Bapak Pers Nasional, RM. Tirto Adhi Soerjo


Kali ini kita coba sekilas mengulas Bapak Pers Nasional yaitu Djokomono (RM. Tirto Adhi Soerjo). Berbicara tentang Pers tentu akan ada tokoh yang menjadi ikon atau pelopornya. Disini akan kita bahas mengenai bapak Pers Nasional yang sudah tertulis sebelumnya yaitu Djokomono (RM. Tirto Adi Soerjo).

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo disebut pelopor dalam bidang jurnalistik modern karena beliau melakukan pembaharuan dalam penyusunan isi surat kabar atau dalam istilah lain sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Beliau termasuk salah satu tokoh kebangkitan nasional Indonesia, namanya sering disingkat T.A.S..

Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS) lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 1880 dengan nama masa kecilnya Djokomono. Beliau adalah putra bangsawan Jawa. Sempat mengenyam pendidikan di sekolah HBS Belanda lalu melanjutkan studinya di STOVIA Batavia sebagai mahasiswa kedokteran. Namun Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS)  tidak menyelesaikan sekolah kedokterannya karena dia lebih sibuk menulis di media massa.

Kemudian beliau pindah ke Bandung dan menikah. Di Bandung TAS menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) yang beralamat di Jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK) dan dianggap sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh proses produksi dan penerbitannya ditangani oleh orang pribumi Indonesia asli, serta  menerbitkan surat kabar Putri Hindia (1908).

Surat kabar Medan Prijaji (1907) berpusat di kota Bandung memposisikan diri sebagai corong suara publik dengan moto "Orgaan Boeat bangsa jang terperentah di H.O. tempat akan memboeka swaranya anak-Hindia". Salah satu hal yang membuat TAS dikenal adalah karena keberaniannya memuat dalam tulisan-tulisannya tentang kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang memberatkan dan menyengsarakan rakyat pasti dia muat sehingga tak jarang surat kabar ini menjadi media "perkelahian" di beberapa daerah, seperti Banten, Bandung dan daerah lain yang oleh pihak tertentu merasa tersudutkan dari berita yang dimuatnya. Karena hal tersebut TAS sempat mengalami pengasingan. Seperti pada tulisannya yang dimuat pada Medan Prijaji No. 19-1909 mengakibatkannya harus dibuang ke Lampung selama 2 bulan. Lalu beliau membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon pada tahun 1909. Dengan tuduhan menghina pejabat Belanda, maka TAS terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang Pers tahun 1906) dan dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.

Berita-berita yang dimuat di harian Medan Prijaji seringkali dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu sehingga pada tahun 1912 Medan Prijaji terkena delik pers karena dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami Raden Adjeng Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun kembali mengalami pembuangan ke pulau Bacan di Halmahera, Ambon selama 6 bulan. Sekembalinya dari Ambon, pada 1914-1918, TAS mulai sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal pada 7 Desember 1918. Dia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973.

Dalam pergerakan nasional, TAS mendirikan Serikat Priyayi, sebuah organisasi pribumi pertama bercorak modern, memiliki wawasan bangsa ganda Hindia, dan menggunakan lingua pranca Melayu sebagai bahasa bangsa-bangsa yang terperentah. Dari Syarikat Priayi ini berhasil melahirkan Medan Priyayi pada 1907 yang membuat nama TAS semakin dikenal.Selain Sarekat Priyayi, TAS juga mendirikan Sarikat Dagang Islam di Jakarta bersama H.O.S. Tjokroaminoto dan di Surakarta bersama Haji Samanhudi, yang merupakan asal mula Serikat Islam yang kemudian berkembang ke seluruh Indonesia. Anggaran Dasar Sarikat Islam yang pertama mendapat persetujuan Tirto Adi Soerjo sebagai ketua Sarikat Islam di Bogor dan sebagai redaktur surat kabar Medan Prijaji di Bandung.

Ki Hajar Dewantara dalam buku kenang-kenangannya pada tahun 1952, mencatat tentang diri Tirtohadisoerjo sebagai berikut: "Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang yaitu almarhum R.M. Djokomono, kemudian bernama Tirtohadisoerjo, bekas murid STOVIA yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian bernama Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Pengadilan. Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan jurnalistik".

Lalu seorang Sudarjo Tjokrosisworo menulis dalam bukunya Sekilas Perjuangan Surat kabar (terbit November 1958), "Dialah wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan surat kabar sebagai pembentuk pendapat umum, dengan berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pihak kekuasaan dan menentang paham-paham kolot. Kecaman hebat yang pernah ia lontarkan terhadap tindakan-tindakan seorang kontrolir, menyebabkan Tirtohadisoerjo disingkirkan dari Jawa, dibuang ke Pulau Bacan".

Pada 1973 Dewan Pers RI mengukuhkannya RM. Tirto Adhi Soerjosebagai Bapak Pers Nasional karena jasa-jasanya sebagai Perintis Pers Indonesia. Lalu pada tanggal 3 Noveber 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana, melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

Sumber : Muspen.kominfo.go.id

Muliana Amri
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.