Hangatnya Isu Pilkada VS Masyarakat Pesisir Hutan


Oleh Burhan (Aktivis AMAN Sinjai)

BUGISWARTA.COM, Jurnal --Beberapa hari yang lalu saya duduk di teras salah satu rumah di Kecamatan Sinjai Barat, Kab. Sinjai. Menjajaki pemandangan lewat tatapan singkat sembari mencicipi kopi khas lokaldihibur kicauan burung di pepohonan sekitar. Disitulah terlintas di benak tentang hangatnya Isu Bakal Calon kepala Daerah di Sinjai akhir-akhir ini.

Jika melihat dari beberapa tokoh yang pernah menahkodai Sinjai, mulai dari yang pernah menjabat, serta yang menjabat sampai hari ini, tentunya mengundang tanya besar. Mengingat berjuta janji yang bertebaran sebelum terpilih. Yang nyatanya sangat jauh dari harapan Masayarat setelah mendudukikursi jabatan.

Di Kecamatan Sinjai Barat sendiri masihada beberapa Desa diantaranya DesaTurungan Baji dan Desa Terasa yangkenyataannya hingga hari ini jalanutamanya masih pengerasan denganbebatuan yang tidak merata karenadikerjakan secara swadaya oleh tenagamanusia. Akses transportasi sangat sulitsehingga secara tidak langsungperputaran ekonomi melambat, bahkankadang berhenti. Padahal bila tiba masa pencalonan, akan ada banyak calon-calon yang masuk berkampanye, menebar janji dan meyakinkan tapi saat terpilih, jangankan mengunjungi, berbuat sesuatu untuk kepentingan publik pun enggan. Ia akan lupa terhadap apa yang sebelumnya disuarakan, Buktinya kondisi pembangunan di desa Turungan Baji dan Terasa masih seperti sebelum-sebelumnya, terutama jalanan yang bahkan semakin rusak parah.

Itulah sebabnya saya beranggapan bahwa mungkin bagi beberapa calonPejabat. Daerah pesisir hutan yang tebilang sangat terpencil adalah tempat terbaik menuai janji demi akumulasi suara.

Sama halnya saat pemilihan calonLegislatif beberapa tahun lalu yang kini sudah terpilih dan sedang duduk mewakili di DPRD. Sungguh sangat berbanding terbalik antara apa yang dikampanyekan saat mencalonkandengan kenyataan di lapangan setelah menjabat. Tapi itu bukan persoalan bagi masyarakt awam, yang penting modal dan retorikanya meyakinkan maka dia akan kembali terpilih bila mencalonkan.Tentu tidak semua calon demikian tapi ada, karena bila semua baik dan komitmen pastinya ada bukti pembangunan yang maksimal.

Selepas itu, dari hangatnya Isu Bakal Calon Kepala Daerah di Sinjai akhir-akhir ini, ada beberapa contoh yang akan saya ceritakan. seperti di Desa Turungan Baji dan Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat di sudut Kabupaten Sinjai. Denganderetan pegunungan, hutan belantara dan kesegaran udara menyejukkan, sehingga tercipta pemandangan, sekilas memanjakan mata.

Bila ada kesempatan, cobalah sesekali berkunjung ke sana lalu mengamati kondisi sosialnya secara mendalam. Disana kita akan menemukan hijaunya pohon Pinus berjejeran di sepanjang pinggiran jalan, di kebun dan sawah masyarakat. Jika sore atau pagi hari, kitajuga akan menemui petani sedang mengiris batangn menyadapnyaberharap penghasilan sedikit bertambah, apalagi musim hujan.

Dari keindahan alam yang tersisa mungkin telah menyihir masyarakat untuk lebih peka terhadap teori yang didesain meyakinkan oleh penguasa, sehingga lupa pada kejadian,kemiskinan yang menimpanya. Anak muda kebanyakan putus sekolah karena biaya untuk pendidikan mahal, adapula terpaksa merantau ke luar Negeri mencari kerja sebab kebun dan sawahnya telah diklaim menjadi kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) beberapa tahun lalu sehingga tidak bisa lagi digarap.

Pohon pinus yang kebanyakan dinilai oleh para pendatang sebagai keindahan alam, sebenarnya adalah bencana bagi masyarakat setempat yang berjiwa kritis. Bahkan tergolong sebagai pohon yang rakus, sebab ditanam di kebun masyarakat sehingga tanaman yang lainnya tidak produktif lagi dan jugamematikan sumber-sumber mata airyang mengakibatkan banyak petani menganggur karena sawahnya kekeringan tak bisa diolah semenjak pohon pinus tersebut tumbuh dewasa.

Selain itu, pohon pinus juga ibarat penjara. Menebangnya sama dengan membuka pintu penjara, Seperti beberapa orang di Kecamatan Sinjai Borong dan Sinjai Barat yang pernahditangkap hanya gara-gara menebang pohon yang ditanamnya di kebun sendiri, yang diklaim sebagai kawasan hutan oleh Pemerintah meskipun kebunnya dikelolah secara turun-temurun serta memiliki Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT)  yang setiap tahunnya dibayar.

Pada dasarnya tujuan utama Pemerintahadalah penghijauan (konservasi), tapi realitanya justru kebun yang sudah hijau penuh tanaman oleh masyarakatditanami. Yang anehnya adalah penetapan kawasan hutan beberapa tahun lalu juga tidak melibatkan msyarakat setempat.

Ada keganjilan yang terjadi di pelosokpesisir hutan. Tapi tak semua berani angkat bicara karena pertanyaan, kritis dan saran oleh pemerintah setempatsaja dianggap pembangkangan. Jadi sampai hari ini masyarakat di Desa Turungan Baji dan desa Terasa serta beberapa desa lainnya yang di pesisir pegunungan belum memiliki kejelasan pengelolaan atas hak yang sebenarnya secara turun-temurun digarapnya.

Hanya sedikit yang mau memikirkan itu,karena mungkin bagi beberapa elitpolitik, berkampanye dan mencetak spanduk atau baliho lalu memasangnya di pusat-pusat kota, di pinggir jalan danjuga di pedesaan lebih penting ketimbangn menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat kecil apalagi untuk menyumbang orang-orang miskin di Desa atau mengecor jalanan yang sudah tidak layak dilewati dengan kendaraan.

Harapan saya kedepannya selaku pemuda Sinjai, agar diskusi-diskusi Publik atau seminar dengan berbagai tema pembangunan betul-betul untuk kepentingan Masyarakat apalagi di desa-desa, yang setelahnya memang membuktikan komitmennya dengan kerja kongkrit, bukan hanya sekedar formalitas program semata, terutama pada siapapun bakal calon yang terpilih nantinya.
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.