Opini : ISU PILKADA SEMAKIN HANGAT

Burhan Aktivis AMAN Sinjai

BUGISWARTA.com, OPINI -- Seperti sebelumnya saya pernah menulis dengan tema HANGATNYA ISU PILKADA vs MASYARAKAT PESISIR HUTAN. Sekarang masih tentang kondisi sosial yang erat kaitannya dengan itu. Beberapa hari yang lalu saya membaca di media online, sudah ada beberapa bakal calon Kepala Daerah yang terjun ke masyarakat dengan berbagai ucapan entah janji, Visi Misi atau konsep yang diperdengarkan.

Menelusuri jalan terjal bebatuan menyapa masyarakat, dari Kota ke Desa dan kampung terpencil sekalipun. Ada pula diantaranya menebar janji, meskipun setelah terpilih akan lupa dengan janjinya. Padahal masyarakat sangat berharap. Jadi sekarang kita tidak boleh lagi menyalahkan bila adamasyarakat kehilangan kepercayaan terhadap Pemerintah, karena sebelumnya memang sering dikhianati dengan janji-janji palsu oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Tak lupa saya menyinggung persoalan masyarakat adat, khususnya yang di pesisir hutan. Seperti tumpang-tindih antara kebun yang dikelolanya secara turun-temurun dengan kawasan hutan negara. Yang mengakibatkan banyak diantaranya harus merantau keluar daerah dan luar negeri mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Meskipun tidak banyak yang memikirkan apalagi memperjuangkan persoalan tersebut.

Banyak tokoh-tokoh elit politik yang sering tampil di Koran, TV, dan Media lainnya dengan gagah mengenakan pakaian adatnya masing-masing disertai pepatah-pepatah Bugis Makassar yangseakan meninabobokan. Mengaku tokoh adat atau keturunan pemangku adat. Tetapi kenyataannya, sejauh ini belum ada Peraturan Daerah (Perda) SK Bupati atau sejenisnya yang secara sah (Hukum) mengakui keberadaan masyarakat adat.

Sedikit saya juga akan berbagi cerita pengalaman di kampungku di Desa Turungan Baji, Sinjai Barat. Semenjak saya tumbuh besar dan bisa mengingat. Setiap menjelang Pemilu atau pesta demokrasi kata orang-orang cerdas, selalu ada bakal calon atau calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun calon Kepala Daerah memberikan harapan dengan berbagai janji manis. Biasanya paling banyak memberikan janji untuk membangun kampung dengan memperbaiki sarana prasarana jalan, tetapi sampai hari ini jalanan di Turungan Baji masih seperti dulu bahkan lebih parah. Padahal, seandainya semua janji mereka yang pernah berkunjung mau ditepati, pastinya jalanan di Turungan Baji aspalnya sudah sangat tebal.

Hal itulah yang membuat saya sedikit kehilangan kepercayaan terhadap calon-calon yang akan memimpin di masa yang akan datang. Tentu tidak semua calon sama, tapi ada diantaranya yang demikian. Yang suka menebar janji tersebutlah akan merusak citra Pemerintah di mata masyarakat awam.

Menurut saya selaku pemuda biasa, hal demikian dalam konteks politik memang sudah lazim. Menyapa masyarakat sekalipun hanya bila ingin mencalonkan itu sudah biasa. Tetapi alangkah bagusnya kalau mengedepankan praktek. Sebab politik yang baik adalah politik akal sehat yang mengedepankan kinerja dengan komitmen dan tidak mengelabui, kinerja tersebutlah yang kelak dinilai oleh masyarakat sebagai bukti keseriusannya memperjuangkankehidupan publik. Saya yakin bila ada yang demikian maka dengan sendirinya akan terpilih.

Meminjam kutipan salah seorang penyair jerman  Bertolt Brecht "Buta yang terburuk adalah buta politik."memang sangat penting untuk berpolitik, namun memanfaatkan politik untuk kepentingan pribadi saya kira keliru.Olehnya itu semoga kedepannya ada calon yang benar-benar mampu menjadi tonggak perubahan lewat implementasi, bukan janji, membangun demi kepentingan bersama, bukan membohogi demi kepentingan individunya.

Harapan saya kepada semua yang mau mencalonkan jadi Kepala Daerah di Kabupaten Sinjai, bila sudah terpilih agar tetap berkunjung ke pelosok-pelosok. Menyapa dan menepati janjinya, bekerja sesuai dengan harapan masyarakat pada umumnya.‎

(******)
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.