Menelusur Pergerakan Mahasiswa Dibalik Degradasi Intelektual

Burhan
"Mahasiswa", siapa yang tidak tercengang saat mendengar kata ini. Bahkan telah mendapat penilaian tersendiri oleh masyarakat, sebagai pemilik kecerdasan (intelektual) yang berjalan dan senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. 

Sekilas, sebutan mahasiswa begitu bergengsi bagi kalangan awam. Agent of change, agent of social control atau moral force adalah beberapa sebutan yang disematkan padanya. Agen pengubah, agen kontrol sosial dan berbagai julukan itu tidak serta merta diberikan begitu saja dengan mudahnya kepada mahasiswa tanpa peran penting yang pernah dilakukannya. Seperti kebangkitan bangsa yang dipelopori oleh para pemuda pada masa pra-kemerdekaan dan sumpah mahasiswa pasca kemerdekaan, serta berbagai perubahan yang dilakukan mahasiswa baik secara langsung maupun yang bertahap.

Runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998, tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut terjadi atas kerjasama yang baik antara mahasiswa dengan seluruh elemen gerakan rakyat untuk menghentikan pembungkaman. Dan ingin berpindah secara kualitatif (reformasi) dari orde yang otoriter menuju era demokrasi.

Keterlibatan mahasiswa dan peran yang diembannya telah memberikan kesaksian kepada mata publik tentang pentingnya semangat dan intelektual dalam bernegara. Tanpa semangat maka intekektual tak berarti, begitupun sebaliknya.

Namun kini bila kita menarik garis history (sejarah), peran pemuda atau mahasiswa memang sangat dibutuhkan dalam pembangunan di setiap bidang kehidupan. Tetapi menjadi miris bila ditinjau dari sisi semangat pemuda dalam tataran intelektualitas serta kepekaan sosial, mahasiswa dulu dengan mahasiswa sekarang sangatlah berbeda.

Dulu mahasiswa mengkonsumsi berpuluh-puluh buku untuk bertaruh gagasan, sekarang banyak yang hanya mengkonsumsi aneka buah dan beragam makanan berlemak sehingga kurang mampu bergerak secara dinamis untuk membawa dan menciptakan suatu perubahan bagi bangsa ini.

Kalau di masa Orde Baru, diskusi dibatasi dan membaca buku tak sembarang, demonstrasi dibubarkan, acara sastra dihentikan dan berbagai macam kegiatan akademis lainnya dikekang. Sekarang zaman digital dan sudah di era demokrasi, tetapi justru tidak direspon dengan positif apalagi dimanfaatkan dengan baik. Malah kalau ada yang meresponnya justru cenderung kepada kepentingan pribadinya.

Selain bermental hedonis dan apatis, mahasiswa juga banyak dilanda oleh wabah oportunisme. Kemalasan yang dipeliharanya sehingga tampak bungkam, atau mengedepankan IPK demi mengejar target untuk kerja kantoran, hanya terfokus pada kemandirian secara finansial dan cenderung mengedepankan materi dan abai kepada realitas sosial saat ini.

Bila oportunis telah menjarah akal sehat, maka hancurlah generasi. Sebab penyakit semacam itu akan menciptakan ketergantungan. Artinya secara tidak langsung akan menambah elit yang sudah kaya juga akan membunuh yang melarat.

Tidak bisa terbantahkan lagi, dan seperti itulah faktanya bahwa bermental hedonisme, apatisme dan oportunisme telah membutakan mata nurani kebanyakan mahasiswa saat ini sehingga lupa tentang pengabdiannya kepada masyarakat, atau penelitiannya yang bersifat akademis apalagi pendidikannya yang memuliakan sesama (humanisme).

Harapan bertumpu pada pergerakan mahasiswa, sebab para politisi pun jarang kita temui yang pro rakyat, yang ada hanya baik dalam teori dan itupun biasanya hanya terhenti sebagai konsep saja tidak sampai dan rampung kepada tahap implementasi, dengan kata lain prakteknya tetap berbentuk elit dan sangat jauh dari kata merakyat.

Berbagai problematika terjadi di negeri ini yanh dialami oleh masyarakat perkotaan dan pedesaan. Tapi yang hadir justru banyak dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dimana peran dan kontribusi para mahasiswa yang fungsinya sebagai agen pengubah itu? Sulit kita temui mahasiswa yang hadir dengan sepenuh hati di tengah permasalahan masyarakat. Hal ini menandakan bahwa mahasiswa lebih banyak memikirkan akademiknya, bergelut di dunia kampus ketimbang berpetualang ke alam persoalan masyarakat pada umumnya.

Tendensi demikianlah yang membuat kita sebagai mahasiswa seolah menjadi dewa, padahal ketika kembali merenungi amanah yang kita pikul ini, bahwa "tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa". Sehingga akan muncul berbagai pertanyaan, pernahkah kita berbuat untuk bangsa? Atau adakah kreativitas kita yang bernilai? Serta bermanfaat kah kita di tengah-tengah masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan tamparan keras bagi kita mahasiswa yang berpikir.

Tentunya kalau mengintip sejarah, lalu menyandingkannya dengan kehidupan mahasiswa saat ini sungguh sangat berbeda jauh, baik dalam segi semangat, pengetahuan dan mentalitas. Secara perlahan terjadi degradasi dalam konsep transformasi ilmu pengetahuan (intelektual) bagi mahasiswa.

Bukan hanya soal mahasiswa, tapi ini menyangkut arah negeri ini ke depannya. Sebab masa depan negeri ini ada di tangan pemuda, generasi penerus perjuangan bagi kemajuan bangsa Indonesia. Jadi tergantung kita mahasiswa atau kawula muda, seharusnya kita penuh dan kaya akan semangat progresif serta mampu berpikir visioner dan menciptakan gebrakan revolusioner, karena mau kita bawa ke mana bangsa ini? Pastinya ke arah yang lebih maju.
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.