Wadahi Diskusi Kesejahteraan Masyarakat, PMB-UH Latenritatta Hadirkan Kepala Bappeda dan Disbudpar Bone


BUGISWARTA.com, Bone -- Perhimpunan Mahasiswa Bone Universitas Hasanuddin (PMB-UH) Latenritatta mengadakan diskusi yang bertemakan "Kesejahteraan Masyarakat dalam Konstruksi Peme-rintahan Daerah; Optimis atau Pesimis?" di Cafe Magaya, Jl. Ahmad Yani, Watampone. Jumat 4 Agustus 2017.

Kegiatan ini menghadirkan Abu Bakar selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bone, Andi Promal Pawi selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bone, serta Andi Zulkarnain salah seorang aktivis civil society serta selaku fasilitator dalam diskusi malam ini.

Diskusi yang diadakan oleh organisasi kedaerahan ini diawali dengan pemaparan dari Abu Bakar selaku Kepala Bappeda Kabupaten Bone yang menjelaskan bahwa kesejahteraan hari ini sudah meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Abu Bakar selaku Kepala Bappeda Kabupaten Bone mengatakan, "saya optimis bahwa kesejahteraan rakyat akan lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai sektor; pertanian, pendidikan, kesehatan, ekonomi, peternakan, serta infrastruktur. Seharusnya ini bias lebih baik, namun sayangnya masih terbatas dimasalah penganggaran," paparnya.

Senada dengan Kepala Bappeda Kabupaten Bone, Andi Promal Pawi pun mengatakan, masyarakat Bone yang memiliki beragam budaya sesungguhnya telah mengalami peningkatan yang signifikan. Itu dilihat dari banyaknya tempat atau ruang yang menjadi lokasi untuk berkumpul dan berdiskusi.

Sementara itu, Andi Zulkarnain yang mewakili aktivis civil society dalam hal ini philosophia dan Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS) mengapresiasi keberanian kepala dinas untuk mengahadiri diskusi, karena diskusi ini bagian dari cara pemerintah dalam 'belanja masalah' mendengar saran dan kritik dari peserta diskusi. Kemudian pemerintah harusnya bias memaksimalkan kualitas aktor orang Bone yang tersebar di banyak sector baik level provinsi maupun nasional. Mereka harusnya bias diajak untuk membangun Bone dengan spirit "diassi Bonei".

Selanjutnya, Andi Zul berbagi setidaknya tiga tips kepada peserta tentang bagaimana cara untuk menilai kinerja bupati sukses atau tidak, pertama yakni dengan mengecek tugas dan wewenang kepala daerah yang diatur dalam UU, kedua adalah mengecek janji politik bupati, ketiga melihat kinerja pemerintahan sebelumnya.

Tak luput pandangan akademisi dari STAIN Watampone, Yusuf Djabbar mengingatkan kembali peran pemerintah saat ini tidak boleh keluar dari koridor aturan yang ada dan kepastian hukumnya harus jelas dan tidak boleh ngawur.

"Pemerintah harus sadar bahwa mereka adalah pelayan bukan tuan dari masyarakat. Jadi, hakikatnya seharus melayani masyarakat agar nyenyak dan kenyang, kesehatan terjamin. Birokrasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya, harus memenuhi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah yang merupakan koridor bagi pelaksanaan otonomi daerah," jelasnya.

Lanjut Yusuf, sebaiknya pemerintah juga focus kemana arah pembangunan dan sasarannya juga harus tepat. Dan semoga mampu bekerja tuntas dengan tetap menegakkan prinsip "tellabu essoe ritengnga bitara e" (Jika ingin melakukan suatu pekerjaaan maka renungkanlah, lalu satukan hati dan pikiran. Selanjutnya lakukan dan jangan berhenti di tengah jalan).

Sementara itu, Arif selaku Ketua Dewan PMB UH Latenritatta pun berkomentar tentang pemerintah hari ini, bahwa penghargaan yang diterima Bone hari ini tidak berbanding lurus dengan realitas kondisi Kabupaten Bone hari ini.

Arif mengatakan, pemerintah saat ini jika dilihat dari data yang diperoleh dari berbagai sumber, itu jauh dari apa yang terjadi saat ini entah itu APBD, kontrak kinerja pemerintah serta RPJMD Kabupaten Bone pada realitasnya jauh dari apa yang seharusnya. 

Perhimpunan Mahasiswa Bone Unhas Latenritatta sebagai lembaga daerah yang dalam hal ini selaku penyambung antara masyarakat Bone dengan pemerintah, menuntut agar pemerintah dapat menjalankan apa yang telah menjadi kesepakatan bersama dalam perencanaan yang telah dilaksanakan. Fakta hari ini mengatakan, setelah beberapa tahun mengadakan pengamatan di beberapa daerah yang ada di Kabupaten Bone, ternyata dalam prosesnya masih sangat jauh, ini berbanding terbalik jika di lihat dari penghargaan yang diterima Kabupaten Bone, entah itu dari pendidikan, infrastruktur dan lain-lain.

Diskusi yang berlangsung pun terlihat sangat alot, hamper dari seluruh peserta mengungkapkan segala keluh kesah ke wakil pemerintah yang hadir hingga akhir diskusi ini.

Salah satu peserta diskusi pun mengapresiasi kegiatan yang dilakukan PMB-UH Latenritatta,
"Setelah sekian lama kami menunggu kegiatan yang seperti ini, terima kasih kepada kawan-kawan dari Makassar dan menyempatkan waktu untuk melakukan tradisi intelektual yang berkualitas hari ini," ungkap salah satu peserta.

Arya selaku moderator pun menyimpulkan bahwa, ternyata pada faktanya ketika mau memandang optimis atau pesimis terjadi kebimbangan, dikarenakan secara realitas banyak masyarakat yang pesimis akan hal ini. Sedangkan dari pihak birokrasi memandang hal ini optimis, dikarenakan berbagai aspek telah mengalami peningkatan.

"Harapan bahwa kesejahteraan masyarakat tidak bias hanya dilihat dari aspek penilaian birokrasi saja. Namun hal ini haruslah sejalan dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat pada umumnya," tutup Arya selaku moderator.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai organisasi kemahasiswaan, diantaranya IMM, IMHB, HMI, Rumah Pemuda Bangsa (RPB), dan organisasi civil society lainnya.

MULIANA AMRI
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.