Cerpen : Senja di Langit Latemmamala

Oleh : Aidah Nur Majidah
“Jangan pernah berhenti untuk melangkah. Walaupun kau bukan yang terdepan, setidaknya kau bukan salah satu dari mereka yang memilih berhenti dan akhirnya menjadi yang terakhir.”
Viona menutup buku yang ia baca bersamaan dengan bunyi bel yang menunjukkan waktu istirahat bagi siswa siswi SMP Nusa Bangsa. Viona tak beranjak dari tempatnya sekarang, ia memilih menunggu teman-temannya yang lain, yang sudah pasti akan ke tempat Viona. Suara gaduh dan langkah kaki yang terdengar menuju ke tempat Viona berada, membuat Viona beranjak untuk membuka pintu ruangan tersebut yang telah ia kunci sebelumnya. Ketika pintu dibuka, saat itu juga-lah belasan anak jatuh di depan pintu yang baru saja dibuka oleh Viona. Ruang pramuka yang tadinya sepi, jadi ramai dalam hitungan detik. Antara ingin tertawa dan kasihan, sambil menahan tawanya, Viona membantu mereka semua satu per satu.
“Rilyan rezeee!! Pake dorong-dorong segala lagi. Tuh kan kita semua kena jatuhnya.”kata Ghina sebal.
“Kok jadi gue sih? Yang dorong kan si Rival.”kata Rilyan tidak mau disalahkan.
“Kenapa nama gue kebawa?”tanya Rival yang juga tidak mau disalahkan.
“Apaan sih? Kalian kayak anak kecil tau gak.” Viona menengahi.
“Lagian kenapa nama gue dibawa-bawa segala?”Rival tak terima.
“Udah deh kak, gak usah mulai.”kata Rini yang jengah melihat tingkah laku kakak kelasnya yang childish.
“Iyya iyaa.”kata Rival mengalah.
“Gara-gara Rilyan sii!!” kata Elma mulai mengompori.
“Udahlah,El. Gak usah mulai perang deh.”kata Viona yang mulai jengkel dengan sikap teman-temannya yang selalu ribut.
“Iya deh iya.”Elma sambil nyengir.
“Ayo cepetan mulai, mumpung masih banyak waktu.”kata Ghina, yang sudah melupakan persoalan tadi.
“Siap kak!”kata yang lainnya.
Mereka yang ada di Ruang Pramuka SMP Nusa Bangsa, segera membentuk lingkaran yang lumayan besar. Setelah itu, Rilyan dan Ghina sebagai pratama putra dan putri memulai rutinitas kecil mereka.
“Jadi, diantara kalian, ada gak yang mau curhat atau share problem-nya sama kita-kita?”tanya Ghina pada semua yang ada di ruangan itu.
Viona tampak ragu untuk mengangkat tangannya dan bersuara. Ketika ia akan mengangkat tangan, sebuah suara lebih dahulu mendahuluinya. Viona-pun mengurungkan niatnya untuk bercerita ke yang lain.
“Saya kak!” Rahma sambil mengacungkan tangannya.
“Ok, silahkan kak.”Rilyan mempersilahkan Rahma untuk bercerita.
Rahma-pun menceritakan masalahnya dengan raut wajah yang sedih. Sedangkan yang lain menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Rahma dan mencoba memahami posisi Rahma. Setelah Rahma mennyelesaikan ceritanya, Rilyan-pun angkat bicara.
“Gak usah sedih kak. Kita semua selalu ada kok, kapanpun dan dalam keadaan apapun.”kata Rilyan yang dibalas anggukan oleh yang lain.
“Duh, kenapa jadi mellow gini sih? Mending kita happy-happy aja, gimana?”kata Viona mencoba menghilangkan suasana sedih yang menyelimuti ruangan itu.
“Gimana kalo kita nyanyi sambil keliling sekolah?”usul Ica.
“Setujuu!!”jawab yang lain dengan semangat.
“Dhana, ambil gitar.”perintah Rilyan dengan nada bercanda, khas-nya.
“Siap,komandan!”jawab Dhana sambil hormat ala tentara yang membuat teman-temannya yang lain tertawa geli karena tingkahnya.
“PUTRA PUTRI VAMPYRUS!!!” perintah Rilyan memberi aba-aba berkumpul kepada anggotanya sambil menepuk tangannya dua kali kemudian tangan kirinya mengepal lurus ke depan dan tangan kanannya menunjukkan angka 2 dan juga lurus ke depan yang berarti, anggota harus membentuk 2 barisan berbanjar.
