BPI Sebut Penggiringan Opini Oleh Lembaga Survey Ancam Demokrasi

Bugiswarta.com, Jakarta – Pengamat Politik Bimata Politica Indonesia (BPI) Panji Nugraha mengatakan, polemik hasil hitung cepat (quick count) dan hasil survey dari beberapa lembaga survey ternama menjadi perhatian publik. Pasalnya, dari hasil lembaga survey tersebut banyak yang tak sesuai dengan data real count dari lembaganya tersebut.

“Jika obyektif dalam metode dan bermaksud untuk memberikan data sebenarnya kepada masyarakat, kiranya lembaga survey tersebut datanya tidak akan meleset jauh dengan hasil real countnya sendiri, dan hal itulah yang membuat masyarakat mempertanyakan kredibilitas lembaga survey ”. Tutur Panji Jakarta, 5 Juli 2018

Panji menambahkan, dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia, sistem tersebut memberikan ruang untuk adanya lembaga-lembaga riset seperti ini, akan tetapi dalam fungsinya untuk membuat sistem demokrasi, khususnya dalam pelaksanaan pemilu menjadi lebih baik, akan tetapi faktanya hasil daripada lembaga survey hanya membuat bingung masyarakat, bahkan berfungsi sebagai alat untuk menggiring opini kepada masyarakat.

“Opini dari lembaga survey yang obyektif sangat dinantikan publik dan menjadi evaluasi penyelenggara pemilihan umum di Indonesia, berkaca pada kasus Pilkada Jabar dan Jateng seolah lembaga survey ini hanya berfungsi sebagai alat penggiringan opini kepada masyarakat, jika seperti  ini justru akan menghilangkan unsur fair dalam pemilu bahkan akan membuat demokrasi Indonesia tidak sehat, karena lembaga survey bukan semata-mata meneliti tetapi menjadi timses salah satu pasangan tertentu, artinya hanya yang punya uang saja yang mampu membiayai lembaga survey tersebut, kata lain para pemodal saja yang mampu memenangkan pertarungan pemilu dan jelas akan mengamcam demokrasi Indonesia ”, tutup Panji.
Share on Google Plus

About Usman Alkhair

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.