Perempuan dan Daya Magisnya


Rudi Syam

Pulang dari pertemuan manusia-manusia yang tak waras tapi waras pada hakikatnya di sebuah warung kopi yang menjadi ajang Silaturahim. Pertemuan yang mengajakku meluangkan sedikit waktuku untuk berpikir tentang perempuan dan daya magisnya. Berawal dari seorang perempuan yang menuangkan segelintir kisahnya tentang rasa penasarannya terhadap sudut pandang kaum lelaki mengenai perempuan itu sendiri. Ia berusaha mencari tahu sesuatu yang menurutnya harus diketahui oleh wanita agar mereka tak salah memilih pemimpin rumah tangganya di masa depan.

Agak sulit memang untuk memahami sosok perempuan secara utuh. Mereka seperti labirin, kita hanya mengetahui jalur masuknya tapi rumit untuk menemukan jalur keluarnya. Jadi, jalan satu-satunya adalah memasuki setiap celahnya, walau dalam celah tersebut kita menemui kebuntuan yang berulang. Tapi, pada dasarnya pasti ada satu celah yang akan menggiring kita menuju jalur keluar.

Aku mengambil celah pada sisi pengalamanku bersosialisasi dengan sosok tersebut. Menurutku mereka adalah sosok yang bisa mengendalikan kaum lelaki dilihat dari sisi pengaruhnya. Ingatkah kita dengan Kisah Hawa (Eve) yang menambahkan pengaruhnya setelah syaitan lebih dulu mempengaruhi Nabi Adam AS untuk memakan buah khuldi sehingga mereka dibuang dari surga ke dunia. Tetapi, Nabi Adam dengan gigihnya masih berusaha mencari Hawa disaat Allah SWT memisahkan mereka dengan jarak dan waktu ketika terbuang di dunia. Dari kisah ini kita dapat simpulkan bahwa ketika seorang lelaki sudah memberikan kepercayaannya kepada perempuan secara menyeluruh, maka ia akan melakukan hal apapun untuk memastikan bahwa kepercayaan itu belum meninggalkan tempatnya. Jadi, jangan heran ketika seorang suami takut kepada istrinya. Ketakutan dalam artian takut akan hilangnya rasa percaya istri terhadapnya.

Dalam lain hal, kaum lelaki mengibaratkan sosok perempuan seperti sebongkah emas murni. Patut baginya untuk menyimpan dan menjaganya baik baik didalam peti besi yang bernama kepastian lalu menguncinya dengan gembok bernama tanggung jawab. Tetapi, Secara tak sadar sebaliknya perempuan sering memilih keluar dari peti besi tersebut dan membagi dirinya dari sebuah bongkahan menjadi serpihan-serpihan emas yang akan diperebutkan oleh mereka yang hanya memiliki peti besi namun tak memiliki gembok yang kokoh. Sebenarnya kesalahan mendasar bukan hanya terletak pada sisi wanitanya saja, tetapi juga kepada kaum lelaki yang secara sengaja atau tidak sengaja telah menghilangkan gembok dari peti besi tersebut.

Pada intinya perempuan adalah sesuatu yang tak ternilai harganya ketika Ia masih nyaman dalam sebuah kepastian dan membiarkan dirinya terkunci oleh sebuah tanggung jawab. Begitupun sebagai kaum lelaki berikanlah kepercayaanmu kepadanya, jaga dan simpanlah ia dalam kepastian, lalu bertanggung jawablah jika engkau ingin dikatakan lelaki sejati.

Penyelaras : MULIANA AMRI
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.