Setelah barisan rapi dan Dhana-pun siap dengan gitarnya, mereka pun berjalan mengelilingi sekolah sambil bernyanyi ceria.
“Dhana? Gitar siap?”tanya Rilyan.
“Siap bos!”
“Oke. Perhatian!”kata Rilyan tegas.
“Siap!”
“Maju, jalan! Berangkatt~”
Mereka sungguh bernyanyi sambil mengelilingi sekolah,membuat mereka semua jadi pusat perhatian sekaligus hiburan untuk warga SMP Nusa Bangsa. Viona tersenyum bahagia menikmati kebersamaan mereka yang terikat dalam Vampyrus Scout. Ini takkan pernah ku dapatkan di tempat manapun, selama gak ada kalian, batin Viona.
Di tengah-tengah hutan,
“Lo lagi disekolah woii!”kata salah satu murid.
Dibawah langit biru~
Tenda terpancang ditiup sang bayu~
Api menjilat-jilat terangi rimba raya,
“Wahh,parah! Api kok menjilat?”kata murid yang lain.
Mereka hanya tersenyum mendengar candaan teman satu sekolahan mereka dan tetap melanjutkan nyanyian mereka. Karena bagi mereka, ini semua memang hanya sebagai hiburan semata.
Membawa kelana dalam impian.
Dengarlah, dengarlah~
Sayup,sayup suara nan merdu memecah malam
Jauhlah dari kampung, turuti kata hati
Guna bakti pada bunda pertiwi~

Mereka terus bernyanyi sampai bunyi bel tanda masuk berbunyi. Hari itu, mereka lalui dengan bahagia dan suka cita. Untuk pagi ini, sudah selesai karena kegiatan belajar mengajar. Sekarang, mereka menunggu jam menunjukkan pukul 02.00 Wita, yang mana merupakan waktu latihan mereka, Vampyrus Scout.
Siang itu, baru Viona yang ada di sekolah. Jam baru menunjukkan pukul 01.30 Wita. Itu artinya masih ada waktu 30 menit sebelum latihan pramuka dimulai. Viona membuka buku diary-nya dan menulis rangkaian kata yang ingin ia utarakan sejak tadi pagi. Pulpen yang digenggamnya pun mulai menari-nari diatas kertas putih yang masih kosong.
“Mereka? Mereka bukan teman. Bukan pula sahabat. Mereka itu, keluarga. Orang-orang yang telah ku anggap saudara walaupun tak sedarah. Mereka yang selalu ada. Baik suka maupun duka. Andai saja ada kata yang melebihi ‘keluarga’, itulah mereka. Mereka-lah yang menciptakan warna dalam hidup hitam putih ku ini.
Tanpa mereka, hidupku masih kelabu. Karena mereka-lah yang menjadi cahaya dalam hidupku. Aku bersyukur, bisa menjadi salah satu dari mereka. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari mereka. Terima kasih karena telah mempertemukan ku dengan mereka, Ya Allah. Terima kasih karena telah mengenalkanku dengan mereka, Vampyrus Scout. Dan, terima kasih karena telah membiarkanku mengukir kenangan indah bersama mereka. Aku takkan pernah lupa akan kenangan itu, barang sedetikpun. Aku akan merindukanmu, Vampyrus-ku. Terima kasih karena telah menerimaku sebagai bagian dari mereka.”
Viona menutup buku diary-nya sambil mengusap air mata yang sempat jatuh di pipinya. Viona akan pindah ke kota lain. Ayah dan ibu Viona baru saja bercerai, dan Ayahnya sudah menikah lagi. Viona ikut dengan Ayahnya, karena Ayahnya lah yang memegang hak asuh Viona. Ia snagat ingin memberitahu teman-temannya mengenai hal ini, tapi belum ia lakukan. Viona masih belum siap untuk meninggalkan mereka yang telah menghadirkan kisah klasik dalam hidup Viona.
“Gue akan kasih tau mereka nanti.”kata Viona sambil memandang kosong lapangan yang ada didepannya.
“Haii,Vioo!!!”teriak seseorang beberapa meter di depan Viona.
“Haii,Elma.”Viona sambil tersenyum tipis ke arah Elma yang tadi menyapanya.
“Yang lain mana?”tanya Viona.
“Tuh!”kata Elma sambil menunjuk ke arah gerombolan remaja yang telah memakai pakaian pramuka lengkap yang tengah berjalan ke arah mereka.
“Yaudah, yuk latihan.”kata Ghina.
