Puisi : Jejak Tanah Berlempeng Duka

El-Hijer
Saat aku menutup mata 
aku melihat senja di musim hujan, 
langit berbicara tentang cuaca
Suara-suara menjadi gagu, mawar-mawar layu, 
purnama mendadak vakum

Aku bahkan tak pernah menyangka
serabun itu kah mata, atau
hati mendadak buta
dengan mudah kau menutup segalahnya
mengingkari segala yang ada

Aku semakin tersesat dalam prasangka bercorak sepihak,
segala siasat tak meretaskan realitas 
yang menghubungkan tanda-tanda 
dari segala apa yang aku lihat 

Kini kehidupan terlanjur berpihak dimatamu
bahkan untuk sekedar mencecap rindu pun aku tak bisa

Seperti di awal aku belajar mengasmara,
Seperti pada mulanya aku belajar menyengsara
Seperti halnya aku pun pecah, 
tumpah dalam sedemikian rupa

Berulang kuhitung kata
dari waktu menjelma duka
dari sajak menjadi senja
dan hujan masih saja menikahi air mata
aku terbaring digigil cuaca 
seperti lukisan berlumut dalam santapan usia

Juni sebentar lagi menyapa, 
jejak tanah berlempeng duka
tempat perayaan entah, kesaksian seperti apa
kita tertikam di sini
menjadi nisan yang tak sempat diberi nama

Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.