Kisah : Timo Daeng Mamanjeng Putra Kaloling Hadiah 12 Budak Dari Arung Bone (Bagian IV)

Selanjutnya, Timo Daeng Mamanjeng menyusun taktik dan strategi yang sangat sedehana. Strategi manipulasinya hanya menebang kayu kecil dan menancapkan tongkaknya di tanah secara berpindah-pindah dan diikuti dengan tapak kaki serta semburan ludah dari makan sirih. Hal itu dilakukan disetiap sudut pada wilayah tersebut. Kemudian Rombongan Timo Daeng Mamanjeng mengamankan pasukannya dengan berlindung dibalik gunung. Selanjutnya mengintai kedua kubu pasukan besar yang selama ini selalu berperang.

Taktik dan tipu daya yang dilakukan pasukan Timo Daeng Mamanjeng itu dimaksudkan supaya lawan mengira rombongan yang datang adalah rombongan yang sangat  besar, sehingga dapat melemahkan atau menurunkan nyali lawan-lawannya. 

Sungguh ampuh benar, ide yang dipikirkan Oleh Timo Daeng Mamanjeng dalam menyusun rencana itu sangat  tepat sekali. Buktinya, pasukan yang menamankan dirinya pasukan pemberani, pada kedua kubu itu mundur jauh dari garis batas wilayah pertempuran itu.

Namun demikian, kontak pisik dari kedua kubu itu tetap tak terhindarkan, dan mencapai puncaknya menjelang subuh dini hari. Sementara pasukan dari kubu Timo Daeng Mamanjeng sepanjang pertempuran itu berlangsung, hanya mengintai dan mengawasi perseteruan itu dari balik gunung.

Nanti menjelang subuh dini hari, ketika pasukan dari kedua kubu tersebut sudah banyak berguguran serta suara senjata tinggal sesekali berbunyi, barulah pasukan Timo Daeng Mamanjeng maju berhadapan langsung dengan pasukan yang masih tersisa pada pertempuran itu. Dengan tak terduga, pimpinan pasukan yang berambut panjang hampir sampai  ke tanah itu, tepat dihadapan kesatria Timo Daeng Mamanjeng. Dalam pada itu, kecerdikan,kelihaian, dan kesempurnaan ilmu silat yang dimiliki oleh Timo Daeng Mamanjeng turut menentukan kemenangannya. Akhirnya, rambut panjang si pimpinan pasukan itu terpaksa pasrah menjadi pengganti tali pengikat leher pemiliknya di pohon kayu yang masih berdiri kokoh dihadapannya. Seketika itu, maka seluruh pasukannya menyerah tanpa syarat serta membuang semua persenjataannya, lalu mengangkat kedua tangannya sebagai tanda kekalahannya itu.

Selanjutnya pasukan Timo Daeng Mamanjeng mengambil pengikat dan bambu yang telah dilubangi ujungnnya lalu dikalungkan dileher pimpinan si rambut panjang yang selama ini dikenal sebagai pemberontak yang tiada tandingannya. Pada saat itu tiba hari sialnya dan tamatlah riwayat kesatriannya atas taklukan pasukan Timo Daeng Mamanjeng.

Pasukan Timo Daeng Mamanjeng mengikat satu persatu anggota taklukannya lalu mengantarnya untuk menghadap pada Arung Bone sebagai bukti kemenangan yang diperoleh pasukan Timo Daeng Mamanjeng.

Setibanya di kediaman Arung Bone, diikatlah dibawah kolom rumah tahanan tersebut, lalu Timo Daeng Mamanjeng langsung bergegas untuk melapor kepada Arung Bone bahwa tugas yang diembang telah selesai dan selanjutnya Timo Daeng Mamanjeng bersama rombongannya akan memohon pamit untuk kembali ke kampung halamannya di tanah Kaloling, Bulo-Bulo, tellulimpoe.

Namun, sebelum Timo Daeng Mamanjeng tiba dihadapan Arung Bone, dari balik jendela terlihat Timo Daeng Mamanjeng oleh Arung Bone. Dan berkatalah Arung Bone, telah datang  Arung Bulu-Bulo dengan membawa kemenangan.sambutlah kedatangnya dengan memberi penghormatan. Semua pengawal Arung memberi penghormatan kepadanya. Lalu memberi hormat pula Timo Daeng Mamanjeng kepada Arung Bone sekaligus melaporkan tugasnya. Berkatalah Arung Bone, bahwa saya tidak dapat membalas hasil perjuanganmu Arung Bulo-Bulo, tidak bisa pula saya membayarnya dengan harta ataukah uang. Hanya saya mampu memberikan hadiah sebagai bekal dalam perjalananmu berupa 12 orang tahanan yang bisa kamu belanjakan di perjalanan.

Arung Bulo-Bulo dalam hal ini Timo Daeng Mamanjeng menerima ke 12 orang budak tersebut, lalu memohon pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke tanah Kaloling kampung halamannya. Selama perjalanannya dari tanah Bone ke tanah Kaloling tujuh kali mengadakan persinggahan. Setiap rumah tempat persinggahan dibayar pelayanannya satu orang budak.

Perlu pula diketahui bahwa jarak tempuh dengan jalan kaki pada perjalanan dari wilayah kekuasaan Arung Bone ke wilayah Arung Bulo-Bulo sangatlah jauh dan melelahkan. Oleh karena itu, pada perjalan tersebut terhitung enam kali persinggahan berarti harus dibayar dengan enam orang budak.(Bersambung)

Oleh : Supriadi/A. Rauf TM Pasanre
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.