Secuil Kata Tentang Sinjai, Pilkada, dan Harapan

(Catatan Memperingati HUT Kabupaten Sinjai ke-453 )
Penulis : Anis Longsor, Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara STISIP Muhammadiyah Sinjai

BUGISWARTA.com, Opini---Politik selalu menjadi isu yang seksi diperbincangkan dari pojok warung kopi biasa hingga di meja-meja restoran mewah, dari media online hingga media cetak. Terlebih jika gerbang pemilihan kian mendekat. Peluang, strategi, adu taktik kampanye menjadi kian santer ditakar, ditelaah, dan dihitung dengan berupa-rupa cara. Pesta demokrasi pun mulai terasa nuansanya. Pertarungan demi kursi nomor satu pun ditabuh dan didendangkan. Sayangnya, demokrasi justru sering kali digunakan untuk memaksakan kehendak pada rakyat yang akhirnya menjadi korban.

Padahal terwujudnya cita-cita demokrasi mensyaratkan keterikatan antara pemimpin dan yang dipimpinnya. Keterikatan yang dimaksud adalah hubungan yang dikuatkan oleh komitmen akan janji politik yang mensejahterahkan dan kesetiaan elit terhadap kepentingan rakyat serta keberanian dalam mengimplementasiakan program harapan tanpa intervensi dari politikus yang ingin mengambil kesempatan meraup keuntungan pribadi. Namun janji sering kali tetaplah janji dan pada akhirnya harapan tak sesuai realita. Sebab janji telah diingkari.

Sayang seribu sayang sebab sebagian besar elit politik tidak memiliki ikatan ini. Rakyat yang sangat berharap para pejabat ini bisa merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik, malah memperburuk keadaan rakyat sendiri.Rakyat menjadi korban janji dan suka atau tidak harus menerimanya.

Hal yang sama bisa jadi akan terulang kembali saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Sinjai 2018 tahun depan. Meski masih setahun lagi, tetapi beberapa pihak semakin ramai meramaikan dan mempromoikan jagoannya. Tentu dengan selentingan kepentingan tertentu. Bahkan tidak jarang mereka beradu argumen, mempertahankan posisi untuk meyakinkan masyarakat luas bahwa calonnyalah yang terbaik, pantas untuk didukung dan cocok untuk membangun daerah. Klaim-klaim tentang kejujuran, amanah, berjuang untuk rakyat, masing-masing semakin masif digembor-gemborkan. Dicetak beratus-ratus jumlahnya lalu dipajang di setiap tempat keramaian. Walau sejujurnya agak mengganjil rasanya ketika sikap bakal calon yang tiba-tiba ramah dan murah senyum saat bertemu tiap warga. Padahal biasanya mereka tutup pintu kaca mobil jauh sebelumnya dan akan melakukan hal yang sama saat menang. Tetapi mereka akan mendadak ramah dan baik lagi ketika hendak mencalonkan diri atau akan mencalonkan seorang yang lain.

Slogan-slogan penuh basa basi dikeluarkan untuk lebih meyakinkan pemilih. Slogan-slogan disertai gambar sang calon dipamerkan dari ujung jalan ke ujung kampung yang lain. Dari sudut kota hingga ke pelosok yang bahkan tak pernah dikunjunginya. Wajah-wajah mereka yang penuh editan photoshop, berpeci jika laki-laki dan berjilbab jika perempuan, memenuhi sepanjang jalan tak putus-putus. Seolah tak ada gambar dan patut ditatap melebihi gambar dirinya. Teknik repetisi atau pengulangan dibuat agar kita dipaksa mengingat wajah dan namanya. Wajah yang penuh kepalsuan dan nama penuh gelar berderet-deret. Beruntung jika gelarnya diraih sungguhan. Bukankah banyak yang “membeli” gelar untuk meyakinkan masyarakat yang sayangnya memang sering masih terpukau dengan daya gelar? Tanpa peduli lagi dengan track and record calon.

Menghadapi musim pilkada sekarang ini -khususnya di Sinjai harusnya dan mesti kita refleksi bagaimana kondisi pilkada lima tahun lalu untuk memperbaiki situasi pembangunan yang akan dijalani lima tahun ke depan. Bukan turut andil dalam permainan politik praktis, berharap proyek untuk keuntungan pribadi dan kelompok, dan mengkritik ketika sistem “bagi-bagi” tidak dipenuhi.. Bukan menjustisfikasi, tapi ketika kita melihat kesadaran massa rakyat, kebanyakan dari mereka justru turutmelanggengkan budaya pembodohan daripada andil memperbaiki bahkan merubah sistem yang ada.

Saya masih teramat percaya kalau yang menyebabkan semua ini adalah sistem yang ada yang sedang sakit di landa penyakit kronis, justru bukan kita yang mengobati malah kita ikut menjaga kesakitan itu. Anehnya kebanyakan dari kita yang mengaku sadar dengan kejahilan pemerintah terhadap pembangunan malah hanya mampu mengkritik tapi tak konsisten. Marah dilain waktu tetapi tetap memilihnya ketika sudah disumbat dengan janji dan uang.

Parahnya lagi, mereka malah mengambil kesempatan meraup keuntungan (biasanya dilakukan oleh mereka yang oportunis untuk melengkapi sifat hedonismenya). Menjaga keegoisan berfikir dengan bekerja sama memupuk kemunafikan sepertinya lebih mudah daripada mempermurah harga pupuk untuk petani.

Harusnya, ketika kita sudah merasakan dan melihat kondisi yang telah menghamparkan dirinya mestilah kita berfikir dialektis berdasarkan masa lalu yang sering di ulang-ulang tiap pilkada bahkan pemilu secara umum. Menjelang Pilkada Sinjai dalam memontum memperingati hari ulang tahunnya saat ini harusnya dijadikan pelajaran untuk mengintropeksi diri tentang keterlibatan kita pada pertarungan-pertarungan politik agar kebiasaan sebelumnya tidak terulang(meminimalisir bahkan menghilangkan praktek money politic).

Harus kita sadari bahwa kerusakan sistem politik yang terjadi secara umum di Indonesia terkhusus di Sinjai karena bukan saja karena kebobrokan budaya politik yang salah tapi jua karena kita yang terus merawatnya. Maka, untuk memperbaiki Sinjai dalam segala aspek haruslah warga Sinjai pandai memilih pemimpin bukan hanya kerena visi dan misinya tapi juga caranya untuk mencapai pucuk pimpinan. Pada akhirnya, mengkritik jangan setengah-setengah dan memberi solusi asal-asalan agar apa yang di inginkan bersama sebagai masyarakat Sinjai dapat tercapai.

Selamat berulang tahun Sinjai, tetaplah bersatu!
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.