OPINI : Politik Subtil Birokrat dan Anak-anak Lemer's

PENULIS : SUBARMAN SALIM

OPINI---Sebagian birokrat sebenarnya punya hasrat berpolitik yang tersembunyi. Mereka punya mekanisme terselubung, tapi sesungguhnya mudah ditebak.

Memang, birokrat yang punya hasrat berpolitik, tidak bisa blak-blakan dalam bersuara, mengingat ada undang-undang yang mengikat mereka. Tapi, dalam setiap kebijakan atau program yang mereka jalankan, memungkinkan mereka untuk menitip pesan-pesan politik yang subtil.

Bagaimana para birokrat berpolitik tanpa melanggar hukum? Setidaknya ada tiga langkah umum, pertama melakukan pertemuan nondinas, intens dan tertutup dengan atasan di luar jam kantor.

Kedua, menitip gambar diri pada setiap program yang dikerjakan oleh instansinya, lalu dipamer di koran-koran.

Ketiga, ikut memeriahkan, mengerahkan massa dengan menginstruksikan bawahan untuk diteruskan ke bawahan, lalu ke bawah lagi, hingga ke rumah-rumah warga.

Penjelasannya

Pola pertama biasanya dilakukan oleh mantan atau calon tim sukses. Untuk mengamankan atau menaikkan posisi, mereka punya semacam agenda setor muka ke pimpinan. Pembicaraan bisa seputar kinerja dengan laporan normatif tentu saja, atau yang lebih sensitif misalnya kemungkinan adanya titipan program atau SPJ fiktif yang dapat disunat anggarannya.

Anggaran dari program fiktif ini penting untuk membiayai kunjungan tidak penting atau kegiatan nondinas yang dibutuhkan untuk menyegarkan para bawahan yang haus cuti.

Pola kedua sebenarnya lebih gampang ditebak. Karena birokrasi yang ingin menokohkan diri, tidak akan membiarkan apapun program yang dilaksanakan tanpa menyandingkan nama dan fotonya.

Pola ini sangat fulgar kelihatan di media. Ketika sebuah instansi memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada pihak tertentu, diikuti oleh instansi lain, rasanya ada sedikit yang mengganjal.

Apakah ucapan selamat Ultah atas nama kepala dinas, perlu dan penting? Bukannya ketika Pak Bupati sudah memberikan ucapan selamat ulang tahun berarti sudah mewakili seluruh instansi yang ada di bawah jajarannya?

Anda bisa hitung sendiri, jika setiap pimpinan instansi, UPTD, camat, lurah, desa, memesan kolom selamat ulang tahun di media sosial/cetak, jumlah rupiahnya mungkin bisa menutupi biaya memondokkan anak jalanan yang suka isap lem.

Model ketiga bentuknya ada yang samar ada juga yang terang. Bahkan ada yang tak segan menggunakan kendaraan dinas untuk memasang spanduk atau mengangkut massa ke lapangan memeriahkan acara partai politik.

Nah, masih peduli dengan ucapan selamat Ultah atau enteng menggunakan kendaraan dinas untuk kepentingan partai? Atau lebih tega membiarkan anak jalanan mati dimabuk lem?(*****)

Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.