedua, bentuk dari struktur kelompok adalah terkait dengan tingkat lebih tinggi dari kohesif daripada struktur kelompok yang lain. 

Semakin tinggi proporsi hubungan dengan anggota non group relatif membuat hubungan dengan anggota kelompok semakin rendah kekompakkan keseluruhan kelompok.  Dalam organisasi olahraga, disiplin struktur dan penempatan orang yang tepat dapat mempengaruhi kohesivitas.  

Initiations (inisiasi/ permulaan) Kelompok dengan kebijakan keanggotaan yang ketat, termasuk penerimaan, menghindari masalah ini dengan menyaring anggota dan melakukan pemantauan erat dan mengabaikan orang-orang yang tidak menunjukkan diri mereka. Aspek ini adalah bentuk awal untuk menciptakan integritas profesional dalam suatu kelompok. Apapun alasannya setiap anggota kelompok harus melibatkan diri dan taat terhadap aturan yang berlaku.

Faktor Keseragaman Kelompok Makin seragam suatu kelompok dalam latar belakang dan karakterstik para anggotanya banyak memiliki kesamaan, maka makin tinggi kohesivitasnya.Kematangan Kelompok, Kelompok cenderung lebih kohesif sejalan dengan waktu yang dilalui. 

Interaksi secara kontinu sepanjang periode waktu membantu anggota membangun kedekatan dalam hal pengalaman bersama. Ukuran Kelompok yang kecil mempermudah membangun kohesivitasnya, hal ini dimungkinkan karena semakin sedikit rupa – rupa pola interaksi antar anggotanya. 

Frekuensi Interaksi Kelompok yang memiliki kesempatan yang besar untuk berinteraksi cenderung menjadi lebih kohesif dibanding kelompok yang jarang sekali mengadakan pertemuan rutin.Kejelasan Tujuan Kelompok Kelompok yang enggan dengan jelas mengetahui apa yang berusaha mereka selesaikan akan menjadi lebih kohesif karena mereka merundingkan misi bersama – sama dan tidak ada konflik dalam misi mereka. 

Persaingan dan Ancaman dari luar Ketika kelompok merasakan adanya ancaman dari luar, mereka cenderung untuk bersatu lebih dekat.Kesuksesan kelompok dalam tugas sebelumnya seringkali meningkatkan kohesivitas dan perasaan “kami melakukan bersama-sama”. Membentuk jiwa corsa dan Nasionalis dalam diri menjadi senjata utama dalam penjabaran tanggungjawab. Asupan energi positif dapat memeperpanjang usia kebersamaan yang terbangun dalam sebuah tujuan tim. 

Namun, Konsekuensi yang terbesar dalam pemeliharaan keanggotaan adalah Jika hal yang menarik dalam kelompoknya lebih besar daripada hal yang menarik di kelompok lain, maka dapat diharapkan anggota kelompok tersebut akan tetap pada kelompokya, sehingga turnover dapat diperkecil. Pada beberapa studi memperlihatkan bahwa jika kohesivitas meningkat, maka semakin banyak frekuensi komunikasi diantara anggota. 

Semakin tinggi derajat partisipasi dalam aktivitas kelompok dan semakin berkurang (absenteeism). lebih dari itu, anggota kelompok yang kohesif cenderung untuk lebih koperatif dan mudah bergaul dan mudah bergaul secara umum berperilaku dalam mengembangkan hubungan antar anggotanya, secara umum akan menghasilkan level kepuasan kerja yang tinggi. 

Suatu organisasi olahraga misalnya dapat memiliki tingkat pelaksanaan kerja yang tinggi atau sebaliknya, tergantung pada apakah hubungan dengan organisasi induk dalam hal ini KONI dan Pengurus cabang Olahraga merupakan hubungan kerjasama dan saling percaya, atau saling mencurigai. Ancaman dari luar, kebanyakan penelitian mengatakan bahwa kelekatan kelompok akan bertambah jika kelompok mendapat ancaman dari luar.Keberhasilan dimasa lalu, setiap orang menyenangi pemenang. Jika satu kelompok kerja, memiliki sejarah yang gemilang, maka terbentuklah esprit de crops yang menarik anggota-anggota baru, kelekatan kelompok akan tetap tinggi.

