Dongeng Nenek Pakande

Ilustrasi Nenek Pakande (INT)
Watampone, BW - Kalau anda orang bugis, pasti sering mendengar Nenek Pakande. Nenek Pakande merupakan tokoh dongeng yang melegenda dikalangan masyarakat bugis. Nenek Pakande biasa disebut nenek moyang kita untuk menakuti anak-anak kecil yang sering menangis " pajani teri engka tu matu nenek pakande" (berhenti menangis datang nanti nenek pakande), itulah ucapan yang sering dilontorkan nenek kita ketika ada anak kecil yang sedang menangis.


Nenek pakande dalam dongeng adalah seorang nenek siluman  pemangsa anak kecil. nenek pakande biasa beraksi setelah matahari tenggelam, atau dalam bugis dikenal Labu Esso. tidak sedikit anak kecil hilang secara misterius, diyakini pada saat itu merupakan korban nenek pakande.

keberadaan nenek pakande sangat merasahkan masyarakat, oleh karena itu pemanku adat melakukan rapat atau dalam bugis disebut Tudang Sipulung. Dalam Tudang Sipulung diwacanakan  hanya ada satu yang bisa mengalahkan nenek pakande yaitu Raja La Bangkung(Rraja Bangkung merupakan sosok manusia raksasa). Namun para peserta tudang sipulung tidak mengetahui keberadaan Raja La Bangkung.

La Beddu yang merupakan orang ikut dalam acara tudang sipulung tersebut mengusulkan dirinya bisa menyamar menjadi Raja La Bangkung, namun orang yang ikut tudang sipulung tersebut meragukan usulan La beddu pasalnya tubuh La Beddu pendek dan kecil.

Tidak ada solusi yang bisa disepakati dalam tudang sipulung tersebut, terpaksa usulan La Beddu diterimah, namun La beddu memiliki beberapa permintaan, yaitu  meminta disediakan bayi  untuk memancing Nenek Pakande, Busa sabun yang banyak, Salaga ( alat garapan padi masyarakat bugis), dan tali yang panjang.

Setelah permintaan La Beddu disediakan, dibawahlah bayi kerumah La La Beddu dan segala permintaannya, bersembunyilah La beddu di "rakkiang" ( tempat penyimpanan padi masyarakat bugis yang di buat dibawa atap rumah), pada Saat Labu Esso, akhirnya tangisan si bayi terdengar oleh Nenek Pakande, Nenek Pakande pun datang kerumah La beddu untuk memakan si bayi, pada saat ingin memakan si bayi, bersuaralah La beddu dari "rakkiang"

" hae nenek pakande jaganlah kau memakan bayi itu, itu adalah milikku " teriak La beddu. " siapa kamu ?" tanya nenek pakande, " saya  raja La Bangkung" jawab La Beddu " bohong, raja La bangkung suda tidak ada" balas nenek pakande " kalau kau tidak percaya lihat ludah ku " dilemparlah busa sabun yang dikumpulkan tadi oleh labeddu, nenek pakande pun terkejut, karena ludahnya memang cukup banyak, sebanyak ludah raja La Bangkung, karena merasa belum percaya, nenek pakande, meminta bukti yang lain, " apa lagi yang bisa membuktikan kalau kau ini raja La Bangkung" teriak nenek pakande. La beddu pun melempar salaga, ini sisir ku, (sekedar diketahui salaga memang berbetuk seperti sisir" nenek pakande tambah terkejut karena sisir yang diakui raja La Bangkung memeang besar, namun nenek pakande mencoba menenangkan diri, dan belum percaya sepenuhnya sehingga meminta bukti kembali, " apa lagi yang kau miliki" tanya nenek pakande. La Beddu pun melempar tali, " ini rambutku yang panjang" melihat tali yang dikiranya rambut itu, nenek pakande lari terbirit birit karena ketakutan, karen percaya bahwa diatas rakking itu adalah raja labangkung yang bisa memakannya.

setelah itu nenek pakande pun tidak perna muncul, sampai pada saat ini, hanya nama yang sering diucapkan oleh nenek kita.  

Laporan : La Rumpa
Editor :  La Barakka

Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.