“Kak Zul udah dateng kan?”tanya Rilyan ke Viona yang pertama datang di sekolah.
“Udah dateng kok dari tadi. Mungkin lagi di ruangannya kali.”jawab Viona.
“Oke, kalo gitu. Ghin, lo pergi panggil kak Zul dulu, gue ngumpulin temen-temen.”
“Okey.”
Vampyrus Scout yang berpangkalan di SMP Nusa Bangsa memiliki jadwal latihan setiap hari Selasa,Kamis dan Sabtu. Karena hari ini hari Sabtu, jadi mereka latihan sesuai jadwal yang telah di atur Kak Zul yang merupakan pembina pramuka SMP Nusa Bangsa.
Hari ini, Viona terlihat tidak fokus selama latihan. Terlihat ketika Upacara Pembukaan Latihan (upabuklat), ketika semua orang hormat ke bendera, dia malah melamun sampai ia ditegur oleh kak Zul dan ikut hormat seperti yang lain. Selain itu, ketika latihan dimulai, ia beberapa kali melakukan kesalahan. Akibatnya, ia mendapat hukuman dari kak Zul, hormat ke bendera selama 1 jam karena tidak fokus selama latihan. Ketika istirahat dan hukuman Viona selesai, teman-temannya langsung menghampirinya dan bertanya ke Viona.
“Lo kenapa gak fokus gitu sih Vio?”tanya Rilyan.
“Hah? Gak kok, mungkin Cuma kecapean aja.” Sebenarnya Viona ingin memberitahu teman-temannya sekarang, tapi sulit rasanya untuk mengucapkan kalimat perpisahan itu.
“Lo yakin gak papa?”tanya Elma,khawatir.
“Gue gak papa,Elmaa. Udah deh gak usah lebay gitu.”kata Viona sambil memaksakan senyumannya.
“Tapi kak,”kata Rini yang dipotong oleh Viona.
“Udah deh Rin, lo juga. Gak usah lebay gitu deh.”
“Vio, lo dipanggil kak Zul di ruangannya.”kata Rival.
“Kak Zul? Kenapa emang?”tanya Viona.
“Gak tau gue.”jawab Rival.
“Oh,ok. Gue kesana bentar ya.” Pamit Vion
“Yaah, padahal baru mau di tanya tanya juga. Lo sih Val.” Kata Ghina.
Viona yang masih dapat mendengar perkataan Ghina tersenyum tipis mendengarnya.

“Kakak manggil saya? Ada apa ya kak?” tanya Viona ketika sudah sampai di ruangan kak Zul.
“Vio, tadi Ayah kamu nelpon, katanya beliau udah di jalan mau jemput kamu.”
“Udah di jalan yaa.”kata Viona sambil tersenyum kecut dengan pandangan mata kosong.
“Kamu udah ngasih tau temen-temen kamu,kan?” tanya Kak Zul.
Kak Zul memang sudah tau mengenai kepindahan Viona, tapi karena permintaan Viona, ia tidak memberitahu teman-teman Viona mengenai hal itu.
“Belum kak.”jawab Viona lesu.
“Vio, mending sekarang kamu pamitan sama teman-teman kamu. Daripada kamu ninggalin mereka tanpa pamit, mereka pasti akan sedih.”kata Kak Zul tersenyum menguatkan Viona.
“Aku gak bisa kak. Aku gak bisa ngucapin kalimat perpisahan itu ke mereka. Mereka udah jadi bagian dari diriku sendiri. Andai aku dapat memilih, aku akan memilih tetap disini daripada ikut Ayah.”kata Viona dengan air mata yang telah terurai di wajahnya.
“Yang sabar ya, Vio. Kamu harus bisa ambil hikmahnya dari perpisahan ini.”nasehat Kak Zul.
“Iya kak. Kalo gitu, aku pamit kak. Makasih sudah menjadi sosok kakak untukku selama ini. Maaf kalo aku ada salah dengan kak Zul.”pamit Viona ke Kak Zul.
Viona menjabat tangan kak Zul dan memeluknya erat. Begitupun dengan Kak Zul, yang sudah menganggap Viona sebagai adik selama ini.
Sebelum keluar dari ruangan kak Zul, Viona menghapus jejak air matanya dan mengubah raut kesedihan itu menjadi raut bahagia palsu. Ia keluar dari ruangan kak Zul dan mengambil tas-nya. Setelah itu, ia berjalan ke arah teman-temannya yang sempat dan akan ia tinggalkan.
“Guyss, sorry ya. Gue pamit dulu, ayah gue udah jemput.”pamit Viona secara tidak langsung.
