Dari Jerami Menjadi Pakan Bergizi, Mahasiswa KKN Unhas Bawa Teknologi Silase dan UMB untuk Peternak Matajang -->
Cari Berita

Dari Jerami Menjadi Pakan Bergizi, Mahasiswa KKN Unhas Bawa Teknologi Silase dan UMB untuk Peternak Matajang


BONE
– Tumpukan jerami padi dan hijauan yang selama ini mudah ditemukan di sekitar Desa Matajang, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, ternyata menyimpan potensi besar. Di tangan yang tepat, bahan-bahan sederhana itu dapat diolah menjadi persediaan pakan yang membantu peternak melewati masa ketika rumput segar mulai sulit didapat.


Potensi itulah yang coba diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Posko Desa Matajang kepada masyarakat.


Melalui pelatihan pembuatan silase dan Urea Mineral Block (UMB), mahasiswa turun langsung mendampingi peternak dan kelompok tani mengolah bahan-bahan lokal menjadi pakan alternatif yang berkualitas dan dapat disimpan untuk kebutuhan ternak.


Kegiatan yang berlangsung di Desa Matajang pada 21 Juli 2026 itu tidak sekadar diisi dengan pemaparan teori. Sejak pukul 09.00 hingga 11.30 WITA, masyarakat diajak melihat dan mempraktikkan sendiri tahapan pengolahan pakan.


Program tersebut berangkat dari persoalan yang dekat dengan kehidupan peternak. Ketersediaan hijauan segar tidak selalu stabil sepanjang tahun. Ketika musim kemarau datang dan pasokan rumput berkurang, peternak perlu memiliki alternatif agar kebutuhan pakan dan nutrisi ternaknya tetap terpenuhi.


Silase menjadi salah satu jawabannya. Teknologi ini memungkinkan hijauan seperti rumput gajah maupun bahan pertanian lainnya diawetkan melalui proses fermentasi sehingga dapat disimpan dan dimanfaatkan ketika pakan segar sulit diperoleh.


Sementara UMB diperkenalkan sebagai pakan tambahan berbentuk padat yang mengandung sejumlah unsur nutrisi untuk mendukung kebutuhan ternak.


Belajar dari Bahan yang Ada di Sekitar Desa


Pelatihan dipandu oleh Andi Muh. Nurcholish Pasha, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, dengan materi yang diberikan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Bone.


Masyarakat terlebih dahulu mendapat penjelasan mengenai konsep dasar silase dan UMB, manfaatnya bagi ternak, prinsip pembuatannya, serta bagaimana teknologi pakan tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi pemberian pakan.


Menariknya, sebagian besar bahan yang diperkenalkan bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat.


Rumput gajah, jerami padi, dedak, molases, EM4, urea, mineral mix hingga garam menjadi bagian dari bahan yang digunakan dalam pelatihan. Peserta tidak hanya diperkenalkan dengan jenis bahan, tetapi juga fungsi masing-masing dalam menghasilkan pakan yang sesuai untuk ternak.


Setelah materi selesai, suasana pelatihan berubah menjadi ruang praktik bersama.


Peserta mulai mencacah hijauan untuk pembuatan silase. Bahan kemudian ditimbang sebelum dicampurkan dengan molases dan EM4. Campuran tersebut selanjutnya dimasukkan dan dipadatkan ke dalam wadah kedap udara untuk menjalani proses fermentasi.


Tahap demi tahap dilakukan bersama agar masyarakat tidak hanya mengetahui teori, tetapi memahami cara mengerjakannya ketika kembali ke kandang dan lahan masing-masing.


Hal serupa dilakukan saat pembuatan UMB. Molases, dedak, urea, mineral mix, garam dan bahan pengikat dicampurkan dengan komposisi yang diperkenalkan dalam pelatihan hingga menghasilkan pakan tambahan berbentuk padat.


Di sela praktik, masyarakat berdiskusi mengenai proses pembuatan, pemilihan bahan hingga teknik pengolahan yang tepat. Pendampingan menjadi bagian penting karena pembuatan pakan, khususnya yang menggunakan urea, membutuhkan pemahaman dan takaran yang benar agar aman ketika diberikan kepada ternak.


Bekal Menghadapi Musim Kemarau


Bagi masyarakat yang menggantungkan sebagian penghidupan dari sektor peternakan, persoalan pakan bukan perkara kecil. Kualitas dan kontinuitas pakan berpengaruh terhadap kondisi serta produktivitas ternak.


Karena itu, teknologi sederhana seperti silase memiliki arti penting. Hijauan yang melimpah pada musim tertentu tidak harus habis atau terbuang. Sebagiannya dapat diolah dan disimpan menjadi cadangan pakan.


Begitu pula limbah dan hasil samping pertanian seperti jerami padi dan dedak. Dengan pengetahuan pengolahan yang tepat, bahan yang tersedia di sekitar desa memiliki nilai lebih bagi usaha peternakan.


Pelatihan tersebut sekaligus menjadi upaya mahasiswa KKN-T Unhas untuk meninggalkan pengetahuan yang dapat terus digunakan masyarakat setelah masa pengabdian mereka di Desa Matajang berakhir.


Pelaksanaan kegiatan turut didukung anggota KKN-T Gelombang 116 Posko Desa Matajang, aparat Pemerintah Desa Matajang, serta Karang Taruna Desa Matajang.


Mereka terlibat mulai dari mempersiapkan alat dan bahan, membantu pelaksanaan penyampaian materi dan praktik, mendampingi peserta, hingga memastikan kegiatan berjalan lancar.


Kolaborasi mahasiswa, pemerintah desa, instansi terkait dan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dari semangat kegiatan. Sebab persoalan peternakan di desa tidak selalu harus dijawab dengan teknologi yang rumit.


 Terkadang, jawabannya justru berasal dari kemampuan mengolah apa yang telah tersedia di sekitar masyarakat.


Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN-T Unhas berharap masyarakat Desa Matajang semakin mampu membuat silase dan UMB secara mandiri serta memanfaatkan bahan lokal sebagai sumber pakan alternatif.


Harapannya, ketika musim kemarau tiba dan hijauan segar mulai berkurang, peternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ketersediaan rumput pada saat itu.


Dari rumput gajah, jerami hingga dedak yang tersedia di sekitar desa, ada cadangan yang dapat dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebuah langkah sederhana untuk menjaga ternak tetap mendapatkan pakan dan, pada akhirnya, menjaga keberlanjutan usaha peternakan masyarakat Matajang.


Sebab bagi peternak, ternak yang tangguh memang bermula dari satu hal yang paling mendasar yaitu pakan yang berkualitas.