Aswagino : Kampus Harus Membuka diri Untuk Politik

SIDRAP, Bugiswarta.com -- Di awal tahun 2017 ini suhu perpolitkan di Indonesia mulai memanas, terkhusus di Sul-Sel masyarakat menilai awal tahun ini merupakan pintu masuk dalam menyambut perhelatan akbar dwmokrasinya.

Salah seorang aktivis muda asal Sidrap Aswagino, memberikan pandangannya bahwa Perguruan tinggi/kampus harus lebih berani membuka diri dalam menunjukkan fungsi sosialnya terutama dlam bidang perpolitikan.

"Akhir akhir ini saya menilai kampus seakan menarik diri, masyarakat kampus seolah olah jenuh dan  apatis trhadap dinamika perpolotikan yang ada dilingkungannya, mestinyanya mereka lebih berani terbuka" Kata Aswagino yang juga Mantan Ketua IMM Sidrap

Justru bila sikap apatisme itu mnjadi budaya, problem kita adalah apabila kampus menarik diri jangan heran bila money politik dan segala bentuk dosa politik lainnya itu masih menjadi penyakit dimasyarakat. 

Kampus harus menjadi selektor dan evaluator publik terhadap aktor dan lembaga politik yang ada, apakah itu figur atau pun partai politiknya.

"kampus bisa melakukan fungsi akademiknya untuk menguji dan mngkaji gagasan, ide yg dituang dlam bentuk  proposal politik. Jadi kampus merupakan filter sekaligus mnjadi perisai pertama seblum bahasa dan aksi politiknya dimulai, dengan adanya upaya itu proposal buruk politik tidak akan lolos," Terannya.

Fungsi politik kampus ada disitu,  seperti halnya dinegara negara maju kampus mnjadi wadah pembelajaran dan kompetensi politik yang begitu dewasa dengan membuka ruang debat. Jadi tempat yg dikunjungi pertama oleh para figur dan aktor adalh kampus kampus. Jadi dsitulah  pikiran dan gagasannya itu diuji.  

"Seharusnya kampus kampus kita juga demikian, membuka ruang kompetisi itu agar suhu perpolitikan kita jadi sehat dan lebih teruji, kampus dengan basis disiplin ilmu apa pun itu, baik yang berbasis pendidikan, ekonomi, kesehatan, peetanian dan lain lain" ucap Aswagino yang juga pengurus Lira Sidrap ini.

Jadi itulah peran politik kampus yang kita butuhkan sekarang. Jadi idealisme bagi mahasiswa bukan hanya terbgangun dengan menjauhi atau anti politik. Justru mereka harus berbuat untuk politik. "Sekarang ini, yang idelais adalah yang berbuat" tambah aktivis muda Muhammadiyah ini.

Laporan Usman
Share on Google Plus

About Bugis Warta

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.