Rilyan melihat ke arah jam yang melekat di pergelangan tangannya. 16.18 Wita.
“Kok jemputnya cepet banget sih,Vi?”tanya Rilyan bingung.
“Gak tau tuh. Tanya aja ke Ayah gue.”kata Viona dengan fake smile-nya.
“Yaudah, gue pergi dulu ya. Byee guyss!!” kata Viona sambil berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh di depan teman-temannya.
Ketika Viona membalik badannya, saat itu juga lah air matanya menetes membasahi pipinya. Kakinya terasa begitu berat meninggalkan tempat ini. Tempat yang telah mempertemukannya dengan mereka. Tempat yang menjadi saksi kebahagiaan Viona tercipta. Dan sekarang, semua itu akan hilang dalam sekejap.
Ketika sudah sampai di gerbang SMP Nusa Bangsa, Viona menghentikan langkahnya. Ia menghirup udara di sekitarnya sebanyak mungkin. Udara yang akan ia rindukan. Suasana hangat yang akan takkan pernah ia lupa. Dan teman-temannya yang menjadi pelukis dalam hidupnya.
Baru saja Viona ingin melangkahkan kakinya keluar dari halaman sekolah. Langsung dia urungkan ketika mendengar teriakan dan derap langkah kaki dari arah belakangnya.
“Viooo!! Tungguuu!!!” teriak teman-temannya.
Viona pun diam di tempatnya sambil menunggu teman-temannya.
“Lo jahat,Vi!!”kata Elma memukul pelan bahu Viona dengan air mata yang terus menetes.
“Apaansih,El? Kok lo nangis gitu? Yang lain juga? Ada apaansihh?” kata Viona bingung dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa lo gak bilang kalo lo mau ninggalin kita,Vio?” tanya Ghina dengan menahan air matanya.
“Siapa yg mau ninggalin kalian sih? Orang ayah gue udah jemput, jadi ya gue pulang.”kata Viona masih berpura-pura.
“Kakak gak usah pura-pura gitu. Kita udah tau kak, kalo kakak mau pindah, iyakan?” kata Fitri.
“Kok-kalian bi-bisa tau?”tanya Viona dengan air mata yang mulai menetes lagi.
“Kalo lo mau pergi diem-diem, pastiin dulu kalo lo gak ninggalin tanda.”kata Rilyan dengan menunjukkan buku diary Viona.
“Bu-buku gue kok ada di lo?”
“Gue nemu ini di pinggir lapangan.”kata Rilyan.
“Kenapa lo harus pergi siih Vii? Kita gak bisa kalo gak ada lo.”
“Kalo lo punya masalah, kenapa gak cerita sama kita?”
“Kak Vio tega ninggalin Vampyrus Scout?”
“Gak usah pergi,plis.”
“Lo gak bisa tetep disini,Vi?”
“Kalo lo bisa, kita-nya yg gak bisa.”
“Guyss, please. Jangan buat gue tambah sedih. Bukannya gue mau pergi tanpa pamit sama kalian. Cuma, gue gak bisa ngucapin kalimat perpisahan itu. Gu-gue juga gak mau ninggalin kalian. Tapi gue harus. Maaf ya kalo selama ini gue ada salah sama kalian. Terima kasih karena kalian, gue tau ‘bahagia’ itu nyata. Makasih karena udah nerima gue di Vampyrus. Gue pamit ya.”pamit Viona.
Teman-temannya memeluk Viona dengan air mata yang tak berhenti menetes. Mereka tidak pernah mengharapkan perpisahan ini. Setiap kenangan yang telah mereka lukis, tak akan pernah Viona lupakan. Karena mereka lah, Viona belajar banyak hal. Senja di langit Latemmamala sore itu menjadi saksi bisu perpisahan mereka. Senja itu tak akan pernah mereka lupakan. Senja yang telah menjadi saksi bahwa pepatah ‘dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan’ itu memang benar adanya.

“Aku tak akan pernah melupakan senja itu. Senja di sore itu. Senja di langit Latemmamala. Yang telah menjadi saksi bisu perpisahanku dengan mereka, Vampyrus Scout. Sekali lagi, makasih karena telah membiarkanku menjadi bagian dari kisah klasik yang akan kita kenang di masa nanti. Aku akan merindukan setiap detik bersama kalian. Makasih karena selama ini kalian selalu ada untukku. Aku takkan pernah melupakan kalian.” Bumi Latemmamala,Watansoppeng, 9 Agustus 2017.

Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.