Festinger mengungkapkan bahwa Increased cohesiveness leads to greater frequency of interaction among group member. The greater chanes that member can produce in the behavior of individual. Yang berarti bertambah kuatnya kohesivitas akan mendorong meningkatkan frekuensi interaksi antar karyawan.. Makin bertambah kohesivitas itu, makin besar pula perubahan perilaku inividu yang dapat ditimbulkan para anggota kelompok atau karyawan. 

Oleh sebab itu, sangat mudah dimengerti bila anggota kelompok yang merasa lebih dekat hubungannya dengan kelompok akan lebih energik dalam melakukan aktivitas kelompok, akan cenderung hadir dalam pertemuan kelompok dan akan merasa senang jika kelompok berhasil serta merasa sedih jika kelompok gagal. Sebaliknya, anggota yang keeratan hubungannya dengan kelompok tidak seberapa, akan tidak begitu tertarik kepada kegitan kelompok dan tidak begitu peduli terhadap hasil kelompoknya. 

Apa yang melemahkan Kohesivitas?

Konflik Faktor konflik disini lebih diarahkan kepemahaman ide atau gagasan seringkali kontras antara dua atau lebih gagasan dari beberapa individu di dalam kelompok tidak saja dapat menjadi kekuatan tetapi nflik.juga dapat menjadi kelemahan. Dalam hal yang demikian, pemimpin yang efektif pastidengan segera menghentikannya melalui cara yang dianggapnya sesuai dengan situasi konflik.Kepentingan Beberapa individu di dalam kelompok seringkali memandang suatu masalah kelompok dari perspektif kepentingannya..

dalam hal kepentingan individu tersebut memiliki kekuatan untuk memperbaiki atau melengkapi kepentingan kelompok. Namun ketika dirasakan bahwa kepentingan individu tersebut bertentangan dengan kelompok individu bersangkutan tidak mau dan mampu memadukannya dengan kepentingan kelompok, maka kecenderungan yang akan terjadi adalah melonggarnya perasaan kolektif di dalam kelompok.Resiko orang cenderung untuk berpikir bahwa kelompok akan lebih konservatif dan waspada daripada individu. 

Padahal banyak bukti yang menunjukkan bahwa dalam beberapa situasi, kelompok akan mengambil keputusan justru lebih riskan dibanding individu. Waktu Faktor waktu (duration) merupakan keuntungan bagi keputusan kelompok karena drajat kualitas keputusan itu dipengaruhi durasi yang dipakai dalam proses pengambilan keputusan Pikiran yang sering berubah. 

Sangat jarang terjadi, jika terdapat masalah di dalam kelompok, masing – masing anggota kelompok memiliki frame of meaning atau landasan pikiran yang sama dalam memandang masalah tersebut akhirnya dalam memulai pemecahan masalah terjadi pemakain cara yang berbeda. Bagi pemimpin haruslah disadari bahwa manusia itu memiliki kecenderungan mudah berubah pikiran sehingga pijakan kesadaran ini akan menyediakan pilihan tindakan yang jika salah memilihnya dapat melemahkan kekohesifan kelompok.

Carron, Brawley, dan Widmeyer, (2009) mengatakan kohesivitas tugas mencerminkan sejauh mana anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan tujuan, sedangkan kohesivitas sosial mencerminkan atraksi interpersonal diantara anggota kelompok. 

Selain itu kohesivitas sosial disisi lain, mencerminkan sejauh mana anggota kelompok saling menyukai dan menikmati hubungan sosial di dalam kelompok. Menurut Gross dan Martin (1952) kohesivitas memiliki unsur yaitu (1) task cohesiveness, sebagai komitmen kelompok bersama atau ketertarikan atas tugas atau tujuan kelompok. (2) interpersonal cohesiveness, sebagai daya tarik anggota kelompok yang saling tertarik satu sama lain dalam kelompok.

Jika penerapan konsep framing kohesivitas ini dapat tercermin dalam perilaku kerja di sebuah kelompok organisasi, baik itu organisasi olahraga, club amatir, club profesional sampai pada kelompok praktisi dan tehnokrat, yakin bahwa keberagaman kultur bangsa kita akan menjadi senjata yang kuat untuk mengukir prestasi dan mempersiapkan generasi sumber daya olahraga bangsa yang handal dan berdaya saing. Salam Olahraga. 

Penulis : Dr. Fahrizal, S.Pd.,M.Pd.
Dosen Jurusan Pendidikan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Makassar/ Pengamat dan Praktisi kajian Pendidikan Olahraga dan kesehatan
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.