Generasi Z : Tantangan Dakwah Era Digital

Oleh : Syamsul Hidayat

Pada tahun 2008, Don Topscott merilis hasil penelitiannya dalam bentuk sebuah buku yang berjudul "Grown Up Digital-How the net generation is changing the world". Dalam buku tersebut, Don Topscott menjelaskan sebuah teori generasi yang terbagi beberapa kategori. 

Salah satu generasi yang dikemukakan oleh Don, adalah sebuah Generasi yang ia sebutkan dengan nama Generasi Z atau yang seringkali dikenal juga dengan beberapa istilah lain semacam "Gen Z" atau "Gen I" yang merujuk pada individu yang lahir antara tahun 1990-an hingga 2000-an. Artinya, generasi ini sekarang telah mulai beranjak dewasa dan menjadi para pelajar yang telah duduk di bangku sekolah menengah. 

Kehadiran Generasi Z sebagai suatu objek dakwah (mad'u) baru merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi para penggiat dakwah dikalangan pelajar. Generasi Z sebagai sebuah kelompok signifikan tentu saja hidup dalam konteks yang jauh berubah.

Mereka merupakan suatu generasi yang digambarkan sebagai sebuah generasi baru yang berisi individu-individu yang lebih pintar, memiliki kecenderungan pengarahan diri (self-directed)  lebih kuat, serta lebih cepat dalam mengolah informasi.

Misalnya dalam dalam bersosialisasi, Generasi Z memiliki karakteristik utama yang sangat menonjol yaitu peri kehidupan mereka yang kebanyakan hidup pada realitas dunia maya atau internet (Internet based).

Interaksi yang mereka lakukan pada umumnya dilakukan di dalam  dunia maya semacam facebook, WA, Line, BBM, dan Instagram melalui perantara perangkat digital seperti komputer, smartphone, gadjed dan sebagainya. Akibatnya, pola interaksi ini berimplikasi pada kepribadian mereka yang cenderung kurang dalam komunikasi verbal, cenderung egosentris dan individualis, menginginkan hasil serba cepat, instan, dan serba mudah, kurang sabaran, dan kurang menghargai proses.

Dengan membaca realitas tersebut, para penggiat dakwah perlu melakukan sebuah desain dakwah yang baru untuk mendekati mereka. Baik dalam metodologi maupun konten dakwah. Berdasarkan karakteristik mereka, salah satu pendekatan dakwah yang baik adalah dengan motivasi. 

Menurut Nasution (1982:77) motivasi memiliki tiga fungsi yaitu ; 

1.Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak motor yang melepas energy; 
2. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai; 
3. Menyeleksi perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. 
Berdasarkan apa yang dikemukakan Nasution tersebut, setidaknya motivasi itu memiliki tiga komponen pokok yaitu menggerakkan, mengarahkan, dan menopang tingkah laku manusia. Sehingga dakwah yang memotivasi adalah Dakwah yang menggerakkan, mengarahkan, dan menopang tingkah laku para objek dakwah.

Untuk mewujudkan suatu desain dakwah yang memotivasi ini. Para penggiat dakwah dituntut untuk memaksimalkan daya kreatif mereka dalam meramu dan menyajikan materi dakwah sebagaimana yang dibutuhkan oleh  mad'u baru tersebut. Sehingga para da'I masa kini harus bertransformasi menjadi da'I digital yang menguasai perangkat-perangkat digital sehingga mereka mampu menciptakan sebuah media (Wasilah) baru dalam berdakwah seperti dakwah dengan menggunakan Vidio/ Film pendek, kata bergambar, dan animasi lainnya yang menarik perhatian para generasi z yang sedang menjalani aktivitasnya di dunia maya. Tidak hanya melalui ceramah dan dakwah verbal semata.‎

(*****)
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.