May Day Bukan Ajang Perayaan, Tapi Mengingat Catatan Sejarah Besar

Asrul Sahir
(Anggota Pembebasan Kol-Kot Sinjai)

Perjuangan pergerakan mahasiswa tidak terlepas dari kehidupan publik, apalagi runtuhnya orde baru ditandai dengan kolaborasi aksi demonstrasi besar dari berbagai kalangan untuk bersatu menumbangkan rezim yang zolim.

Dari era ke-era, mahasiswa memang selalu menjadi tulang punggung rakyat dalam berjuang melawan ketidakadilan. Namun seiring perkembangan zaman dan kemajuan tekhnologi, berkembang pula kritisme pemikiran manusia. Mahasiswa tidak hanya selalu mendampingi rakyat dalam berjuang, tetapi mahasiswa juga harus bisa memberikan pengetahuan kepada rakyat, membuka mulut serta berusaha menggerakkan lidah rakyat untuk menyuarakan aspirasinya. Selain itu mahasiswa juga dituntut senantiasa untuk bergerak berdampingan dengan rakyat, demi lompatan kualitas dalam pergerakan mahasiswa, karena sejatinya gerakan mahasiswa adalah gerakan rakyat.

Perjuangan untuk meraih perubahan ke arah yang lebih baik tentunya juga perlu sinkronisasi gerakan, mulai dari gerakan kaum tani, kaum miskin kota, dan terlebih dengan kaum buruh. Perubahan dengan gesekan yang besar khususnya di Indonesia selalu ditandai dengan gerakan kaum buruh.

Buruh yang juga merupakan kalangan mayoritas di Indonesia, selama ini mengalami ketertindasan dalam pekerjaannya. Dengan merajalelanya sistem ekonomi yang mengeksploitasi habis-habisan tenaga buruh demi kepentingan individu (Kapitalisme), mulai dari upah yang minim, jam kerja yang tidak sesuai dengan gaji, sampai banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Secara tidak langsung sistem Kapitalisme tersebut akan menciptakan pengangguran massal. Hal tersebut merupakan problemtik di negeri ini. Yang tentunya harus dipecahka bersama oleh kalangan akademis dan aktivis (Intelektual).

My Day merupakan istilah Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei yang setiap tahunnya selalu direspon sebagai hari bersejarah oleh rakyat. May Day yang dulunya adalah hari yang bisa disebut sakral karena termasuk catatan sejarah, secara perlahan dimaknai keliru oleh banyak kalangan. Bukan hanya sebagai hari libur Internasional, tetapi May Day merupakan peringatan besar terhadap sejarah, bukan perayaan elit untuk penguasa.

Meskipu hari ini kita menyaksikan, ada sebagian kalangan menganggap May Day hanya hari libur internasional dan perlu dirayakan oleh buruh, tetapi kemudian kalau dikaji dari segi historis secara akal sehat, May Day buakanlah sebuah perayaan untuk kaum buruh, melainkan hari dimana buruh menuntut sebuah kesejahteraan dari penguasa, salah satu pokok masalah yang diangkat adalah tuntutan pengurangan jam kerja dan kenaikan upah. Dan itu yang perlu diluruskan di mata publik.
Jam kerja yang terlalu lama membuat buruh harus turun ke jalan menuntut kepada penguasa modal agar supaya jam kerja yang terlalu lama bisa dikurangi karena tidak sesuai dengan gajinya, gerakan waktu tersebut pertama kali dikenal di Amerika dengan sebutan gerakan 8 jam kerja.

Jadi sebagai mahasiswa yang masih mengaku memiliki jiwa kritis dan intelektual, saya merasa perlu untuk merespon baik May Day. Bukan hanya dalam bentuk bersolidaritas tetapi juga berjuang bersama kaum buruh, karena tanpa kaum buruh. Kita bukanlah apa-apa.

Selain itu, perlu pula adanya pelurusan makna, bahwa May Day adalah hari kebangkitan kaum buruh yang penuh keringat, air mata dan bahkan pertumpahan darah. Demi memperjuangkan haknya dalam cengkraman kendali modal.

May Day menjadi momentum bersuara bagi buruh terutama di Indonesia. Dari tuntutan awal untuk pengurangan jam kerja 8 jam sehari, ditambah berbagai slogan baru yang penting untuk menyatukan dan memanggil kaum buruh untuk datang berkumpul dan menyatukan suara.

Terkhusus di tahun 2017 ini, ada Isu umum paling hangat yang menjadi masalah rakyat Indonesia diataranya, adanya penerapan sistem magang, jaminan sosial untuk buruh yang tidak diindahkan. Ditengah merajalelanya sistem ekonomi kapitalisme yang semakin menjadi-jadi dan juga mengekang kondisi bangsa Indonesia, mambuat bangsa akan semakin hari semakin merosot, mendekati krisis ekonomi.

May Day merupakan momen untuk perubahan, untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia yang bersatu, adil dan makmur tanpa pemerasan dan penindasa. Apalagi sebagai mahasiswa yang menganggap dirinya agen peubahan atau pengontrol masyarakat. Harus bisa berpikir panjang. Harus berani berbuat untuk kepentingan rakyat, beranjak dari sekian banyaknya problem yang dialami rakyat, masalah agraria, perampasan tanah dan berbagai persoalan lainnya yang masih tidak diindahkan oleh penguasa. Bukan hanya itu, ruang demokrasi rakyat juga sudah mulai dipersempit. Itu semua adalah tugas kita sebagai mahasiswa untuk memperjuangkannya. Sebab mahasiswa bukan hanya pelajar, melainkan juga sebagai pejuang.
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.