Mengatasi Problem Banjir dengan Perencanaan Pembangunan yang Mantap


Ilyas Alimuddin, Dosen STISIPM Sinjai
Masalah selalu bertalian dengan solusi, Tak jarang solusi cerdas dan brilliant justru lahir dari masalah pelik yang dihadapi. Hal ini hanya bisa muncul bila masalah dipandang sebagai sesuatu yang satu paket dengan solusi. Bahwa setiap masalah pasti ada solusi. Bukan sebaliknya menganggap masalah sebagai karma atau takdir Tuhan semata sehingga mesti diterima begitu saja dengan lapang dada. Berharap selesai dengan untaian doa semata.

Seperti halnya problem banjir yang dihadapi masyarakat Sinjai dan kabupaten sekitarnya saat ini. Ada kekeliruan sebagian besar masyarakat termasuk adapula dari pihak pemerintah dalam menyikapi persoalan banjir, dari segi penyebab dan solusinya. Dari segi penyebab banjir misalnya menempatkan penyebab utama terjadinya banjir adalah curah hujan yang tinggi atau dengan kata lain karena fenomena atau anomali alam. Pendapat semacam ini beririsan dengan pendapat bahwa banjir disebabkan oleh alam yang tidak bersahabat dengan manusia.

Oleh karena cara pandangnya seperti ini maka solusi yang dilakukan pun adalah sebuah kemusykilan. Meratapi masalah sembari merapal doa dan berharap pada kebaikan alam. Berharap musim hujan segera berakhir sehingga banjir pasti tak lagi menyambangi. Kekeliruan berpikir seperti ini harus dihilangkan, karena sangat kontraproduktif dalam upaya menanggulangi persoalan banjir. Memang benar curah hujan sangat tinggi terjadi saat ini, namun ini tidaklah berarti bahwa banjir mesti selalu terjadi. 

Anomali cuaca memang ada tapi bukan alasan untuk tidak melakukan upaya-upaya preventif. Bukankah manusia diberi potensi akal pikiran untuk digunakan dalam rangka mengembangkan kehidupannya dan mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Bencana banjir adalah sesuatu yang bisa diprediksi, walau tak bisa dipastikan. Karenanya bisa diantisipasi atau setidaknya diminimalisir dampaknya. Kalau setiap tahun kita dilanda banjir dan kita gagap menghadapinya berarti kita telah gagal mempelajari problem hidup kita. Gagal dalam mempelajari tanda-tanda alam. Sebagai manusia beragama kita diperinthakan untuk senantiasa belajar dan membuat kehidupan kita saat ini lebih baik dibanding kemarin dan akan lebih baik di masa mendatang. 

Jika sebaliknya yang terjadi maka kita tergolong orang yang merugi. Sabda Rasulullah Saw. empat belas abad yang lalu, “Barang siapa memiliki masa sekarang yang lebih bagus dari masa lalunya, ia tergolong orang yang beruntung. Bila masa sekarangnya sama dengan masa lalunya, ia termasuk orang yang merugi. Bila masa sekarang lebih buruk dari masa lalunya, ia tergolong orang yang bangkrut”.

Merujuk kriteria Nabi Saw. diatas semoga kita tidak termasuk orang yang bangkrut meski saat ini kita belum menjadi orang yang beruntung. Menyalahkan alam bukanlah sikap yang tepat. Apalagi sampai menyalahkan Tuhan sebagai penyebab banjir adalah kekeliruan besar dan bisa mendapat dosa.

Banjir bukan dominan disebabkan oleh kesalahan alam adalah sesuatu yang pasti. Alasannya sederhana banjir saat ini terjadi di saat musim hujan. Andai banjirnya di musim kemarau maka cerita menjadi lain, bisa jadi ada faktor kesalahan alam di dalamnya. Sama halnya kalau salju berderai di sahara atau kemarau menyapa kutub utara, maka saat itulah kita bisa menyimpulkan bahwa memang ada anomali alam yang di luar jangkauan manusia.

Kalau dikatakan bahwa banjir disebabkan oleh kondisi geografis misalnya, maka Belanda adalah negara yang bukan hanya selalu dilanda banjir tapi mestinya sudah hilang dari peta karena wilayahnya memang lebih rendah, yakni rata-rata sekitar tujuh meter di bawah laut.

Namun kenyataannya negeri Belanda masih ada, dan sudah ratusan tahun tak pernah dilanda banjir. Bila alasannya karena jumlah penduduk yang banyak sehingga pemukiman padat, maka mestinya kota Tokyo di Jepang tinggal kenangan. Jumlah penduduk di Tokyo sekitar 40 juta jiwa. Jumlah ini lebih banyak dari jumlah seluruh  penduduk di Pulau Sulawesi, atau 160 kali jumlah penduduk Kabupaten Sinjai. 

Namun kepadatan penduduk Tokyo tersebut tidaklah kemudian menjadikan kota mereka menjadi langganan banjir. Tak ada masalah lingkungan kecuali mereka bisa diatasi. Dari dua contoh kasus di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa persoalan yang dihadapi di kabupaten Sinjai tidaklah terlalu rumit dan kompleks. Sehingga insya Allah bisa diatasi. 

Masalah kita tidak ada apa-apanya dibanding di Belanda dan Jepang. Karena jika kedua negara tersebut bisa mengatasi problem banjir maka kita pun pasti bisa. Tinggal bagaimana kemauan seluruh stakeholder yang ada di Kabupaten Sinjai.

Kuncinya adalah usaha tak pernah henti untuk merencanakan pembangunan daerah dengan baik. Membuat perencanaan tata ruang yang baik dan mengawasi pelaksanaannya dengan baik pula. Tindakan tegas mesti dilakukan bagi pelanggar. Selain itu pemanfaatan teknologi dengan maksimal untuk menata daerah dengan baik. Selain itu dapat kita lihat bahwa ada titik-titik yang menjadi konsentrasi banjir. Adapula titik yang tidak terkena dampak banjir, padahal cukup berdekatan. 

Misalnya di sekitaran Jalan Baso Kalaka terendam banjir sementara di dekat kampus STISIPM Sinjai aman dari banjir yang justru dekatnya lebih dekat dengan sungai. Daerah sekitar SMPN 3 Sinjai Terendam, sementara daerah dekatnya seperti pasar sentral tidak berdampak banjir.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa daerah yang nyatanya cukup berdekatan tapi ada yang kena banjir dan adapula yang tidak? Menyeksamai fakta ini memberikan gambaran kepada kita bahwa titik yang aman tersebut ternyata memiliki drainase yang cukup baik. Sementara daerah yang kena dampak ternyata tidak memiliki drainase yang memadai. 

Melihat fakta ini juga membuat perencanaan pembangunan untuk menanggulangi banjir menjadi lebih mudah. Alasannya tandai saja daerah yang berdampak saat ini sehingga bisa secepatnya diperbaiki drainasenya. Jika drainase ini bisa diperbaiki secara pribadi saya yakin 90 persen persoalan banjir bisa diatasi. 

Karena upaya memperbaiki drainase ini butuh cukup waktu sehingga tidak bisa langsung dilaksanakan dengan cepat, maka untuk saat ini pemerintah daerah dapat mengupayakan membeli pompa air, untuk memompa genangan air. Ini upaya jangka pendek dan sebenarnya mendesak untuk dilakukan.

Selama ini sikap saling menyalahkan dan lempar tanggungjawab masih kerap terjadi. Misalnya ada yang mengatakan bahwa ini kesalahan Pemerintah daerah yang tidak mampu merencanakan dan melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. 

Yang lain mengatakan ini murni salah BAPPEDA dan Dinas Tata Ruang yang tidak punya roadmap atau blueprint yang jelas mengenai perencanaan pembangunan kota, wilayah dan tata ruang. Pihak lain mengatakan ini kesalahan DPRD yang tidak melaksanakan fungsi pengawasan pemerintahan dengan optimal. 

Ada yang mengatakan ini kesalahan aparat penegak hukum seperti polisi, jaksa dan hakim yang tidak bisa menangkap dan mengadili setiap pelaku perusak lingkungan. Sebagian lagi menujuk akademisi atau kampus yang tidak dilibatkan dan melibatkan diri dalam memberi gagasan konstrukstif dalam pembangunan daerah. Ada juga menyalahkan WALHI atau LSM yang kurang kontribusinya. Dan tak jarang masyarakat pun mesti salah ketika sembarang membuang sampah sehingga drainase menjadi tersumbat. 

Kebiasaan saling menyalahkan ini harus disudahi. Tak ada manfaatnya. Hanya membuang sia-sia energi produktif namun tidak akan pernah memberikan solusi. Kalau mau mencari kesalahan dan siapa yang salah adalah perkara gampang namun yakin dan percaya itu pasti tidak akan menyelesaikan masalah. Mengutuki kegelapan tak akan pernah merubahnya menjadi terang. Menyalahkan sebatang lilin kecil pasti jauh lebih baik.

Lebih baik energi positif yang cukup besar yang kita miliki digunakan untuk mencari jalan keluar sesuai dengan potensi dan keunggulan masing-masing sehingga persoalan banjir bisa diatasi. Karenanya secara pribadi berharap agar pemerintah daerah sebagai pelaku utama pembangunan daerah bisa merangkul seluruh komponen yang terkait untuk duduk bersama membincangkan solusi bersama. 

Tudang sipulung yang didalamnya seluruh komponen dihadirkan. Mulai Pemda, DPRD, BAPPEDA, Dinas Tata Ruang, Aparat berwajib, Akademisi Kampus, WALHI dan LSM yang bergerak di bidang lingkungan sampai masyarakat umum dihadirkan untuk berdiskusi. Jika ini bisa dilakukan maka insya Allah jalan keluar dari persoalan banjir akan diketemukan dengan mudah.Satu kepala yang memikirkan masalah pastilah terlalu berat, sepuluh apalagi seribu kepala yang memikirkan tentulah menjadi lebih mudah. Wallahu a’lam.

Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.